Kenaikan Suhu Bumi Melonjak 75 Persen, Sinyal Bahaya atau Fluktuasi Jangka Pendek?

Bimo Aria Fundrika

Selasa, 24 Maret 2026 | 10:22 WIB
Kenaikan Suhu Bumi Melonjak 75 Persen, Sinyal Bahaya atau Fluktuasi Jangka Pendek?
Ilustrasi pemanasan global yang memicu krisis iklim. (Freepik/freepik)

Suara.com - Isu pemanasan global sudah lama jadi bahan diskusi dan penelitian para ilmuwan di seluruh dunia—tapi belakangan, kekhawatirannya terasa makin nyata karena dampaknya mulai terlihat lebih cepat dari perkiraan.

Dikutip dari Grist.org, komunitas ilmiah saat ini sedang menelaah temuan baru yang menunjukkan kemungkinan adanya percepatan dalam pemanasan global. Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Geophysical Research Letters mengklaim bahwa suhu bumi meningkat jauh lebih cepat dalam satu dekade terakhir dibandingkan periode-periode sebelumnya antara tahun 1970 dan 2015.

Namun, data ini memicu diskusi hangat di kalangan ahli iklim mengenai apakah lonjakan tersebut merupakan tren permanen atau sekadar fluktuasi jangka pendek.

Ancaman Runtuhnya Sistem Arus Samudra

Fokus utama dari kekhawatiran para ilmuwan adalah The Atlantic Meridional Overturning Circulation (AMOC) yang telah melemah beberapa tahun terakhir seiring dengan pemanasan bumi. Sistem arus raksasa ini berfungsi membawa air dan nutrisi dari Greenland menuju Antartika, serta berperan vital dalam menstabilkan iklim global.

Jika sistem ini runtuh, kekeringan akan menyebar di seluruh belahan Bumi Selatan, sementara Pesisir Timur Amerika Serikat dapat menghadapi kenaikan permukaan laut yang signifikan. Hal ini juga dikhawatirkan dapat memicu rangkaian titik kritis lain yang bersifat permanen dan kemungkinan besar akan sulit dipulihkan oleh bumi.

Ambang Batas 1,5 Derajat 

Untuk menghindari risiko tersebut, Perjanjian Paris 2015 yang ditandatangani oleh 195 negara menetapkan target dalam menjaga kenaikan suhu global tetap di bawah 1,5 derajat Celsius dibandingkan masa pra-industri. Para ilmuwan memperingatkan bahwa jika melampaui ambang batas ini, dapat membawa iklim ke wilayah yang tidak dapat diprediksi.

Meskipun beberapa tahun terakhir tercatat sebagai tahun-tahun terpanas dengan fenomena gelombang panas dan kebakaran hutan yang meningkat, studi terbaru memberikan peringatan yang lebih mendesak. Penelitian tersebut menyatakan bahwa suhu naik hampir dua kali lebih cepat dalam satu dekade terakhir dibandingkan rata-rata kenaikan antara tahun 1970 hingga 2015. Jika lintasan ini terus berlanjut, bumi diprediksi bisa melewati ambang batas 1,5 derajat Celsius sebelum tahun 2030.

baca juga

Analisis Data dan Perbandingan Metodologi

Para penulis dalam studi ini menyampaikan hasil analisis mereka yang menunjukkan bahwa jika pada periode 1970-2015 bumi menghangat 0,2 derajat Celsius per dekade, maka dalam sepuluh tahun terakhir angkanya melonjak menjadi 0,35 derajat Celsius per dekade. Terdapat kenaikan sebesar 75 persen. Temuan ini diperoleh setelah tim peneliti mengisolasi variabel "gangguan" cuaca seperti pola El Niño, letusan gunung berapi, dan aktivitas matahari.

Salah satu penulis studi tersebut, Stefan Rahmstorf dari Potsdam Institute for Climate Impact Research menekankan pentingnya durasi periode overshoot (saat suhu melebihi target). Menurutnya jika emisi dapat ditekan dengan cepat, kerusakan seperti pelelehan lapisan es di Greenland mungkin masih bisa dihambat. Namun, jika titik kritis terlampaui, kenaikan permukaan laut global hingga 24 kaki bisa menjadi ancaman yang nyata.

Muncul Skeptisisme Ilmiah

Di sisi lain, tidak semua pakar sepakat dengan klaim akselerasi tersebut. Peneliti dari Princeton University sekaligus penulis utama dalam jurnal Nature Climate Change musim panas lalu, Sofia Menemenlis, mengingatkan adanya ketidakpastian struktural dalam rekonstruksi suhu permukaan laut global. Ia berpendapat bahwa skala waktu satu dekade terlalu singkat untuk menentukan tren iklim jangka panjang secara pasti.

“Mereka tidak mempertimbangkan ketidakpastian mendasar yang dapat Anda sebut sebagai ketidakpastian struktural dalam rekonstruksi suhu global,” katanya.

