Kanker Paru Bukan Lagi Penyakit Perokok: Menagih Hak Konstitusi Atas Terapi Inovatif

Vania Rossa | Suara.com

Kamis, 23 April 2026 | 18:09 WIB
Kanker Paru Bukan Lagi Penyakit Perokok: Menagih Hak Konstitusi Atas Terapi Inovatif
Ilustrasi Kanker Paru Bukan Lagi Penyakit Perokok. (Freepik/freepik)
  • Kanker paru menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia dengan angka 14,1 persen yang kini juga menyerang perempuan dan non-perokok.
  • Pasien sering terlambat didiagnosis karena prosedur medis yang rumit serta kurangnya akses terhadap teknologi deteksi dan obat inovatif.
  • Ketiadaan penanganan komprehensif mengancam ekonomi nasional dan kesejahteraan rumah tangga sehingga pemerintah didesak memperkuat upaya deteksi dini secara preventif.

Suara.com - Di tengah kepul polusi udara yang kian pekat, sebuah pergeseran epidemiologi yang mengkhawatirkan sedang terjadi di Indonesia. Kanker paru, yang selama puluhan tahun dicitrakan sebagai penyakit pria perokok, kini mulai menyasar kelompok yang sebelumnya dianggap berisiko rendah: perempuan dan non-perokok.

Data terbaru menempatkan kanker paru sebagai ancaman kesehatan nasional yang serius, menduduki urutan tertinggi penyebab kematian akibat kanker di Indonesia dengan angka mencapai 14,1%. Realitas ini bukan sekadar statistik medis, melainkan peringatan akan rapuhnya ketahanan kesehatan masyarakat di tengah kualitas lingkungan yang kian menurun.

Stigma yang Mematikan dan Labirin Diagnosa

Bagi Patricia Susanna (56), penyintas yang tidak pernah menyentuh rokok, vonis kanker paru mengungkap sisi gelap sistem rujukan kita. Banyak pasien terjebak dalam diagnosa awal yang keliru; diobati sebagai pasien TBC selama berbulan-bulan karena kemiripan gejala dan keengganan administratif dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

"Pasien kehilangan golden time karena prosedur yang rumit," tegas Susan.

Keterlambatan diagnosa ini fatal, mengingat kecepatan sel kanker menyebar. Transparansi medis dan akses terhadap fasilitas mutakhir seperti PET Scan hingga tes genetik seharusnya menjadi hak dasar bagi setiap peserta JKN, bukan lagi kemewahan yang terbatas.

Menjembatani Kesenjangan Teknologi Medis Global

Indonesia saat ini menghadapi ketimpangan akses obat kanker inovatif—salah satu yang terendah di Asia Pasifik. Megawati Tanto dari Cancer Information & Support Center (CISC) menyoroti perlunya pemerintah menyelaraskan standar pengobatan nasional dengan perkembangan teknologi global.

Saat ini, terapi generasi ketiga seperti Osimertinib telah terbukti secara klinis mampu memperpanjang angka harapan hidup dan meningkatkan kualitas hidup pasien dengan minim efek samping. Namun, terapi ini belum dijamin oleh JKN.

"Biayanya sangat tinggi jika ditanggung pribadi, padahal ketersediaannya menentukan hidup dan mati pasien," ujar Mega saat mengadvokasi isu ini ke Komisi IX DPR RI.

Ancaman Ekonomi dan Amanat Konstitusi

Pandangan para penyintas ini diperkuat oleh analisis BPJS Watch. Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, menegaskan bahwa kegagalan menangani kanker secara komprehensif akan menciptakan efek domino yang melumpuhkan ekonomi.

Secara global, kerugian ekonomi akibat kanker diproyeksikan mencapai US$25,2 triliun pada 2050. Di Indonesia, dampaknya sudah nyata: potensi kehilangan lebih dari 92.000 tenaga kerja akibat kematian dini. Di tingkat rumah tangga, 59,5% pasien kanker mengalami kehancuran finansial hanya setahun setelah diagnosis.

Timboel mendesak pemerintah untuk menggeser pendekatan dari kuratif menjadi preventif-promotif.

