- Iran melancarkan serangan balasan dahsyat yang menargetkan kota Dimona dan Arad di Israel.
- PM Netanyahu bereaksi dengan menyebutnya "malam yang sangat sulit" dan menuduh Iran sengaja menargetkan warga sipil, sebuah sikap yang dinilai "playing victim".
- Para analis politik menyebut seruan Netanyahu sebagai contoh nyata politik kemunafikan, mengingat rekam jejak operasi militer Israel di Gaza dan Lebanon.
Suara.com - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang menjadi arsitek serangan yang mengubah kawasan Timur Tengah menjadi ladang darah, kini mendadak berteriak meminta pertolongan dunia.
Sikap ini muncul setelah negaranya merasakan langsung balasan dahsyat dari Iran yang sukses menargetkan kota Dimona dan Arad, sebagaimana dikutip media Turki, Haberler, Selasa (24/3/2025).
Netanyahu kini memainkan peran sebagai korban (playing victim) dengan menuduh Iran secara sengaja menargetkan warga sipil, sebuah narasi yang sangat kontras dengan tindakan militernya sendiri selama ini.
Operasi pembalasan intensif yang dilancarkan Teheran untuk menargetkan sasaran-sasaran strategis di Israel tadi malam sukses mengguncang keseimbangan di kawasan tersebut.
Serangan Iran yang mengubah kota Dimona dan Arad menjadi puing-puing digambarkan secara langsung oleh Netanyahu sebagai "malam yang sangat sulit."
Di tengah suasana panik yang menyelimuti pemerintahan Tel Aviv, Netanyahu yang sebelumnya mengabaikan hak hidup anak-anak, orang tua, dan keluarga, kini justru menggunakan isu tersebut sebagai tameng politik.
Pemerintahan Netanyahu yang telah secara sistematis melakukan penghancuran di Jalur Gaza, menargetkan setiap titik mulai dari pemukiman sipil hingga tempat ibadah, tiba-tiba saja teringat akan "hak asasi manusia".
Pemimpin Israel yang kerap mengabaikan hak hidup anak-anak dan lansia dalam serangannya sendiri, kini mengklaim bahwa rudal Iran sengaja menargetkan warga sipil dan meminta bantuan komunitas internasional.
Dalam pengumuman resminya, Netanyahu secara langsung menargetkan Iran dan menggunakan bahasa yang sangat keras untuk menarik simpati global.
"Iran sekali lagi telah membuktikan diri sebagai musuh peradaban dan ancaman bagi dunia bebas dalam 48 jam terakhir. Iran menargetkan area sipil, niat mereka adalah membunuh warga sipil," kata Benjamin Netanyahu.
"Mereka menargetkan anak-anak, keluarga, dan orang tua dengan rudal teroris, mengancam situs-situs suci Yerusalem, meluncurkan rudal jarak jauh, dan mencoba memeras dunia melalui Selat Hormuz. Saya bertanya kepada para pemimpin dunia bebas: Apa yang kalian tunggu? Israel berjuang bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk kalian semua," tegasnya.
Namun, teriakan Netanyahu yang kini berbicara tentang perlindungan situs suci dan hak asasi manusia justru tidak mendapat respons positif di mata opini publik dunia.
Para analis politik mencatat perubahan sikap pemerintah Israel yang mengabaikan nilai-nilai suci dan kehidupan sipil dalam operasinya sendiri, menjadi peran "korban" ketika diserang sebagai contoh paling nyata dari politik kemunafikan.