- Penelitian MIT mengungkap penguraian plastik biodegradable memerlukan kolaborasi kompleks berbagai mikroorganisme laut.
- Proses penguraian plastik bergantung pada jenis plastik dan komunitas mikroba spesifik di lingkungan tempatnya berada.
- Temuan ini membuka peluang merancang material plastik baru yang lebih mudah terurai memanfaatkan kerja sama mikroba alami.
Suara.com - Di tengah krisis sampah plastik yang terus menumpuk dan mencemari lingkungan, plastik biodegradable sering disebut sebagai solusi. Harapannya sederhana: plastik bisa terurai lebih cepat dan tidak membebani alam dalam jangka panjang.
Namun, realitasnya tidak sesederhana itu. Hingga kini, ilmuwan masih belum benar-benar tahu berapa lama plastik jenis ini bertahan di lingkungan, dan bagaimana proses penguraiannya terjadi secara alami.
Masalah utamanya terletak pada kurangnya pemahaman tentang peran mikroba. Selama ini, banyak penelitian hanya melihat satu jenis bakteri dalam proses penguraian plastik.
Padahal di alam, proses tersebut melibatkan banyak mikroorganisme yang bekerja bersama dalam sebuah sistem yang kompleks. Tanpa memahami interaksi ini, sulit memastikan apakah plastik biodegradable benar-benar lebih ramah lingkungan dalam praktiknya.
Penelitian terbaru dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) mencoba menjawab celah pengetahuan ini. Para peneliti menelusuri bagaimana bakteri laut bekerja sama untuk mengurai salah satu jenis plastik biodegradable yang umum digunakan, seperti kantong belanja dan kemasan makanan. Hasilnya menunjukkan bahwa tidak ada satu bakteri pun yang mampu menyelesaikan seluruh proses penguraian sendirian.
Dalam studi tersebut, satu jenis bakteri ditemukan mampu memecah plastik menjadi senyawa kimia dasar. Namun, proses tidak berhenti di situ.
Senyawa-senyawa ini kemudian dikonsumsi oleh bakteri lain yang memiliki fungsi berbeda. Artinya, penguraian plastik adalah proses kolaboratif—mirip kerja tim—di mana setiap mikroba memiliki peran spesifik.
Temuan ini memberi nuansa penting dalam diskusi tentang plastik biodegradable. Kecepatan penguraian ternyata sangat bergantung pada dua hal: jenis plastik itu sendiri dan komunitas mikroba di lingkungan tempat plastik tersebut berada.
Dengan kata lain, plastik yang mudah terurai di satu tempat belum tentu terurai dengan cepat di tempat lain.
Meski demikian, hasil riset ini membuka jalan menuju solusi yang lebih konkret. Dengan memahami “peta kerja” mikroba, ilmuwan berpotensi merancang plastik yang lebih mudah diurai oleh bakteri yang umum ditemukan di alam.
Bahkan, ada peluang untuk mengembangkan sistem daur ulang berbasis mikroba, di mana sampah plastik tidak hanya diurai, tetapi juga diubah menjadi bahan baru yang berguna.
Langkah ini masih awal dan memiliki keterbatasan—misalnya, bakteri yang diteliti berasal dari lingkungan laut tertentu dan belum tentu mewakili kondisi global.
Namun, pendekatan ini menunjukkan arah baru mengatasi krisis plastik tidak cukup hanya dengan mengganti bahan, tetapi juga dengan memahami dan memanfaatkan proses alami yang sudah ada.
Pada akhirnya, solusi terhadap sampah plastik membutuhkan kombinasi antara inovasi material, sistem pengelolaan yang lebih baik, dan pemahaman ilmiah yang mendalam.
Penelitian ini menjadi pengingat bahwa di balik persoalan besar seperti polusi plastik, ada mekanisme kecil di tingkat mikroba yang justru bisa menjadi kunci perubahan.