Sofyan Djalil Sebut Adanya Kriminalisasi Kebijakan Bikin Pejabat Jadi Penakut dan Hilang Kreativitas

Bella

Selasa, 28 April 2026 | 17:21 WIB
Sofyan Djalil Sebut Adanya Kriminalisasi Kebijakan Bikin Pejabat Jadi Penakut dan Hilang Kreativitas
Mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) periode 2007–2009, Sofyan A. Djalil. [Suara.com/Tsabita]
baca 10 detik
  • Sofyan Djalil menyoroti maraknya kriminalisasi kebijakan yang mematikan kreativitas serta keberanian direksi BUMN dalam mengambil keputusan strategis di Jakarta.
  • Ketergantungan direksi BUMN terhadap dukungan politik menyebabkan hilangnya independensi profesional dalam menjalankan tugas serta pengambilan keputusan perusahaan negara.
  • Sofyan mendorong penegak hukum membedakan risiko bisnis dan niat jahat guna mencegah dampak buruk bagi kemajuan ekonomi nasional.

Suara.com - Mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) periode 2007–2009, Sofyan A. Djalil, mengungkapkan keprihatinannya atas maraknya kriminalisasi kebijakan saat ini.

Menurutnya, fenomena ini berdampak sistemik terhadap nyali para pejabat publik dan direksi BUMN dalam mengambil keputusan strategis demi kemajuan bangsa.

Hal tersebut disampaikan dalam acara "Urun Rembug dan Soft Launching Buku: Kriminalisasi Kebijakan, Menakar Batas Kriminalisasi Kebijakan" yang diselenggarakan di Jakarta Selatan, Selasa (28/4/2026).

Dalam paparannya, Sofyan menekankan bahwa ketakutan akan jeratan hukum akibat keputusan bisnis atau diskresi birokrasi telah mematikan kreativitas. Ia menilai, aturan yang ada sering kali tertinggal dibandingkan dengan dinamika kebutuhan di lapangan.

"Yang sangat mengkhawatirkan dengan cara penegak hukum kita sekarang hilangnya kreativitas, hilang keberanian membuat keputusan," ujar Sofyan, Selasa (28/4/2026).

Sofyan juga menyoroti akar masalah di tubuh BUMN, yakni kurangnya independensi para petinggi perusahaan. Ia menyebut adanya fenomena "tawaf" atau mencari dukungan politik demi mendapatkan jabatan, yang pada akhirnya menyandera direksi saat harus mengambil keputusan profesional.

"Banyak orang BUMN itu tawaf kiri kanan dulu untuk mengharapkan jadi direksi BUMN. Datang ke partai politik, datang ke mana-mana, minta telepon menteri supaya dipromosikan menjadi direksi BUMN. Itu penyakit yang paling parah," tegasnya.

Ia menambahkan bahwa direksi yang terpilih karena dukungan politik cenderung tidak independen.

"Karena saya mengatakan kalau misalnya Anda sudah tawaf kiri kanan jadi direksi BUMN, maka Anda tidak pernah independen. Utang Anda telah terlalu banyak," tambahnya.

baca juga

Diskresi vs Pelanggaran Aturan

Menariknya, Sofyan membagikan pengalamannya saat menjabat sebagai menteri. Ia mengaku pernah mengambil langkah yang secara teknis melanggar undang-undang demi mencapai tujuan yang lebih besar dan efisien bagi negara, seperti saat proses tender frekuensi 3G dan pembebasan lahan. Namun, ia menekankan pentingnya transparansi dan dokumentasi hukum yang kuat.

"Saya sebagai menteri berkali-kali saya langgar undang-undang, tapi saya tulis. Waktu saya tender frekuensi, Itu melanggar undang-undang. Caranya gimana? Bikinlah minute of meeting semua rapat kabinet. Bikin minute of meeting dan rapat kabinet menyetujui," jelasnya.

Ia mencontohkan, dalam kasus tender frekuensi, keberanian mengambil keputusan tersebut justru berhasil menyelamatkan kepentingan negara.

"Itu cara yang paling efisien, di samping menyelesaikan masalah Telkom, Indosat, dan XL juga kita mendapatkan uang waktu itu 16 triliun dari hasil tender semua itu," ungkapnya.

Pesan untuk Penegak Hukum

Terkait maraknya kasus hukum yang menjerat pejabat, Sofyan mendorong adanya perbaikan kualitas pendidikan bagi aparat penegak hukum agar mampu membedakan antara risiko bisnis (Business Judgment Rule) dengan niat jahat (mens rea).

"Saya merasakan ya, dengan namanya pendidikan yang proper, pelatihan yang proper, itu orang yang nakal, yang mindset-nya itu sudah rusak dari awal, tapi pada umumnya kalau tercerahkan, manusia tercerahkan itu akan bisa membedakan antara yang benar dan yang salah," tuturnya.

Sofyan memperingatkan jika iklim ketakutan ini terus dibiarkan, maka biaya yang harus dibayar oleh negara akan sangat mahal karena mandeknya pengambilan keputusan.

"Kalau masalah ini tidak kita atasi, negeri ini akan jadi para pejabat itu akan manut aturan, kalau ada undang-undang lakukan kalau nggak ndak lakukan. Cara yang paling bagus akhirnya nggak bikin keputusan, padahal cost-nya menjadi sangat mahal bagi bangsa kalau kita tidak bikin keputusan," pungkasnya.

Reporter: Tsabita Aulia

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Fenomena Kriminalisasi Kebijakan, Aparat Diingatkan Jangan Komersialisasi Kasus

Fenomena Kriminalisasi Kebijakan, Aparat Diingatkan Jangan Komersialisasi Kasus

News | Selasa, 28 April 2026 | 16:26 WIB

Bos KAI Ternyata Sering Dipanggil Prabowo, Bahas Apa?

