- Netanyahu tegaskan posisi Israel bekerja membawa kemajuan signifikan bagi negaranya dan dampak bagi Iran.
- Komentar Netanyahu muncul setelah Trump tunda serangan 120 jam meski mengklaim telah ada pembicaraan baik.
- Iran membantah keras klaim pembicaraan dengan Washington, menyebutnya strategi politik serta indikasi kemunduran AS.
Suara.com - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akhirnya angkat bicara setelah Presiden AS, Donald Trump menyatakan soal negosiasi dengan Iran.
Netanyahu menegaskan posisi negaranya dengan penuh keyakinan di tengah ketidakpastian diplomatik yang kian memanas.
Berbicara di parlemen, Netanyahu merespons desakan anggota parlemen Boaz Bismuth yang meminta Israel kembali menggagalkan kesepakatan buruk dengan Iran.
“Kami sedang bekerja membawa Israel ke tempat yang belum pernah dicapai, dan Iran ke tempat yang belum pernah mereka rasakan,” tegas Netanyahu dilansir dari laporan media Israel, Channel 14.
Netanyahu menambahkan dengan nada percaya diri, “Mereka di bawah, kami di atas.”
![Dua pemimpin yang jadi pelopor serangan brutal kepada Iran, Donald Trump dan Benjamin Netanyhau tengah dihadapkan masalah pelik di dalam negeri. [White House]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/13/94681-trump-netanyahu.jpg)
Komentar Netanyahu muncul hanya beberapa saat setelah Donald Trump mengumumkan penundaan serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama 120 jam.
Trump sebelumnya mengklaim telah terjadi pembicaraan yang baik dan produktif untuk mengakhiri konflik.
Namun klaim tersebut langsung dibantah oleh pihak Iran. Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan,
“Tidak ada pembicaraan antara Teheran dan Washington,” seraya menyebut pernyataan Trump sebagai bagian dari strategi politik dan militer.
Sumber yang dekat dengan Teheran bahkan menegaskan,
“Tidak ada komunikasi dengan Trump, tidak secara langsung maupun melalui perantara.”
Mereka juga mengklaim AS mundur karena takut terhadap balasan Iran yang akan menargetkan infrastruktur energi di kawasan.
Sementara itu, juru bicara keamanan nasional Iran Ebrahim Rezaei menyatakan, “Trump dan Amerika Serikat kembali mundur. Ini bukti keberhasilan strategi kami.”
Ketegangan meningkat setelah ultimatum Trump agar Iran membuka Selat Hormuz dalam 48 jam atau menghadapi serangan.
Iran merespons dengan ancaman keras terhadap infrastruktur kritis milik AS dan sekutunya.