-
Intelijen Mossad gagal memprediksi ketahanan rezim Iran yang tetap stabil meski pemimpin tertingginya terbunuh.
-
Roman Gofman ditunjuk sebagai Direktur Mossad baru di tengah kritik mengenai kurangnya pengalaman intelijennya.
-
Perdana Menteri Netanyahu merombak total pimpinan keamanan Israel guna mempertahankan posisi politiknya pasca-perang.
Penggantinya justru merupakan figur yang dianggap jauh lebih radikal dan memiliki hubungan sangat erat dengan Korps Garda Revolusi.
Meskipun rezim tetap berdiri kokoh, David Barnea menegaskan bahwa misi operasional Israel di wilayah Iran masih belum berakhir.
Ia memberikan pernyataan publik perdana sejak perang dimulai tepat pada hari peringatan Holocaust yang jatuh pada hari Selasa.
“Kami tentu saja merencanakan kampanye kami untuk terus berlanjut dan memanifestasikan dirinya bahkan pada periode setelah serangan di Teheran,” kata Barnea dalam pidatonya.
Barnea menambahkan bahwa tugas mereka baru akan selesai jika pemerintahan ekstremis di Iran sudah berhasil diganti sepenuhnya.
“Komitmen kami akan terpenuhi hanya ketika rezim ekstremis diganti,” lanjut Barnea menegaskan janji strategis lembaga intelijen tersebut.
Rekam Jejak Roman Gofman dan Kontroversi Jabatan
Roman Gofman sendiri merupakan perwira militer senior kelahiran Belarus yang pindah ke Israel sejak usia remaja.
Ia memiliki pengalaman tempur selama tiga dekade di Korps Kavaleri dan sempat terluka parah dalam serangan 7 Oktober.
Netanyahu memilihnya sebagai Sekretaris Militer sebelum akhirnya menunjuknya untuk memimpin badan intelijen paling rahasia di dunia.
Langkah Netanyahu menunjuk tokoh militer murni untuk memimpin Mossad dianggap sangat tidak lazim oleh para analis keamanan.
“Ada penilaian bulat oleh para profesional militer dan keamanan yang sedang bertugas maupun veteran bahwa penunjukan ini tidak dimaksudkan untuk menguntungkan keamanan Israel, melainkan membantu Netanyahu secara pribadi dan politik,” ungkap analis pertahanan veteran, Amir Oren.
Penunjukan Gofman sebenarnya sempat terganjal masalah hukum terkait dugaan penggunaan anak remaja dalam operasi pengaruh daring tahun 2022.
Meski demikian, Netanyahu tetap mempertahankan pilihannya karena menganggap Gofman sebagai perwira yang memiliki pemikiran kreatif dan berani.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya besar Netanyahu merestrukturisasi seluruh lembaga keamanan nasional setelah kegagalan fatal pada akhir 2023.