-
Konflik Iran memutus pasokan LPG India yang bergantung pada jalur Selat Hormuz.
-
Jutaan buruh migran melakukan migrasi balik karena industri tutup dan harga gas melonjak.
-
Cadangan energi India yang menipis mengancam stabilitas ekonomi dan kesejahteraan pekerja harian.
Suara.com - Kelangkaan Liquefied Petroleum Gas (LPG) yang dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah kini memicu eksodus besar-besaran tenaga kerja dari kota-kota metropolitan India.
Fenomena migrasi balik ini menjadi bukti nyata betapa rapuhnya ketahanan energi domestik India saat berhadapan dengan gangguan distribusi di Selat Hormuz.
Meskipun otoritas terkait berupaya meredam isu ini, fakta di lapangan menunjukkan ribuan pekerja mulai meninggalkan pusat industri karena biaya hidup yang tak lagi terjangkau.

Kenaikan harga bahan bakar memasak telah mencekik dapur rumah tangga miskin dan memaksa sektor manufaktur kecil menghentikan operasional mereka secara total.
Kondisi ini menciptakan efek domino yang menghancurkan struktur ekonomi para pekerja harian yang selama ini menjadi tulang punggung industri perkotaan.
Raj Kumar, seorang buruh berusia 30 tahun, terpaksa menyerah pada keadaan setelah kesulitan memberi makan keluarganya di New Delhi.
"Sangat sulit untuk tinggal di sini lagi. Kami berjuang untuk makan dengan layak. Melihat anak dan istri saya menderita selama beberapa hari terakhir sangatlah menyakitkan,” kata Kumar kepada Middle East Eye.
Ia harus menempuh perjalanan 650 kilometer menuju kampung halamannya karena pabrik tempatnya bekerja selama 15 tahun kini telah berhenti beroperasi.
Nasib serupa dialami oleh rekan-rekannya yang kehilangan pendapatan harian di bawah $7 akibat ketiadaan pasokan gas untuk proses produksi.
Ketergantungan India yang mencapai 90 persen pada jalur Selat Hormuz untuk impor LPG membuat guncangan sekecil apa pun di wilayah tersebut berdampak fatal.
Dampak Blokade Selat Hormuz bagi Industri
Penutupan jalur strategis oleh Iran secara otomatis memangkas ketersediaan campuran propana dan butana yang menjadi bahan bakar utama jutaan rumah tangga.
Sebagai importir LPG terbesar kedua di dunia, India kehilangan stabilitas pasokan seketika setelah konflik bersenjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pecah.
Sektor tekstil, keramik, hingga pengolahan makanan tidak punya pilihan selain merumahkan karyawan mereka karena biaya energi yang meroket tajam.
Krisis ini disebut sebagai kelangkaan pasokan LPG terburuk dalam satu dekade terakhir yang menghantam pusat ekonomi seperti Mumbai dan Gujarat.