- Kementerian Diktisaintek memantau dugaan pemalsuan riset oleh tiga warga Indonesia pada konferensi ISPPD di Kopenhagen, Denmark, Mei 2026.
- Ketiga terduga pelaku tidak terdaftar sebagai dosen atau peneliti aktif pada perguruan tinggi resmi di wilayah Indonesia.
- Pemerintah tengah melakukan koordinasi serta pendalaman untuk memverifikasi kebenaran kasus pelanggaran etika penelitian yang viral di media sosial.
Suara.com - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Diktisaintek) Brian Yuliarto mengatakan kalau pemerintah turut memantau dugaan pemalsuan riset yang dilakukan peneliti Indonesia di konferensi ilmiah untuk para ahli pneumonia di Kopenhagen, Denmark.
Dari informasi yang tersebar di media sosial, terdapat tiga nama yang dituding lakukan pemalsuan riset tersebut, di antaranya Prihatini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti.
Brian menyampaikan kalau ketiganya tidak tercatat sebagai dosen di kampus dalam negeri.
"Berdasarkan informasi awal yang kami peroleh, pihak-pihak yang disebut dalam kasus ini tidak terindikasi sebagai dosen atau peneliti aktif di perguruan tinggi Indonesia," kata Brian kepada Suara.com, Selasa (26/5/2026).
Meski demikian, ia menegaskan bahwa persoalan itu tetap menjadi perhatian Kementerian Diktisaintek karena dapat memengaruhi persepsi terhadap ekosistem riset nasional secara lebih luas.
Brian menegaskan kalau pemalsuan riset termasuk perbuatan pelanggaran integritas akademik dan etika penelitian.
Saat ini, Diktisaintek sendiri masih melakukan koordinasi dan pendalaman untuk memastikan fakta yang sebenarnya, termasuk status ketiga peneliti yang disebutkan, bentuk afiliasi yang digunakan, serta keterkaitannya dengan institusi pendidikan tinggi atau lembaga riset di Indonesia.
"Kita juga harus mengedepankan prinsip kehati-hatian. Semua pihak perlu diberikan ruang klarifikasi, dan setiap dugaan perlu diverifikasi secara objektif berdasarkan bukti serta mekanisme yang berlaku di lingkungan akademik dan penelitian," tuturnya.
Dugaan pemalsuan riset itu viral setelah seorang dosen dan peneliti Departemen Ilmu Kelautan Universitas Udayana, Ida Bagus Mandhara Brasika dan Wa Ode Dwi Daningrat, membuat unggahan di media sosial Thread pada Senin (25/5) kemarin. Keduanya turut hadir langsung di konferensi ilmiah di Denmark tersebut.
Pada postingan Ida Bagus Mandhara Brasika disebutkan kalau dugaan pemalsuan riset itu terungkap saat konferensi ilmiah untuk para ahli pneumonia seluruh dunia, ISPPD, di Kopenhagen, Denmark pada 17-21 Mei lalu.
Dalam konferensi itu terdapat kelompok periset asal Indonesia yang tampak telah menghasilkan temuan luar biasa. Para periset itu di antaranya, Prihatini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti.
Akan tetapi, setelah ditelisik, kelompok periset tersebut diduga telah mengikuti konferensi dengan hasil penelitian palsu. Disinyalir tindakan itu jadi modus terduga pelaku untuk mendapatkan dana hadiah (grant) dalam konferensi ilmiah.