-
Piala Dunia 2026 diprediksi memicu lonjakan kasus kecanduan judi bola secara signifikan.
-
Pecandu sering kali kehilangan seluruh gaji dan terjerumus tindakan kriminal demi taruhan.
-
Pemulihan membutuhkan pengelolaan uang oleh keluarga dan menghindari pemicu siaran langsung pertandingan.
Suara.com - Piala Dunia 2026 bukan sekadar pesta olahraga, melainkan alarm bagi potensi ledakan kasus kecanduan judi bola global.
Turnamen besar ini sering kali menjadi katalisator yang mempercepat kehancuran finansial bagi mereka yang rentan terhadap taruhan.
Fenomena ini melampaui batas hobi, mengubah hiburan menjadi obsesi yang menghancurkan karier dan hubungan sosial secara permanen.

Dikutip dari CNA, Peter, seorang penyintas judi warga Singapura, kehilangan hampir Rp1,8 miliar sebelum akhirnya menyadari bahwa setiap taruhan adalah langkah menuju jurang.
Kehilangan seluruh gaji dalam hitungan jam menjadi realitas pahit yang harus dihadapi oleh banyak pecandu di usia produktif.
Pakar kesehatan mental memperingatkan bahwa sensasi menang menciptakan lonjakan dopamin yang sangat adiktif di otak manusia.
Banyak penjudi merasa memiliki keahlian analisis tim, padahal hasil pertandingan tetaplah probabilitas yang tidak bisa dikendalikan sepenuhnya.

"Kompetisi sepak bola besar, terutama Piala Dunia, berfungsi sebagai katalis. Mereka tidak menciptakan penjudi dalam semalam, tetapi mereka mempercepat kerentanan pada orang-orang yang sudah berada di wilayah rapuh dengan kebiasaan bertaruh mereka," ujar Dr. John Lim, Chief Well-being Officer di Singapore Counselling Centre.
Sering kali, dampak kerusakan baru disadari ketika turnamen berakhir dan beban utang mulai menumpuk tanpa kendali.
Psikolog klinis Dr. Annabelle Chow menekankan bahwa bantuan profesional biasanya baru dicari saat konflik relasional dan krisis keuangan memuncak.
Teknologi digital telah menghapus hambatan fisik, membuat taruhan dapat dilakukan hanya dengan beberapa ketukan di layar ponsel.
Kini, profil pecandu judi tidak lagi didominasi oleh pria lanjut usia dengan pendapatan rendah, melainkan anak muda yang melek teknologi.
"Kelompok ini biasanya terdiri dari individu yang sebagian besar laki-laki, paham teknologi, dan nyaman dengan platform taruhan online," kata Dr. Thomas Lee, konsultan psikiater di Resilienz Clinic.
"Mereka sering menganggap taruhan sepak bola sebagai 'permainan keterampilan' daripada keberuntungan, percaya bahwa pengetahuan mereka tentang olahraga tersebut memberi mereka keunggulan," tambahnya.
Munculnya platform ilegal yang agresif di media sosial juga memperburuk situasi bagi kelompok usia rentan dan lansia.