- Sekjen PBB Antonio Guterres menyatakan konflik Timur Tengah telah di luar kendali sejak lebih tiga pekan berlangsung.
- Guterres mendesak penghentian eskalasi konflik dan dimulainya kembali jalur diplomasi berdasarkan hukum internasional.
- Ketegangan meningkat pasca serangan AS-Israel ke Iran dan balasan Iran yang mengganggu jalur energi Selat Hormuz.
Suara.com - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, menyatakan konflik di kawasan Timur Tengah kini telah berada pada titik yang mengkhawatirkan dan sulit dikendalikan.
Ia menilai konflik sudah berada di luar batas dan tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
"Lebih dari tiga pekan berlalu, perang sudah di luar kendali. Konflik telah melampaui batas-batas, yang bahkan tak pernah dibayangkan oleh para pemimpin," kata Guterres saat konferensi pers Dewan Keamanan (DK) PBB, Rabu (25/3/2026), dilansir dari Sputnik.
Ia menegaskan bahwa situasi saat ini menuntut penghentian eskalasi serta dimulainya kembali jalur diplomasi, dengan tetap menjunjung tinggi hukum internasional.
"Saya sudah berkomunikasi secara intens dengan semua pihak yang saya yakini dapat membantu mengakhiri konflik yang mengerikan ini," katanya.
Ketegangan di kawasan meningkat setelah pada 28 Februari lalu Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, yang mengakibatkan kerusakan serta korban sipil.
Iran kemudian melakukan serangan balasan ke wilayah Israel dan fasilitas militer milik Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Situasi tersebut turut berdampak pada jalur strategis energi global, khususnya di Selat Hormuz.
Gangguan yang terjadi menyebabkan aktivitas pelayaran di wilayah tersebut terhenti secara de facto, sehingga memengaruhi distribusi minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar internasional.
(Antara)