Korut Tembakkan 10 Rudal Tak Dikenal ke Laut Jepang, Respons Provokasi Freedom Shield

Bernadette Sariyem

Sabtu, 14 Maret 2026 | 22:30 WIB
Korut Tembakkan 10 Rudal Tak Dikenal ke Laut Jepang, Respons Provokasi Freedom Shield
Ilustrasi - Gambar yang diambil pada tanggal 30 Mei 2024 dan dirilis oleh Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) resmi Korea Utara melalui KNS pada tanggal 31 Mei 2024 menunjukkan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menyaksikan uji coba salvo artileri roket super besar 600mm, di lokasi yang belum dikonfirmasi di Korea Utara. [KCNA VIA KNS/AFP]
  • Korea Utara meluncurkan sepuluh rudal balistik dari Sunan menuju Laut Jepang pada Sabtu (14/3/2026) sebagai respons latihan militer sekutu.
  • Peluncuran rudal masif ini terjadi kontradiktif dengan kabar mengenai potensi dibukanya kembali dialog tingkat tinggi antara Washington dan Pyongyang.
  • Ketegangan diperburuk ancaman konsekuensi mengerikan dari adik Kim Jong Un terkait latihan militer gabungan Freedom Shield.

Suara.com - Eskalasi keamanan di kawasan Asia Timur kembali mencapai titik didih. Pada Sabtu (14/3/2026), Korea Utara dilaporkan menembakkan 10 rudal balistik tak dikenal ke arah Laut Jepang.

Uji coba ini dilakukan hanya berselang beberapa hari, setelah Pyongyang mengeluarkan peringatan keras mengenai "konsekuensi mengerikan" sebagai respons atas latihan militer gabungan antara Korea Selatan dan Amerika Serikat.

Otoritas militer di Seoul mengonfirmasi, aktivitas peluncuran tersebut terdeteksi dari wilayah Sunan, sebuah area strategis di dekat ibu kota Pyongyang, pada siang hari waktu setempat.

Intensitas peluncuran kali ini dinilai cukup masif dibandingkan uji coba rutin biasanya.

"Angkatan bersenjata Koresel mendeteksi 10 rudal balistik tak teridentifikasi diluncurkan dari Sunan, Korut ke Laut Timur, Sabtu sekitar pulul 13.20," kata Kepala Staf Gabungan Korea Selatan (JCS) dalam sebuah pernyataan resmi.

Senada dengan Seoul, Kementerian Pertahanan Jepang juga langsung bersiaga dan memantau pergerakan proyektil tersebut.

Melalui platform media sosial X, pemerintah Jepang memberikan peringatan dini kepada publik dan otoritas pelayaran di kawasan tersebut.

"Peringatan dini! Kemungkinan rudal balistik diluncurkan dari Korea Utara," demikian pengumuman itu.

Sinyal Kontradiktif: Diplomasi Trump vs Gertakan Rudal

Peluncuran rudal dalam jumlah besar ini memicu tanda tanya besar di kalangan pengamat politik internasional.

Pasalnya, aksi militer ini terjadi hanya beberapa jam setelah muncul kabar mengenai kemungkinan dibukanya kembali pintu dialog tingkat tinggi antara Washington dan Pyongyang.

Perdana Menteri Korea Selatan, Kim Min-seok, mengungkapkan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan penilaian positif terkait peluang pertemuan dengan Kim Jong Un.

Amerika Serikat selama beberapa dekade memang memimpin upaya global untuk melucuti program nuklir Korea Utara.

Namun, sejarah mencatat bahwa berbagai sanksi ekonomi, tekanan diplomatik, hingga pertemuan puncak di masa lalu belum mampu menghentikan ambisi nuklir Pyongyang sepenuhnya.

Dalam perkembangan terbaru, pemerintahan Trump disebut-sebut sedang menjajaki kemungkinan untuk menghidupkan kembali pembicaraan formal tahun ini.

Salah satu skenario yang beredar adalah pertemuan puncak yang berpotensi digelar saat kunjungan Trump ke Beijing pada April mendatang.

Kim Min-seok, yang baru saja kembali dari pertemuan dengan Trump di Washington, menyatakan bahwa sang Presiden AS melihat adanya peluang baik dalam komunikasi langsung.

Menurutnya, pertemuan dengan Kim Jong Un akan menjadi sesuatu yang baik dan berpotensi terjadi selama kunjungan Trump ke Beijing yang dimulai akhir Maret.

