Pemicu Tersembunyi Kekerasan Digital di Kalangan Siswa, Salah Satunya Takut Dibilang Nggak Asyik

Vania Rossa

Selasa, 21 April 2026 | 20:34 WIB
Pemicu Tersembunyi Kekerasan Digital di Kalangan Siswa, Salah Satunya Takut Dibilang Nggak Asyik
Reny Haning, Child Protection & Advocacy Specialist ChildFund International di Indonesia. (Suara.com/Vania)
baca 10 detik
  • ChildFund International menggelar pertemuan nasional di Jakarta pada April 2026 guna membahas tingginya angka kekerasan terhadap anak.
  • Data menunjukkan 42 persen anak mengalami kekerasan domestik dan 28,9 persen menghadapi risiko serius di dunia digital.
  • Pemerintah dan organisasi terkait didorong memperkuat sistem perlindungan terintegrasi serta meningkatkan literasi keamanan digital bagi semua anak.

Suara.com - Rasa aman yang dirasakan anak-anak di Indonesia ternyata menyimpan ironi. Di satu sisi, mayoritas anak mengaku merasa aman dalam lingkungannya. Namun di sisi lain, angka kekerasan terhadap anak masih tinggi dan terus berkembang, termasuk di ruang digital yang kian sulit dikendalikan.

Temuan ini mengemuka dalam Pertemuan Nasional Perlindungan Anak yang digelar ChildFund International di Indonesia pada 20–24 April 2026 di Jakarta. Forum lintas sektor ini mempertemukan pemerintah, praktisi, organisasi masyarakat sipil, hingga anak dan orang muda untuk membahas tantangan perlindungan anak yang semakin kompleks.

Data dari program perlindungan anak ChildFund, PRIME (2023–2025), menunjukkan bahwa 89 persen anak merasa aman. Namun, angka tersebut berbanding terbalik dengan fakta bahwa 42 persen anak justru pernah mengalami kekerasan di rumah, dan 28,9 persen menghadapi risiko di dunia digital—mulai dari perundungan siber hingga eksploitasi berbasis teknologi.

“Kita sudah berhasil membangun rumahnya, tapi pintunya belum terbuka bagi mereka yang paling membutuhkan,” ujar Country Director ChildFund International di Indonesia, Husnul Maad.

Secara struktural, berbagai upaya sebenarnya telah dilakukan. Lebih dari 595 komite perlindungan anak berbasis komunitas telah terbentuk, 106 desa memiliki mekanisme perlindungan, dan puluhan sekolah serta institusi telah mengadopsi kebijakan anti-kekerasan. Namun, efektivitasnya masih menjadi persoalan. Hanya 6,8 persen anak yang merasa sistem tersebut benar-benar bekerja untuk mereka.

Dalam sesi wawancara khusus, Reny Haning, Child Protection & Advocacy Specialist ChildFund International di Indonesia, menjelaskan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah kaburnya batasan antara dunia nyata (luring) dan dunia maya (daring).

Reny menilai kesenjangan ini terjadi karena sistem yang belum sepenuhnya responsif terhadap kebutuhan anak, baik di dunia nyata maupun digital.

“Anak yang rentan di dunia nyata adalah anak yang paling rentan di dunia maya. Kita tidak bisa mengatasi keduanya secara terpisah, sistem respons harus terintegrasi,” ujarnya.

Menurut Reny, tantangan perlindungan anak kini tidak lagi bisa dilihat secara konvensional. Dunia digital menghadirkan risiko baru yang bergerak cepat, sementara kapasitas perlindungan belum sepenuhnya beradaptasi.

baca juga

Berdasarkan temuan di lapangan, risiko digital bahkan sudah menyasar anak usia sekolah dasar. Anak-anak tidak hanya terpapar konten tidak pantas, tetapi juga terlibat dalam interaksi daring yang berpotensi mengarah pada eksploitasi.

“Di beberapa wilayah, anak kelas 4 SD sudah menghadapi risiko online, mulai dari paparan konten pornografi sampai grooming. Ini bukan lagi isu remaja, tapi sudah masuk ke usia yang sangat dini,” jelas Reny.

Ia menambahkan, salah satu pintu masuk kekerasan digital adalah normalisasi perilaku di ruang online, termasuk dalam grup percakapan yang sering digunakan anak untuk kebutuhan sekolah.

“Sering kali anak ikut-ikutan karena takut dikucilkan. Mereka tahu itu tidak nyaman, tapi tetap bereaksi karena tekanan sosial. Dari situ, risiko bisa berkembang,” katanya.

