- Ekosistem Sungai Ciliwung di Kalibata menghadapi tantangan ledakan populasi ikan sapu-sapu yang sulit diberantas akibat reproduksi sangat cepat.
- Ikan sapu-sapu menjadi dilema karena merusak tanggul sungai namun tetap dimanfaatkan warga untuk diolah menjadi produk makanan.
- Pemprov DKI Jakarta menjadwalkan aksi pembersihan sungai pada 17 April 2026 untuk meminimalisir kerusakan infrastruktur dan risiko banjir.
Suara.com - Kondisi ekosistem Sungai Ciliwung, khususnya di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, kini tengah menghadapi tantangan besar akibat ledakan populasi ikan sapu-sapu.
Para nelayan lokal yang menggantungkan hidup di aliran sungai legendaris ini mengakui bahwa upaya pembersihan atau pemberantasan spesies invasif tersebut hampir mustahil dilakukan secara tuntas.
Kemampuan reproduksi yang luar biasa cepat menjadikan ikan ini sebagai penguasa bawah air yang sulit digoyahkan.
Ajum (39), salah satu nelayan yang sehari-hari beraktivitas di bantaran Ciliwung, memberikan gambaran nyata mengenai kondisi di lapangan.
Menurutnya, meskipun ada upaya pembersihan secara masif, populasi ikan ini seolah tidak pernah berkurang secara signifikan.
"Memang bagus dibersihkan karena hama, tapi enggak bakal bisa habis. Yang sudah biasa cari saja enggak bisa bersihin semuanya," kata nelayan ikan sapu-sapu, Ajum (39) saat ditemui di bantaran Ciliwung, Jakarta, Kamis (16/4/2026).
Pernyataan Ajum tersebut didasari pada pengamatannya selama bertahun-tahun sebagai nelayan urban. Ikan sapu-sapu dikenal memiliki daya tahan tubuh yang sangat kuat, bahkan di air dengan kadar polusi tinggi sekalipun.
Faktor utama yang membuat populasinya meledak adalah siklus reproduksi yang sangat efisien. Dalam satu kali masa bertelur, satu induk ikan sapu-sapu mampu menghasilkan jumlah keturunan yang fantastis.
“Kembang biaknya cepat, satu ekor bisa sampai ribuan kalau menetas,” ucapnya sebagaimana dilansir Antara.
Kondisi ini membuat para nelayan merasa bahwa penangkapan rutin yang mereka lakukan hanya mampu mengambil sebagian kecil dari total populasi yang ada.
Ajum mengibaratkan keberadaan ikan sapu-sapu ini dengan gangguan hama lain yang sudah sangat akrab dengan kehidupan masyarakat di kota besar.
"Seperti nyamuk, dibasmi tetap ada lagi," katanya.
Meskipun menyadari sulitnya memberantas ikan ini hingga nol, Ajum tetap mendukung langkah-langkah pembersihan sungai.
Baginya, menjaga kualitas lingkungan perairan adalah hal yang krusial bagi keberlangsungan hidup warga di sekitar bantaran sungai.
Keberadaan ikan sapu-sapu yang mati dan membusuk di sungai justru akan menambah beban pencemaran yang sudah ada.
Selain menjadi ancaman bagi ekosistem, ikan sapu-sapu ternyata memiliki sisi lain yang menyentuh aspek ekonomi kerakyatan.
Di tengah statusnya sebagai hama, ikan ini telah menjadi sumber penghasilan bagi sebagian nelayan dan warga sekitar.
Ada perputaran uang yang terjadi dari hasil tangkapan ikan yang memiliki kulit keras ini.
“Yang penting jaga lingkungan tetap bersih, tapi ikan ini juga ada manfaat ekonominya,” kata dia.
Secara ekonomi, ikan sapu-sapu hasil tangkapan nelayan di Ciliwung biasanya tidak dibuang begitu saja. Ikan-ikan tersebut dijual kepada pengepul dengan harga tertentu.
Dari tangan pengepul, daging ikan sapu-sapu kemudian diolah menjadi berbagai jenis produk makanan yang populer di kalangan masyarakat luas.
Beberapa produk turunan yang sering ditemukan di pasar atau pedagang kaki lima antara lain cilok, nugget, otak-otak, hingga kerupuk.
Hal ini menjadi dilema tersendiri; di satu sisi ia adalah perusak lingkungan, namun di sisi lain ia menjadi penopang dapur sebagian warga.
Persoalan ikan sapu-sapu ini juga telah sampai ke telinga otoritas terkait. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menjadwalkan aksi nyata untuk menangani masalah ini.
Berdasarkan rencana, Pemprov DKI akan melakukan pembersihan besar-besaran di sungai dan saluran air di seluruh ibu kota pada Jumat (17/4). Fokus utama dari aksi ini adalah pengangkatan sampah dan pembersihan ikan sapu-sapu.
Langkah tegas ini diambil karena ikan sapu-sapu dinilai memiliki perilaku yang merusak infrastruktur sungai. Ikan ini gemar membuat lubang di dinding tanah bantaran sungai, yang jika dibiarkan dapat menghancurkan tanggul-tanggul pelindung.
Selain itu, sifat predatornya terhadap telur ikan asli sungai lokal mengancam keanekaragaman hayati Ciliwung.
Kegiatan bersih-bersih yang diinisiasi pemerintah ini juga merupakan bagian dari strategi jangka panjang menghadapi tantangan iklim.
Selain menangani hama ikan, petugas akan melakukan pengerukan lumpur dan perbaikan saluran air sebagai langkah antisipasi menghadapi musim hujan yang diprakirakan akan berlangsung pada September 2026 mendatang.
Dengan demikian, diharapkan kapasitas tampung sungai meningkat dan risiko banjir di Jakarta dapat diminimalisir.