Trump sendiri, dalam catatan perjalanannya ke Asia pada Oktober lalu, sempat menegaskan bahwa dirinya "100 persen" terbuka untuk bertemu dengan Kim Jong Un.

Meski demikian, pernyataan tersebut sempat tidak mendapat respons berarti dari pihak Korea Utara selama beberapa waktu.

Perubahan sikap mulai terlihat saat Kim Jong Un baru-baru ini menyatakan bahwa kedua negara dapat "hidup berdampingan dengan baik", jika Washington secara resmi mengakui status nuklir Pyongyang—sebuah syarat berat yang selama ini dihindari oleh Gedung Putih.

Ancaman Nyata di Tengah Latihan 'Freedom Shield'

Di balik isu diplomasi yang berembus, situasi di lapangan justru menunjukkan arah sebaliknya. Sejak awal pekan ini, Korea Selatan dan Amerika Serikat memulai latihan militer musim semi berskala besar yang diberi nama Freedom Shield.

Latihan ini melibatkan sekitar 18.000 personel tentara Korea Selatan dan dirancang untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman dari Utara.

Bagi Pyongyang, latihan militer semacam ini bukan sekadar simulasi pertahanan, melainkan provokasi langsung untuk berperang.

Korea Utara yang memiliki senjata nuklir telah lama menyebut latihan militer gabungan tersebut sebagai latihan untuk melakukan invasi.

Ketegangan ini diperparah oleh pernyataan tajam dari Kim Yo Jong, adik perempuan Kim Jong Un yang memiliki pengaruh besar dalam kebijakan luar negeri negara tersebut.

Ia memperingatkan bahwa latihan Freedom Shield yang berlangsung hingga 19 Maret tersebut bisa menjadi pemicu konflik yang lebih luas.

"Latihan gabungan tersebut bisa menimbulkan konsekuensi mengerikan dan tak terbayangkan," katanya.

Kim Yo Jong juga menyoroti bahwa tindakan sekutu dilakukan di tengah kondisi geopolitik dunia yang tidak stabil.

Ia menilai latihan tersebut dilakukan pada saat situasi keamanan global sedang memburuk.

"Ketika keamanan global sedang krisis, perang akan secara cepat pecah di berbagai belahan dunia."

Menurut analisis Kim Yo Jong, ketidakstabilan ini merupakan hasil dari "tindakan ceroboh dari para perusuh internasional yang keterlaluan".

Selain mengarahkan kritik ke Seoul dan Washington, Pyongyang juga memperluas retorikanya dengan mengecam serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Pihak Korea Utara menyebut tindakan tersebut sebagai agresi ilegal dan bukti nyata dari sifat "negara perusuh" yang melekat pada Amerika Serikat.

Hubungan Antar-Korea di Titik Nadir

Peristiwa peluncuran 10 rudal ini semakin mempertegas sikap keras Kim Jong Un terhadap tetangganya di Selatan.

Bulan lalu, Kim telah mengeluarkan pernyataan yang secara efektif memutus hubungan persaudaraan antara kedua negara yang telah terbagi sejak Perang Korea.

"Kami sama sekali tak punya urusan dengan Korsel. Bagi entitas paling bermusuhan, akan secara permanen dikeluarkan dari kategori sesama bangsa," kata Kim Jong Un.

Dengan penghapusan status "sesama bangsa", ruang untuk rekonsiliasi domestik tampaknya telah tertutup, digantikan oleh konfrontasi militer murni.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kisah Unik Pernikahan Mojtaba Khamenei dan Zahra yang Gugur Dibom Israel-AS

Kisah Unik Pernikahan Mojtaba Khamenei dan Zahra yang Gugur Dibom Israel-AS

Lifestyle | Sabtu, 14 Maret 2026 | 20:13 WIB

Dasco Ungkap Pembicaraannya dengan Prabowo soal Strategi 'Take Over' Gaza

Dasco Ungkap Pembicaraannya dengan Prabowo soal Strategi 'Take Over' Gaza

News | Sabtu, 14 Maret 2026 | 18:18 WIB

AS Tawarkan Hadiah Rp169 Miliar untuk Informasi Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei

AS Tawarkan Hadiah Rp169 Miliar untuk Informasi Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei

News | Sabtu, 14 Maret 2026 | 16:05 WIB

Donald Trump Umumkan Pengeboman Terdahsyat dalam Sejarah Timur Tengah, Kilang Iran Dilindungi