Untuk itu, ChildFund mendorong pendekatan yang lebih komprehensif melalui program PRIDE (Protective and Friendly Environment for Children and Youth) yang dijalankan di delapan provinsi. Program ini mencakup empat pilar utama: perlindungan berbasis komunitas, perlindungan berbasis sekolah, partisipasi anak dalam kebijakan, serta keamanan digital, ditambah penguatan identitas hukum anak.

Pendekatan ini tidak hanya menyasar anak, tetapi juga orang tua dan guru. Literasi digital menjadi kunci penting agar anak mampu melindungi diri, sementara lingkungan sekitarnya dapat berperan sebagai sistem pendukung.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Viral Mahasiswa Bawa Lari dan Banting Bocah, Kenapa Malah Dibela Netizen?

Viral Mahasiswa Bawa Lari dan Banting Bocah, Kenapa Malah Dibela Netizen?

Entertainment | Selasa, 21 April 2026 | 18:10 WIB

Viral Guru TPQ Banting Anak di Probolinggo, Kemenag Pastikan Sudah Diproses Hukum

Viral Guru TPQ Banting Anak di Probolinggo, Kemenag Pastikan Sudah Diproses Hukum

News | Minggu, 29 Maret 2026 | 10:05 WIB

Pemprov DKI Dukung PP Tunas, Atur Penggunaan Gawai pada Anak dan Perkuat Literasi Digital

Pemprov DKI Dukung PP Tunas, Atur Penggunaan Gawai pada Anak dan Perkuat Literasi Digital

News | Sabtu, 28 Maret 2026 | 18:27 WIB

Terkini

Wajah Bulat Sering Insecure? 10 Model Kacamata Ini Ampuh Bikin Muka Tirus Seketika!

Wajah Bulat Sering Insecure? 10 Model Kacamata Ini Ampuh Bikin Muka Tirus Seketika!

Lifestyle | Rabu, 22 Juli 2026 | 14:17 WIB

Bocor! Video Ruang Ganti Argentina Sebelum Dihajar Spanyol, Pesan Messi Diabaikan Rekan-rekannya

Bocor! Video Ruang Ganti Argentina Sebelum Dihajar Spanyol, Pesan Messi Diabaikan Rekan-rekannya

Bola | Rabu, 22 Juli 2026 | 14:16 WIB

2 Tahun SDN 09 Kebayoran Lama Roboh, KPAI Turun Tangan Kawal Revitalisasi

2 Tahun SDN 09 Kebayoran Lama Roboh, KPAI Turun Tangan Kawal Revitalisasi

News | Rabu, 22 Juli 2026 | 14:15 WIB

Sekuel Film Jennifer's Body Digarap, Megan Fox Berpotensi Kembali Main

Sekuel Film Jennifer's Body Digarap, Megan Fox Berpotensi Kembali Main

Your Say | Rabu, 22 Juli 2026 | 14:15 WIB

Lagi! Iran Bom Pangkalan AS di Yordania dan Bahrain, Gudang Logistik Tempur Ludes

Lagi! Iran Bom Pangkalan AS di Yordania dan Bahrain, Gudang Logistik Tempur Ludes

News | Rabu, 22 Juli 2026 | 14:11 WIB

Kronologi Operator Alat Berat di Siak Diserang Harimau, Diterkam saat Ingin BAB

Kronologi Operator Alat Berat di Siak Diserang Harimau, Diterkam saat Ingin BAB

Riau | Rabu, 22 Juli 2026 | 14:11 WIB

Radical Acceptance Semu: Benarkah Sikap Bodo Amat adalah Bentuk Kedewasaan?

Radical Acceptance Semu: Benarkah Sikap Bodo Amat adalah Bentuk Kedewasaan?

Your Say | Rabu, 22 Juli 2026 | 14:10 WIB

DPR Sudah Kasih Restu, Kapan Kapal Induk Italia Resmi Jadi Milik Indonesia?

DPR Sudah Kasih Restu, Kapan Kapal Induk Italia Resmi Jadi Milik Indonesia?

News | Rabu, 22 Juli 2026 | 14:08 WIB

Persib Bandung Tak Main-main di Piala Presiden 2026, Igor Tolic Siapkan Taktik Kejutan

Persib Bandung Tak Main-main di Piala Presiden 2026, Igor Tolic Siapkan Taktik Kejutan

Bola | Rabu, 22 Juli 2026 | 14:00 WIB

Ulasan Novel Burung-Burung Berkisah: Keindahan Alam dalam Sastra Klasik

Ulasan Novel Burung-Burung Berkisah: Keindahan Alam dalam Sastra Klasik

Your Say | Rabu, 22 Juli 2026 | 14:00 WIB

×