"Pemerintah harus melakukan pendekatan 'jemput bola' melalui integrasi skrining di tingkat fasilitas kesehatan primer hingga aparat desa," ujarnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Benarkah Tembakau Alternatif jadi Jalan Keluar Kebiasaan Merokok?

Benarkah Tembakau Alternatif jadi Jalan Keluar Kebiasaan Merokok?

Bisnis | Kamis, 29 Januari 2026 | 06:53 WIB

Menkes Budi: Cowok Perokok Red Flag, Perempuan Bakal Tanggung Risiko Kanker

Menkes Budi: Cowok Perokok Red Flag, Perempuan Bakal Tanggung Risiko Kanker

News | Rabu, 14 Januari 2026 | 08:11 WIB

4 Pilihan Mouth Spray untuk Perokok, Murah dan Ampuh Hilangkan Bau Rokok

4 Pilihan Mouth Spray untuk Perokok, Murah dan Ampuh Hilangkan Bau Rokok

Lifestyle | Sabtu, 27 Desember 2025 | 20:42 WIB

Terkini

Kritik Penyangkalan Negara, Guru Besar UI Desak Pengakuan atas Tragedi Pemerkosaan Massal 1998

Kritik Penyangkalan Negara, Guru Besar UI Desak Pengakuan atas Tragedi Pemerkosaan Massal 1998

News | Kamis, 23 April 2026 | 18:12 WIB

KPK Dinilai Lampaui Kewenangan Soal Batas Jabatan Ketum Parpol, DPR: Itu Ahistoris

KPK Dinilai Lampaui Kewenangan Soal Batas Jabatan Ketum Parpol, DPR: Itu Ahistoris

News | Kamis, 23 April 2026 | 18:12 WIB

Burhanuddin Muhtadi Sebut Regenerasi Parpol Gridlock: Bukan Lagi Macet, Tapi Buntu Total

Burhanuddin Muhtadi Sebut Regenerasi Parpol Gridlock: Bukan Lagi Macet, Tapi Buntu Total

News | Kamis, 23 April 2026 | 18:02 WIB

Deteksi Dini Preeklamsia, Kunci Tekan Stunting dan Selamatkan Ibu Sejak Masa Kehamilan

Deteksi Dini Preeklamsia, Kunci Tekan Stunting dan Selamatkan Ibu Sejak Masa Kehamilan

News | Kamis, 23 April 2026 | 17:46 WIB

Kereta Api Adu Banteng di Denmark, Banyak Korban Luka Hingga Kritis

Kereta Api Adu Banteng di Denmark, Banyak Korban Luka Hingga Kritis

News | Kamis, 23 April 2026 | 17:40 WIB

Geger! Organisasi HAM AS Dituding Suntik Dana untuk Ku Klux Klan hingga Neo Nazi

Geger! Organisasi HAM AS Dituding Suntik Dana untuk Ku Klux Klan hingga Neo Nazi

News | Kamis, 23 April 2026 | 17:38 WIB

Tragedi di Kos Benhil: Dua PRT Lompat dari Lantai 4, Polisi Dalami Motifnya

Tragedi di Kos Benhil: Dua PRT Lompat dari Lantai 4, Polisi Dalami Motifnya

News | Kamis, 23 April 2026 | 17:34 WIB

LPG 12 Kg Rp248 Ribu, Agen di Jaksel Banjir Keluhan Ibu-ibu: Kok Naik Harganya?

LPG 12 Kg Rp248 Ribu, Agen di Jaksel Banjir Keluhan Ibu-ibu: Kok Naik Harganya?

News | Kamis, 23 April 2026 | 17:28 WIB

Bukan Lagi Joki Duduk, Kecurangan UTBK Kini Pakai Telinga Bionik

Bukan Lagi Joki Duduk, Kecurangan UTBK Kini Pakai Telinga Bionik

News | Kamis, 23 April 2026 | 17:27 WIB

Siapa Karoline Leavitt? Jubir Gedung Putih, Pembela Donald Trump Paling Vokal

Siapa Karoline Leavitt? Jubir Gedung Putih, Pembela Donald Trump Paling Vokal

News | Kamis, 23 April 2026 | 17:25 WIB