- Rismon Hasiholan Sianipar yang sebelumnya kritis terhadap Jokowi kini merapat ke kubu mantan presiden tersebut, memicu polemik di kalangan aktivis.
- Aktivis senior Zulkifli S Ekomei menilai langkah itu bukan pembelotan, melainkan bagian dari skenario penyusupan yang sejak awal dijalankan oleh Rismon.
- Ia juga mengingatkan para aktivis agar lebih berhati-hati menerima orang baru dalam gerakan serta berharap barisan oposisi tetap kuat meski menghadapi kemunduran.
Suara.com - Keputusan pakar forensik digital Rismon Hasiholan Sianipar yang tiba-tiba berbalik arah merapat ke kubu mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) masih menyisakan tanda tanya besar di kalangan publik.
Namun bagi Aktivis Senior Kebangsaan, Dr. Zulkifli S Ekomei, manuver tersebut bukanlah sebuah pembelotan. Ia justru menilai langkah Rismon merupakan bagian dari skenario penyusupan tingkat tinggi yang telah berhasil dijalankan.
Zulkifli bahkan secara tegas menolak penggunaan istilah “membelot” untuk menggambarkan sikap Rismon saat ini. Menurutnya, Rismon sejak awal memang merupakan orang yang ditanam oleh pihak lawan di dalam barisan aktivis.
“Jangan. Saya gak suka dengan kata membelot. Dia kembali pulang kampung. Dia kembali ke asalnya, sukses untuk tugas yang ini,” tegas Zulkifli dalam kanal YouTube Forum Keadilan TV, Senin (16/3/2026).
Keraguan pada Proses Hukum
Zulkifli juga meragukan efektivitas hukum apabila Rismon kelak diproses terkait dugaan kasus ijazah palsu miliknya sendiri.
Menurutnya, jika pun Rismon ditangkap, hal tersebut hanya akan menjadi tontonan publik semata, sementara di balik layar ia diyakini tetap akan dilindungi.
“Katakan dia ditangkap pun dengan kasus kepalsuan yang itu kematian dan lain-lain. Ditangkap dia pasti misalnya, tapi di dalam apa? Dia pasti diamankan juga,” ungkapnya.
Pelajaran bagi Kubu Roy Suryo
Baca Juga: Komisi III DPR Desak Polri Usut Tuntas Penyerangan Andrie Yunus, Minta Kemenkes Tanggung Pengobatan
Zulkifli menilai manuver Rismon memang membuat kelompok aktivis, termasuk kubu Roy Suryo, terlihat kecolongan. Meski demikian, ia tetap menghargai niat dan perjuangan mereka.
Ia menegaskan bahwa kejadian ini harus dijadikan pelajaran penting dalam dunia pergerakan.
Menurutnya, rekam jejak seseorang harus menjadi pertimbangan utama sebelum menerima seseorang dalam barisan perjuangan.
Zulkifli mengingatkan agar para aktivis tidak mudah percaya hanya karena seseorang terlihat memiliki narasi yang sejalan.
Mengutip ucapan almarhum budayawan Betawi Ridwan Saidi, ia mengingatkan tentang fenomena “kutu loncat” dalam dunia politik.
“Almarhum Bang Ridwan Saidi pernah ngomong, ‘Jangan zuhur jadi pejabat negara, asar sudah jadi oposisi.’ Ya kan? Ini kan mesti ada sesuatu memang dia benar-benar sadar menjadi oposisi membawakan kebenaran atau bagian dari tugas, kan kita gak tahu,” tuturnya.