- Media Iran mengejek Presiden Trump sebagai "Pinocchio" karena mengklaim adanya negosiasi damai yang dibantah keras oleh Teheran.
- Juru bicara militer Iran, Zolfaqari, menyindir klaim diplomasi Washington sebagai negosiasi sepihak dengan diri sendiri.
- Sebuah proposal 15 poin AS dikirim lewat mediator seperti Pakistan dan Turki meskipun Iran menolak dialog langsung.
"Jangan sebut kegagalan Anda sebagai sebuah kesepakatan," tegasnya.
Zolfaqari bahkan mempelesetkan slogan populer Trump saat menjadi bintang reality show untuk menyerang balik sang presiden dengan kalimat, "Trump, Anda dipecat!".
Menurutnya, tidak akan ada stabilitas atau kembalinya harga minyak ke level normal di kawasan tersebut "Sampai kehendak kami terlaksana".
Klaim Bertolak Belakang dari Gedung Putih
Di sisi lain, Donald Trump tetap percaya diri dengan klaimnya saat berbicara di hadapan wartawan di Gedung Putih.
Ia bersikeras Washington sedang menjalin kontak dengan pihak-pihak yang tepat di Iran. Trump bahkan menyebut bahwa Teheran sangat putus asa untuk mencapai kesepakatan baru.
"Mereka berbicara dengan kami, dan mereka masuk akal," klaim Trump.
Pernyataan ini menandai pergeseran drastis dari nada bicaranya beberapa hari sebelumnya, di mana ia mengancam akan meluluhlantakkan infrastruktur energi Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka sepenuhnya bagi kapal-kapal negara musuh.
Ketidaksinkronan informasi ini menciptakan kebingungan total di Teheran. Mohamed Vall dari Al Jazeera melaporkan bahwa terjadi anomali informasi antara apa yang dibicarakan Trump dengan realitas politik di Iran.
Menurutnya, ada kegelapan total dalam status negosiasi tersebut di mata publik Iran, yang justru menunjukkan situasi yang sangat aneh dan penuh tanda tanya.
Peran Mediator di Balik Layar
Meskipun Teheran membantah adanya dialog langsung, laporan dari The Wall Street Journal menyebutkan adanya proposal perdamaian 15 poin yang dikirim AS melalui perantara.
Rencana tersebut kabarnya menuntut Iran untuk membongkar tiga situs nuklir utama, menghentikan pengayaan uranium, serta mengakhiri dukungan terhadap sekutu regional. Sebagai imbalannya, sanksi nuklir akan dicabut dan AS akan membantu program nuklir sipil Iran.
Pakistan dan Turki muncul sebagai kandidat kuat mediator. Duta Besar Iran untuk Pakistan, Reza Amiri Moghadam, memberikan klarifikasi mengenai posisi diplomatik saat ini.
"Berdasarkan informasi saya, bertentangan dengan klaim Trump, tidak ada negosiasi langsung atau tidak langsung yang terjadi antara kedua negara sejauh ini," jelasnya.