Donald Trump Umumkan Pengeboman Terdahsyat dalam Sejarah Timur Tengah, Kilang Iran Dilindungi

Tekno | Sabtu, 14 Maret 2026 | 16:07 WIB

Serangan Brutal AS-Israel Sengaja Targetkan Anak-anak, Kemenkes Iran Rilis Data Mengerikan

Serangan Brutal AS-Israel Sengaja Targetkan Anak-anak, Kemenkes Iran Rilis Data Mengerikan

News | Sabtu, 14 Maret 2026 | 12:34 WIB

AS Serang Jantung Ekonomi Iran di Pulau Kharg, Harga Minyak Capai 150 dolar AS per Barel?

AS Serang Jantung Ekonomi Iran di Pulau Kharg, Harga Minyak Capai 150 dolar AS per Barel?

Bisnis | Sabtu, 14 Maret 2026 | 10:34 WIB

Isu Sanksi AS Usai Indonesia Borong Rudal BrahMos Rp 5,9 Triliun, Pakar Buka Suara

Isu Sanksi AS Usai Indonesia Borong Rudal BrahMos Rp 5,9 Triliun, Pakar Buka Suara

News | Sabtu, 14 Maret 2026 | 10:21 WIB

Film We, Everyday: Tiga Sahabat dan Segitiga Cinta yang Menggemaskan

Film We, Everyday: Tiga Sahabat dan Segitiga Cinta yang Menggemaskan

Your Say | Sabtu, 14 Maret 2026 | 11:00 WIB

Terkini

Peneliti UGM Pastikan Api di Rumah Sleman Bukan dari Gas Alam, Lalu Apa Pemantiknya?

Peneliti UGM Pastikan Api di Rumah Sleman Bukan dari Gas Alam, Lalu Apa Pemantiknya?

News | Sabtu, 13 Juni 2026 | 16:35 WIB

Turun ke Posko dan SMAN 3 Semarang, Ahmad Luthfi Pastikan SPMB Jateng Berjalan Lancar

Turun ke Posko dan SMAN 3 Semarang, Ahmad Luthfi Pastikan SPMB Jateng Berjalan Lancar

News | Sabtu, 13 Juni 2026 | 16:05 WIB

Siapa ANH? Pria yang Ditetapkan Sebagai Tersangka karena Bawa Bom Molotov saat Demo 12 Juni

Siapa ANH? Pria yang Ditetapkan Sebagai Tersangka karena Bawa Bom Molotov saat Demo 12 Juni

News | Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:51 WIB

Peneliti UGM Tamatkan Misteri Rumah Api di Sleman: Bukan Dipicu Gas Alam atau Medan Elektromagnetik

Peneliti UGM Tamatkan Misteri Rumah Api di Sleman: Bukan Dipicu Gas Alam atau Medan Elektromagnetik

News | Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:16 WIB

BGN Tegaskan Tuduhan Pembagian Dana MBG kepada Presiden adalah Hoaks

BGN Tegaskan Tuduhan Pembagian Dana MBG kepada Presiden adalah Hoaks

News | Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:58 WIB

Saran Connie Bakrie ke Prabowo: Suruh Teddy Libur Dulu, Saatnya Dengar Orang-orang Berpengalaman

Saran Connie Bakrie ke Prabowo: Suruh Teddy Libur Dulu, Saatnya Dengar Orang-orang Berpengalaman

News | Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:15 WIB

Peringatan Fernando Emas: Waspada Reformasi 1998 Jilid II

Peringatan Fernando Emas: Waspada Reformasi 1998 Jilid II

News | Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:30 WIB

DPR Khawatir Stok Pertalite Jebol Akibat Migrasi Pengguna Pertamax

DPR Khawatir Stok Pertalite Jebol Akibat Migrasi Pengguna Pertamax

News | Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:05 WIB

Connie Bakrie Sebut IKN Sekarang Kalah Tenar Sama Program MBG Rp1 Triliun Per Hari

Connie Bakrie Sebut IKN Sekarang Kalah Tenar Sama Program MBG Rp1 Triliun Per Hari

News | Sabtu, 13 Juni 2026 | 12:06 WIB

Tunjangan Guru Naik, Komisi X DPR Beri Jempol Tapi Kasih Catatan Penting Ini

Tunjangan Guru Naik, Komisi X DPR Beri Jempol Tapi Kasih Catatan Penting Ini

News | Sabtu, 13 Juni 2026 | 11:51 WIB