Senada dengan hal tersebut, professor Daniel Schrag dari Universitas Harvard menyoroti sulitnya mengoreksi data dari pengaruh El Niño secara akurat karena setiap kejadiannya memiliki karakteristik unik. “Mereka telah mengoreksi El Niño, tetapi itu hampir mustahil dilakukan, karena setiap El Niño berbeda,” jelasnya.

Ia juga mencatat bahwa model iklim jarang menangkap Osilasi Dekadal Pasifik, yaitu pergeseran suhu laut dalam siklus 20 hingga 30 tahun. Tanpa memperhitungkan faktor-faktor ini, sulit untuk memastikan apakah sinyal pemanasan yang terlihat benar-benar merupakan percepatan atau hanya variabilitas alami yang tumpang tindih.

Penulis: Vicka Rumanti

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pemanasan Global Ubah Cara Atmosfer Mengurai Gas Rumah Kaca: Apa Dampaknya?

Pemanasan Global Ubah Cara Atmosfer Mengurai Gas Rumah Kaca: Apa Dampaknya?

News | Kamis, 05 Februari 2026 | 18:00 WIB

Studi Oxford: Hampir Separuh Penduduk Dunia Terancam Panas Ekstrem pada 2050

Studi Oxford: Hampir Separuh Penduduk Dunia Terancam Panas Ekstrem pada 2050

News | Senin, 02 Februari 2026 | 18:10 WIB

Mengenal Fitoplankton: Sumber Oksigen untuk Bumi Selain Hutan

Mengenal Fitoplankton: Sumber Oksigen untuk Bumi Selain Hutan

Your Say | Selasa, 23 Desember 2025 | 10:45 WIB

Terkini

PAM Jaya Siapkan Ribuan Toren Gratis, Warga Jakarta Diminta Tak Tunggu Kemarau Datang

PAM Jaya Siapkan Ribuan Toren Gratis, Warga Jakarta Diminta Tak Tunggu Kemarau Datang

News | Jum'at, 26 Juni 2026 | 22:08 WIB

Kerry Dibebani Rp13,4 Triliun, Pengacara Sebut Hakim Pakai Analisis LSM yang Tak Berwenang

Kerry Dibebani Rp13,4 Triliun, Pengacara Sebut Hakim Pakai Analisis LSM yang Tak Berwenang

News | Jum'at, 26 Juni 2026 | 21:58 WIB

Putusan Banding Dianggap Janggal, Kerry Riza Ajukan Kasasi ke MA

Putusan Banding Dianggap Janggal, Kerry Riza Ajukan Kasasi ke MA

News | Jum'at, 26 Juni 2026 | 21:53 WIB

Kepercayaan Polri Tembus 82,4 Persen, Habiburokhman: Jangan Puas Diri, Terus Berbenah

Kepercayaan Polri Tembus 82,4 Persen, Habiburokhman: Jangan Puas Diri, Terus Berbenah

News | Jum'at, 26 Juni 2026 | 21:26 WIB

Prabowo Tanya Akademisi: Kenapa 81 Tahun RI Tidak Bisa Bikin Mobil Buatan Sendiri?

Prabowo Tanya Akademisi: Kenapa 81 Tahun RI Tidak Bisa Bikin Mobil Buatan Sendiri?

News | Jum'at, 26 Juni 2026 | 21:12 WIB

Sikat Parkir Liar di Cawang, 250 Personel Gabungan Derek Mobil yang Nekat Bandel!

Sikat Parkir Liar di Cawang, 250 Personel Gabungan Derek Mobil yang Nekat Bandel!

News | Jum'at, 26 Juni 2026 | 21:12 WIB

Perempuan Didorong Jadi Aktor Utama Ekonomi Restoratif, Tak Lagi Sekadar Penerima Manfaat

Perempuan Didorong Jadi Aktor Utama Ekonomi Restoratif, Tak Lagi Sekadar Penerima Manfaat

News | Jum'at, 26 Juni 2026 | 20:50 WIB

Terkuak! Ini Pemicu Longsor Petamburan: Dari Abrasi Kali BKB hingga Bangunan di Sempadan

Terkuak! Ini Pemicu Longsor Petamburan: Dari Abrasi Kali BKB hingga Bangunan di Sempadan

News | Jum'at, 26 Juni 2026 | 20:16 WIB

Sekjen Partai Buruh Ferri Nuzarli Mundur! 1,3 Juta Anggota ORI Kompak Tinggalkan Partai

Sekjen Partai Buruh Ferri Nuzarli Mundur! 1,3 Juta Anggota ORI Kompak Tinggalkan Partai

News | Jum'at, 26 Juni 2026 | 20:13 WIB

Prabowo Singgung Kegaduhan Usai Pemilu, Istana Langsung Klarifikasi

Prabowo Singgung Kegaduhan Usai Pemilu, Istana Langsung Klarifikasi

News | Jum'at, 26 Juni 2026 | 20:05 WIB

×