- Aktivis senior Bambang Beathor Suryadi mengkritik Rismon Sianipar karena diduga terjebak strategi politik "pukul rangkul" penguasa.
- Beathor menyayangkan Roy Suryo dan Rismon dinilai terlalu fokus menerbitkan buku daripada mengejar substansi hukum kasus tersebut.
- Rismon Sianipar kini terlihat berupaya mencari penyelesaian damai melalui Restorative Justice (RJ) di luar prosedur hukum formal.
Suara.com - Aktivis senior Bambang Beathor Suryadi memberikan komentar menohok terkait perubahan sikap pakar digital forensik sekaligus akademisi, Rismon Hasiholan Sianipar, dalam pusaran isu dugaan ijazah palsu mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Beathor menilai adanya pergeseran integritas aktivis yang terjebak dalam strategi politik “pukul rangkul”.
Beathor menyebut bahwa Jokowi kerap menggunakan strategi politik yang sistematis terhadap lawan-lawannya.
“Jadi dalam politik kan banyak strategi. Jadi mereka terjebak bahwa Jokowi itu sedang melaksanakan strategi pukul rangkul. Jadi dia gunakan Polda pukul semua delapan orang itu dipukul terus dirangkul,” ujar Beathor dalam kanal YouTube Forum Keadilan TV, Rabu (18/3/2026).
Menurutnya, aparat penegak hukum digunakan untuk “memukul” pihak-pihak yang kritis, namun setelahnya akan ada upaya untuk “merangkul” sebagian dari mereka guna meredam gejolak.
Kritik terhadap Fokus Roy Suryo dan Rismon
Beathor menyayangkan sikap Roy Suryo dan Rismon Sianipar yang dianggapnya terlalu sibuk mengurus penerbitan buku daripada mengejar substansi hukum.
Ia menilai momentum untuk membongkar kasus ini sebenarnya sudah ada saat Roy Suryo berdialog dengan seseorang dari “Tim Solo” yang memiliki latar belakang di Pasar Pramuka.
“Awalnya, kalau sekiranya kemarin itu mereka tidak terlalu sibuk mengurusin buku, sebenarnya mereka sudah menang. Jadi pada waktu ada dialog Roy Suryo dengan seseorang yang disebut timnya Jokowi, tim Solo, sebenarnya Roy Suryo sudah menang cuman tidak dikejar malah lari bikin buku,” ungkapnya.
Ia juga mengaitkan hal ini dengan peristiwa tahun 2015, di mana terjadi penggerebekan sindikat pemalsu dokumen di Pasar Pramuka yang menyeret delapan orang ke penjara. Ia berpendapat bahwa fokus investigasi seharusnya diarahkan pada verifikasi dokumen di KPU, bukan sekadar mendiskusikan buku di berbagai platform media.
Lebih lanjut, Beathor menyoroti keretakan hubungan antara Rismon Sianipar dan Roy Suryo. Ia mengungkapkan adanya video di mana Rismon mulai menyerang kualitas intelektual Roy Suryo terkait penyusunan buku Jokowi White Paper.
“Saya dapat video juga Rismon menjelaskan Roy cuman bikin 50 halaman dari buku dia hanya pengantar Jokowi itu. Jadi kan Jokowi white paper itu ya. Jadi Rismon membongkar kualitasnya Roy,” ungkapnya.
Fenomena ‘Minta Dirangkul’
Hal yang paling disoroti Beathor adalah perubahan sikap Rismon yang kini terkesan melunak dan mencari jalan damai melalui mekanisme Restorative Justice (RJ). Berbeda dengan strategi “merangkul” yang biasanya diinisiasi oleh pihak penguasa, Beathor melihat Rismon justru yang aktif mendekat.
“Saya melihat bahwa Rismon berusaha mendapatkan RJ segala macam. Dia memaksa untuk dirangkul. Jadi dalam politik itu pukul rangkul, tapi ini Rismon setelah dipukul dia minta dirangkul. Jadi bukannya orang sana yang menawarkan biasanya kan sana yang merangkul, kalau ini minta dirangkul,” ujarnya.
Terkait upaya Restorative Justice yang disebut-sebut dilakukan di kediaman pribadi Jokowi, Beathor meragukan keabsahan hukumnya. Ia menegaskan bahwa prosedur hukum yang sah seharusnya dilakukan di kantor polisi, bukan di ruang privat.
“Kalau itu di rumahnya Jokowi, rumah Jokowi kan bukan kantor polisi. Terus kalau dia melakukan ini, melakukan itu di situ, itu enggak ada artinya apa-apa,” pungkasnya.