Bos KAI Ternyata Sering Dipanggil Prabowo, Bahas Apa?

Bisnis | Selasa, 28 April 2026 | 15:46 WIB

Setelah Ada Kecelakaan KRL, BP BUMN Baru Evaluasi KAI Secara Menyeluruh

Setelah Ada Kecelakaan KRL, BP BUMN Baru Evaluasi KAI Secara Menyeluruh

Bisnis | Selasa, 28 April 2026 | 15:24 WIB

Kecelakaan Maut Kereta di Bekasi, Prabowo Intruksikan Ini

Kecelakaan Maut Kereta di Bekasi, Prabowo Intruksikan Ini

Bisnis | Selasa, 28 April 2026 | 08:36 WIB

Krakatau Steel Bukukan Laba Bersih 4,6 Juta Dolar AS di Kuartal I-2026

Krakatau Steel Bukukan Laba Bersih 4,6 Juta Dolar AS di Kuartal I-2026

Bisnis | Senin, 27 April 2026 | 16:48 WIB

KUHAP Baru Disorot: Dinilai Buka Celah Kriminalisasi hingga Perkuat Impunitas Aparat

KUHAP Baru Disorot: Dinilai Buka Celah Kriminalisasi hingga Perkuat Impunitas Aparat

News | Senin, 27 April 2026 | 16:38 WIB

Reshuffle Kabinet: 6 Pejabat yang Diprediksi Masuk Pusaran Pelantikan

Reshuffle Kabinet: 6 Pejabat yang Diprediksi Masuk Pusaran Pelantikan

News | Senin, 27 April 2026 | 15:10 WIB

Krakatau Steel Bidik Laba Bersih Paling Kecil Rp 2 Triliun di 2026

Krakatau Steel Bidik Laba Bersih Paling Kecil Rp 2 Triliun di 2026

Bisnis | Senin, 27 April 2026 | 15:09 WIB

Jelang Reshuffle, 6 Tokoh Datangi Istana: Dudung, Qodari hingga Jumhur Siap Dilantik?

Jelang Reshuffle, 6 Tokoh Datangi Istana: Dudung, Qodari hingga Jumhur Siap Dilantik?

News | Senin, 27 April 2026 | 14:54 WIB

Hadir Sejak Siang, Ini Daftar 6 Pejabat yang Bakal Dilantik Prabowo Sore Ini

Hadir Sejak Siang, Ini Daftar 6 Pejabat yang Bakal Dilantik Prabowo Sore Ini

News | Senin, 27 April 2026 | 14:54 WIB

Terkini

Polemik Penggeledahan Rumah Tahfiz di Sukoharjo Kian Memanas, DPR Desak Pembentukan TGPF Independen

Polemik Penggeledahan Rumah Tahfiz di Sukoharjo Kian Memanas, DPR Desak Pembentukan TGPF Independen

News | Senin, 02 November 2026 | 01:02 WIB

KAI Mulai Buka Tiket Kereta untuk Perjalanan Desember 2026

KAI Mulai Buka Tiket Kereta untuk Perjalanan Desember 2026

Foto | Senin, 02 November 2026 | 00:11 WIB

SMK Nusantara Kembali Juara AXIS Nation Cup 2026

SMK Nusantara Kembali Juara AXIS Nation Cup 2026

Foto | Senin, 02 November 2026 | 00:09 WIB

Perang Dunia III di Depan Mata? Vladimir Putin: Rusia Siap Perang dengan Eropa

Perang Dunia III di Depan Mata? Vladimir Putin: Rusia Siap Perang dengan Eropa

News | Minggu, 01 November 2026 | 23:45 WIB

2 Juta Hektare Gambut Sumsel Punya Potensi Ekonomi, Bambu Betung dan Jelutung Diuji

2 Juta Hektare Gambut Sumsel Punya Potensi Ekonomi, Bambu Betung dan Jelutung Diuji

Sumsel | Minggu, 01 November 2026 | 23:42 WIB

Alex Marquez Persembahkan Podium untuk BK8 Gresini Racing di MotoGP Malaysia 2026

Alex Marquez Persembahkan Podium untuk BK8 Gresini Racing di MotoGP Malaysia 2026

Sport | Minggu, 01 November 2026 | 23:37 WIB

Nelayan Air Nyatoh Kehilangan Penghasilan, Tangkapan Ikan Teri Turun akibat Laut Keruh

Nelayan Air Nyatoh Kehilangan Penghasilan, Tangkapan Ikan Teri Turun akibat Laut Keruh

Sumsel | Minggu, 01 November 2026 | 23:29 WIB

Kecelakaan Maut Bus Penumpang Tabrak Truk Berat: 10 Orang Tewas dan 24 Luka

Kecelakaan Maut Bus Penumpang Tabrak Truk Berat: 10 Orang Tewas dan 24 Luka

News | Minggu, 01 November 2026 | 23:00 WIB

Pura-pura Ban Motor Bocor, Pria di Bandar Lampung Diduga Bunuh Sepupunya

Pura-pura Ban Motor Bocor, Pria di Bandar Lampung Diduga Bunuh Sepupunya

Lampung | Minggu, 01 November 2026 | 22:48 WIB

Viral Pasien Lansia Terlantar di Teras Puskesmas Bantarujeg, Ini Kronologinya

Viral Pasien Lansia Terlantar di Teras Puskesmas Bantarujeg, Ini Kronologinya

Jabar | Minggu, 01 November 2026 | 22:44 WIB

×