- Program Food for Tomorrow mendanai riset pertanian regeneratif global guna memperbaiki kesehatan tanah dan meningkatkan ketahanan pangan dunia.
- Di Indonesia, Al Greeny S. Dewayanti mengembangkan proyek LIFE menggunakan teknologi AI dan tumpang sari tanaman sacha inchi.
- Proyek ini melibatkan masyarakat lokal di Labuan Bajo untuk memulihkan degradasi lahan serta meningkatkan nilai ekonomi petani.
Suara.com - Di tengah tekanan perubahan iklim, degradasi lahan, dan meningkatnya kebutuhan pangan global, para peneliti mulai mencari pendekatan baru untuk memperbaiki sistem pertanian. Salah satu konsep yang semakin mendapat perhatian adalah pertanian regeneratif, yakni praktik yang tidak hanya berfokus pada hasil panen, tetapi juga memulihkan kesehatan tanah, meningkatkan keanekaragaman hayati, serta memperkuat ketahanan pangan jangka panjang.
Pendekatan ini kini berkembang dengan dukungan teknologi, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk membantu petani memahami kondisi lahan secara lebih presisi. Dalam konteks inilah sejumlah penelitian global mulai menyoroti inovasi pertanian regeneratif yang berkembang di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Salah satu riset yang mendapat perhatian datang dari program global Food for Tomorrow, kolaborasi antara PepsiCo dan National Geographic Society yang mendanai berbagai penelitian untuk memperkuat praktik pertanian regeneratif di sejumlah wilayah dunia.
Program ini mendukung penelitian yang berfokus pada tanaman pangan penting di pusat produksi yang menghadapi tekanan perubahan iklim. Para peneliti dipilih dari komunitas National Geographic Explorers, yang terdiri dari ilmuwan, konservasionis, pendidik, dan pencerita dari berbagai negara. Proposal riset yang masuk berasal dari lebih dari 140 negara.
Di Indonesia, penelitian tersebut dipimpin oleh Al Greeny S. Dewayanti, seorang National Geographic Explorer yang mengembangkan proyek Land Innovation for Food and Empowerment (LIFE).
Proyek ini menggabungkan praktik pertanian regeneratif dengan teknologi berbasis AI untuk memulihkan lahan yang telah mengalami degradasi. Pendekatan yang digunakan memadukan sistem tumpang sari jagung dan sacha inchi, tanaman kacang yang dikenal memiliki kandungan nutrisi tinggi seperti Omega 3, 6, dan 9.
Sacha inchi bahkan kerap disebut sebagai “superfood” karena nilai gizinya yang tinggi serta potensi ekonominya bagi petani.
Dalam proyek ini, sampel tanah dari lahan pertanian dianalisis menggunakan metode metabarcoding DNA untuk memetakan mikroorganisme yang hidup di dalam tanah. Analisis tersebut dilakukan bersama ilmuwan dari laboratorium GSI Lab dan Genomics Hub guna memahami kondisi kesehatan lahan secara lebih mendalam.
Data yang dihasilkan kemudian digunakan untuk mengembangkan aplikasi berbasis AI yang dapat membantu petani membaca kondisi tanah mereka. Aplikasi ini mampu memberikan rekomendasi sederhana, misalnya menyarankan penambahan kompos untuk meningkatkan bakteri pengikat nitrogen atau memberi sinyal bahwa lahan sudah siap ditanami.
Dengan pendekatan ini, petani dapat memahami kondisi biologis tanah yang sebelumnya sulit terlihat secara langsung. Informasi yang kompleks dari hasil penelitian laboratorium diterjemahkan menjadi panduan praktis yang mudah digunakan di lapangan.
Selain memperbaiki kualitas tanah, sistem pertanian multitanaman ini juga diharapkan mampu meningkatkan ketahanan pangan masyarakat. Dalam uji coba di wilayah Labuan Bajo, sistem ini diperkirakan dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan hingga 80 persen keluarga di kawasan tersebut.
Proyek LIFE juga menekankan pemberdayaan masyarakat lokal. Program ini melibatkan lima kelompok yang terdiri dari sekitar 50 perempuan yang mengelola koperasi sekaligus mempelajari pengolahan sacha inchi menjadi produk bernilai tambah seperti minyak.
Dengan memadukan teknologi digital, pengetahuan ilmiah, dan kearifan lokal, model ini diharapkan mampu membuka peluang ekonomi baru sekaligus memulihkan lahan yang terdegradasi.
Chief Science and Innovation Officer National Geographic Society Ian Miller mengatakan organisasi tersebut telah lama mendukung penelitian ilmiah yang bertujuan memahami dan melindungi bumi.
“Selama lebih dari satu abad, National Geographic Society mendanai sains inovatif untuk membantu kita memahami dunia dengan lebih baik. Pertanian regeneratif adalah bidang fokus baru yang sangat penting,” ujarnya.