- Laporan Aéro Décarbo dan The Shift Project menyoroti keterbatasan produksi Sustainable Aviation Fuels (SAF).
- Produksi SAF membutuhkan energi listrik sangat besar, setara sepertiga total listrik dunia saat ini.
- Para peneliti menyimpulkan pengurangan lalu lintas penerbangan adalah cara realistis menekan emisi jangka pendek.
Suara.com - Upaya mengganti bahan bakar pesawat berbasis fosil dengan alternatif ramah lingkungan ternyata tidak semudah yang dibayangkan.
Sebuah laporan terbaru menyebut, kebutuhan energi untuk menggantikan seluruh bahan bakar jet di dunia dengan bahan bakar bersih bisa mencapai sepertiga dari total listrik yang saat ini diproduksi di seluruh dunia, dan itu pun belum cukup untuk memenuhi pertumbuhan industri penerbangan.
Laporan yang disusun oleh Aéro Décarbo bersama The Shift Project ini menyoroti keterbatasan bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau Sustainable Aviation Fuels (SAF).

Selama ini, SAF dianggap sebagai solusi utama untuk menekan emisi karbon di sektor penerbangan.
Namun, para peneliti menilai produksi SAF tidak akan mampu mengejar laju pertumbuhan lalu lintas penerbangan. “SAF sangat penting untuk dekarbonisasi penerbangan, tetapi tidak akan tersedia cukup cepat untuk menurunkan emisi dalam jangka pendek dan menengah,” tulis laporan tersebut.
Saat ini, sektor penerbangan menyumbang sekitar 2 hingga 3 persen emisi karbon global, dan angkanya terus meningkat seiring bertambahnya jumlah penerbangan. Di sisi lain, industri ini termasuk yang paling sulit untuk didekarbonisasi.
Secara umum, SAF terbagi menjadi dua jenis. Pertama, bioSAF yang berasal dari bahan biologis seperti limbah pertanian atau minyak goreng bekas. Kedua, e-SAF yang dibuat dari hidrogen dan karbon dioksida dengan bantuan listrik.
Kedua jenis ini memiliki tantangan masing-masing. BioSAF terbatas oleh ketersediaan bahan baku seperti lahan dan air, serta berpotensi bersaing dengan kebutuhan pangan. Sementara itu, e-SAF sangat bergantung pada ketersediaan listrik dalam jumlah besar.
Salah satu penulis laporan, Loïc Bonifacio, menjelaskan bahwa kebutuhan listrik untuk memproduksi bahan bakar sintetis sangat besar. “Untuk menggantikan konsumsi bahan bakar jet global saat ini, dibutuhkan sekitar 10.000 terawatt-jam listrik per tahun, atau sekitar sepertiga produksi listrik dunia,” ujarnya.
Bahkan dengan skenario paling optimistis, emisi dari sektor penerbangan diperkirakan hanya turun sekitar 9 persen hingga tahun 2050—jauh dari target pengurangan emisi yang ditetapkan dalam Paris Agreement.
Dalam kondisi ini, laporan menyimpulkan bahwa satu-satunya cara realistis untuk menekan emisi adalah dengan mengurangi jumlah penerbangan, setidaknya untuk sementara waktu. “Selama SAF belum tersedia dalam jumlah besar, kita perlu mengurangi lalu lintas udara,” kata Bonifacio.
Peneliti memperkirakan, untuk menjaga kenaikan suhu global tetap terkendali, jumlah penerbangan dunia perlu dikurangi setidaknya 15 persen dalam lima tahun ke depan. Bahkan, untuk target yang lebih ambisius, pengurangan bisa mencapai 60 persen pada 2035.
Temuan ini juga menyoroti ketimpangan dalam penggunaan transportasi udara. Data menunjukkan hanya sekitar 11 persen populasi dunia yang pernah naik pesawat, dan 1 persen di antaranya menyumbang setengah dari total emisi penerbangan.
Dengan berbagai keterbatasan tersebut, para peneliti menilai penting bagi pemerintah dan industri untuk mulai memikirkan ulang kebijakan transportasi udara. Termasuk di antaranya meninjau kembali ekspansi bandara dan promosi perjalanan udara, setidaknya sampai solusi energi bersih benar-benar siap digunakan secara luas.