-
Iran memilih strategi perang pelemahan demi menjaga stabilitas rezim pasca kematian pemimpinnya.
-
Kehilangan banyak tokoh kunci tidak menyurutkan ambisi Teheran untuk memperluas target serangan global.
-
Perpanjangan durasi konflik digunakan sebagai alat negosiasi dan restrukturisasi komando militer internal.
Suara.com - Struktur kekuasaan tertinggi di Iran saat ini tengah berada dalam guncangan yang sangat hebat.
Kehilangan sosok Pemimpin Tertinggi menjadi hantaman telak bagi stabilitas politik di negara tersebut.
Publik kini mempertanyakan keberadaan Mojtaba Khamenei yang dijadwalkan menjadi penerus takhta ayahnya.
Sosok tersebut tidak lagi menampakkan diri di hadapan khalayak sejak insiden maut yang merenggut nyawa sang ayah.
Kondisi ini memicu spekulasi besar mengenai siapa individu yang sebenarnya memegang kendali pemerintahan saat ini.
Daftar kerugian Iran semakin panjang dengan tewasnya Ali Larijani yang dikenal sebagai otak strategi perang.
Kematian Larijani sebagai pengambil keputusan de facto meninggalkan lubang besar dalam manajemen konflik mereka.
Sektor pertahanan, intelijen, hingga keamanan nasional turut kehilangan figur-figur senior dalam waktu singkat.
Bahkan, sejumlah komandan paling berpengaruh di Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dilaporkan telah gugur.
Kendati kepemimpinan mereka seolah telah dipenggal, Teheran justru menunjukkan tanda-tanda enggan untuk mundur.
Iran kini lebih memilih untuk memberikan sinyal kuat akan kesediaan mereka memperlama durasi peperangan.
Keyakinan mereka bukan terletak pada kemenangan cepat, melainkan pada ketahanan jangka panjang yang melelahkan lawan.
Provokasi terbaru muncul dari seorang komandan senior Iran yang memperingatkan perluasan jangkauan serangan mereka.
Ia menyebutkan bahwa bahkan “taman, area rekreasi, dan tempat wisata” dapat menjadi sasaran militer di masa depan.
Pernyataan yang dikutip oleh Al Jadeed Lebanon ini menandakan pergeseran target ke arah objek non-militer.