- Pemerintah Iran resmi mengamankan pendapatan perdana dari penarikan tol bagi kapal yang melintasi wilayah Selat Hormuz.
- Dana hasil pemungutan tol tersebut telah disetorkan ke Bank Sentral Iran melalui mekanisme resmi perbankan nasional.
- Kebijakan ini memicu reaksi keras dari Amerika Serikat serta sekutunya yang mengkhawatirkan stabilitas jalur perdagangan energi global.
Suara.com - Pemerintah Iran secara resmi mengumumkan keberhasilan mereka mengamankan pendapatan perdana dari kebijakan penarikan tol di Selat Hormuz, sebuah langkah berani yang menegaskan kedaulatan penuh Teheran atas jalur pelayaran energi paling strategis di dunia.
Penerimaan devisa ini menjadi simbol perlawanan ekonomi yang nyata sekaligus menjadi bukti ketangguhan posisi Iran di tengah meningkatnya tensi geopolitik melawan hegemoni Amerika Serikat dan sekutunya, Israel, di kawasan Timur Tengah.
Pengenaan retribusi di jalur "urat nadi" minyak global ini membuktikan bahwa Teheran kini memiliki kendali penuh untuk mendikte aturan main baru bagi kapal-kapal internasional yang ingin melintasi wilayah perairannya.
![Wakil Ketua Parlemen Iran, Hamidreza Hajibabaei. [Dok. Pars Today]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/23/38365-hamidreza-hajibabaei.jpg)
Wakil Ketua Parlemen Iran, Hamidreza Hajibabaei, mengungkapkan bahwa dana hasil penarikan tol tersebut kini telah resmi masuk ke dalam kas negara melalui mekanisme perbankan nasional.
"Pendapatan pertama yang diterima dari tol Selat Hormuz telah disetorkan ke rekening Bank Sentral," ujar Hajibabaei sebagaimana dikutip oleh kantor berita Tasnim pada Kamis.
Pernyataan ini juga digaungkan oleh berbagai media lokal di Iran, menandakan adanya konsensus nasional yang kuat untuk memperkuat posisi tawar negara di kancah internasional.
Selat Hormuz yang menjadi titik krusial bagi pasokan energi dunia ini telah berubah menjadi titik api utama sejak pecahnya konflik besar di Timur Tengah pada 28 Februari lalu.
Dominasi Teheran di Jalur Energi Global
Sejak konflik memanas, otoritas Iran hanya mengizinkan sebagian kecil kapal untuk melewati jalur air tersebut dengan pengawasan keamanan yang sangat ketat.
Padahal, dalam kondisi normal, wilayah perairan ini menjadi rute utama bagi seperlima aliran minyak dan gas dunia, serta berbagai komoditas vital lainnya yang menggerakkan roda ekonomi global.
Sebelum pengumuman resmi mengenai pendapatan tol ini muncul, parlemen Iran memang telah lama menggodok aturan untuk membebaki setiap kapal yang melintas dengan biaya kompensasi tertentu.
Pejabat tinggi di Teheran telah berulang kali memberikan peringatan keras bahwa lalu lintas maritim di selat tersebut tidak akan pernah kembali ke status quo seperti sebelum krisis terjadi.
Pada tanggal 30 Maret lalu, komisi keamanan parlemen Iran dikabarkan telah menyetujui rencana pengenaan tol tersebut sebagai bagian dari strategi pertahanan nasional yang asimetris.
Respons Keras Barat dan Ancaman Eskalasi
Langkah tegas Iran dalam memungut pajak lintasan ini memicu reaksi keras dari Washington, di mana Presiden AS Donald Trump terus menekan agar Teheran segera membuka akses selat tanpa syarat.
Tidak hanya Amerika Serikat, negara-negara Eropa seperti Inggris dan Prancis juga mulai menunjukkan kegelisahan mereka atas kebijakan baru Iran yang dianggap mengancam kepentingan ekonomi mereka.
Para perencana militer dari lebih 30 negara dilaporkan telah mengadakan pembicaraan intensif untuk mencari cara melindungi navigasi kapal-kapal mereka di Selat Hormuz.
Paris dan London bahkan secara terang-terangan menyatakan kesiapan mereka untuk memimpin misi militer multinasional di kawasan tersebut segera setelah kondisi di lapangan memungkinkan.
Kekuatan Barat tampaknya kewalahan menghadapi strategi Iran yang memanfaatkan posisi geografisnya untuk memberikan dampak ekonomi langsung bagi negara-negara yang memusuhi mereka.
Strategisnya Selat Hormuz
Secara historis, Selat Hormuz adalah jalur pelayaran sempit namun sangat vital yang menghubungkan para produsen minyak besar di Timur Tengah dengan pasar dunia di Asia, Eropa, dan Amerika Utara.
Posisi geografis Iran yang menguasai seluruh garis pantai utara selat tersebut memberikan keunggulan strategis yang tak tertandingi dalam setiap skenario konflik di kawasan Teluk.
Kebijakan tol ini dipandang sebagai respons balasan yang cerdas dari Iran terhadap sanksi ekonomi dan tekanan militer yang terus dilancarkan oleh poros Barat dan Israel selama ini.
Dunia internasional kini menanti apakah langkah Iran ini akan menjadi standar baru dalam hukum laut internasional atau justru memicu konfrontasi fisik yang lebih luas dengan pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat.