-
Iran berencana mewajibkan penggunaan Yuan China untuk kapal tanker yang melewati Selat Hormuz.
-
Harga minyak dunia melonjak drastis hingga US$100 per barel akibat ketegangan di Timur Tengah.
-
Stok rudal pencegat Israel dilaporkan menipis kritis di tengah gempuran misil klaster Iran.
Di sisi lain, sekutu utama Amerika Serikat, yakni Israel, dilaporkan tengah menghadapi kendala serius pada sistem pertahanannya.
Militer Israel atau IDF dikabarkan mulai kehabisan stok rudal pencegat yang sangat dibutuhkan untuk menghalau serangan balistik.
Seorang pejabat tinggi dari Washington mengungkapkan bahwa Tel Aviv telah melaporkan kondisi krisis persediaan senjata tersebut pekan ini.
"Ini sesuatu yang sudah kami perkirakan sebelumnya," kata pejabat tersebut kepada Semafor, Minggu (15/3).
Pihak Amerika Serikat sebenarnya sudah memantau menipisnya cadangan senjata Israel ini sejak beberapa bulan yang lalu.
Faktanya, Israel memulai konfrontasi ini dengan kondisi gudang senjata yang memang tidak dalam keadaan terisi penuh.
Banyak cadangan rudal pencegat yang sudah terkuras habis saat menghadapi rentetan serangan pada musim panas tahun lalu.
Meskipun stok domestik Amerika dinyatakan aman, namun belum ada kepastian mengenai rencana penjualan tambahan ke pihak Israel.
Langkah pengiriman bantuan senjata dikhawatirkan akan mengganggu kesiapan tempur dan stok nasional milik Amerika Serikat sendiri.
Baca Juga: Tanda-tanda Perang AS - Israel vs Iran Berakhir versi Donald Trump
Lembaga CSIS mencatat bahwa Amerika telah meluncurkan lebih dari 150 rudal pencegat dari sistem THAAD selama perang berlangsung.
Jumlah tersebut setara dengan seperempat dari total seluruh persediaan rudal pertahanan yang dimiliki oleh Pentagon saat itu.
Bahkan penggunaan sistem Patriot dalam lima hari pertama perang telah menelan biaya fantastis mencapai angka Rp40,7 triliun.
Guna mengatasi kelangkaan ini, Pentagon dilaporkan telah menginstruksikan percepatan produksi massal untuk komponen sistem pertahanan udara THAAD.
Tekanan terhadap Israel semakin berat setelah Iran mulai menggunakan teknologi munisi klaster pada hulu ledak misil jarak jauh mereka.
Penggunaan bomblets dalam jumlah banyak dari satu rudal utama memaksa sistem pertahanan bekerja jauh lebih keras dari biasanya.