- Karyawan Kompas TV, Nur Ainia Eka Rahmadyna, meninggal dunia akibat kecelakaan KA di Stasiun Bekasi Timur, Senin malam.
- Tim DVI Polri berhasil mengidentifikasi sepuluh korban tewas kecelakaan kereta api tersebut pada Selasa siang di Jakarta.
- Pihak Kompas TV bertanggung jawab penuh mengurus jenazah almarhumah sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi kerja selama sebelas tahun.
Suara.com - Keluarga besar Kompas TV tengah diselimuti duka mendalam. Salah satu karyawan terbaiknya, Nur Ainia Eka Rahmadyna, terkonfirmasi menjadi salah satu korban meninggal dunia dalam kecelakaan maut yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan rangkaian KRL di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) malam.
Pemimpin Redaksi Kompas TV, Yogi Arief Nugroho, menyampaikan rasa kehilangan yang luar biasa atas kepergian sosok yang telah menjadi bagian penting dari operasional siaran stasiun televisi tersebut selama lebih dari satu dekade.
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Kami keluarga besar Kompas TV dan redaksi Kompas TV mengalami kehilangan yang luar biasa atas kepergian rekan kami, rekan kerja, sahabat, saudara kami yang bernama Nur Ainia Eka Rahmadyna yang menjadi korban dalam musibah kecelakaan Commuter Line tanggal 27 April malam," ungkap Yogi di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (28/4/2026).
Almarhumah Nur Ainia diketahui merupakan staf di departemen production support yang memiliki peran vital dalam setiap siaran langsung di studio.
Dedikasinya selama 11 tahun di Kompas TV meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh rekan kerjanya.
"Almarhumah bergabung dengan Kompas TV sejak bulan November tahun 2015, artinya ini tahun ke-11 di departemen production support, khususnya berada di peranan penting setiap kami bersiaran langsung di studio," tambahnya.
Yogi menjelaskan kronologi sebelum musibah terjadi. Berdasarkan catatan absensi kantor, almarhumah baru saja menyelesaikan pekerjaannya dan hendak pulang ke rumahnya di kawasan Tambun, Bekasi.
"Almarhumah tercatat meninggalkan kantor menurut catatan mesin absensi itu hari Senin tanggal 27 April pukul 19.31 WIB, tujuannya ke rumah almarhumah di Tambun. Alhamdulillah sudah teridentifikasi tadi baru saja dibawa ke rumah duka di Tambun," jelasnya.
Kekhawatiran keluarga bermula ketika sang adik, Ian, yang biasa menjemput di stasiun, mendengar kabar kecelakaan pada jam kepulangan kakaknya. Kabar tersebut kemudian diteruskan ke rekan-rekan kantor yang segera membentuk crisis center.
"Tadi ada adiknya, Ian namanya, itu biasa menjemput di stasiun. Sampai jam itu dia dapat informasi bahwa ada kecelakaan commuter line. Dia merasa bahwa itu kebiasaan jam kakaknya pulang. Terus kemudian dia mengecek dan menyampaikan ke rekan-rekan di kantor. Kemudian kita langsung membentuk tim crisis center dan hingga pukul 01.00 dini hari tadi belum ada kabar di semua rumah sakit," tutur Yogi menceritakan proses pencarian.
Setelah pencarian intensif sejak malam hingga pagi hari, kepastian mengenai kondisi Nur Aini baru didapatkan pada Selasa siang sekitar pukul 14.00 WIB melalui proses identifikasi resmi.
Sosok Nur Aini dikenal sebagai pribadi yang sangat loyal dan memiliki hubungan sosial yang baik dengan siapa saja.
Kinerjanya yang bersih tanpa catatan buruk selama belasan tahun menjadi bukti profesionalismenya.
"Sebelas tahun di Kompas TV itu bisa dibilang separuh lebih perjalanan Kompas TV yang sudah mau memasuki usia ke-15 tahun. Artinya separuh lebih yang bersangkutan dikenal luas pergaulannya, dikenal baik, inisiatifnya luar biasa, orangnya berkawan dengan siapa pun, dan loyalitas serta dedikasinya untuk pekerjaannya cukup baik. Terbukti 11 tahun, kemudian ada di departemen yang menurut kepala departemennya cukup baik dan kita paling tidak saya melihat dari nilai-nilai kinerjanya cukup baik," kenang Yogi.
Pihak Kompas TV menyatakan bertanggung jawab penuh atas pengurusan jenazah hingga pemakaman sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi almarhumah.
Jenazah telah dibawa ke rumah duka di Tambun dan rencananya akan dimakamkan pada Rabu (29/4) besok.
"Sekali lagi atas nama keluarga besar Kompas Gramedia, Kompas TV, dan redaksi Kompas TV kami mengucapkan belasungkawa yang sedalam-dalamnya, kehilangan yang sedalam-dalamnya. Semoga almarhumah dilapangkan kuburnya, keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan. Dan satu apresiasi terima kasih kepada keluarga besar Nur Aini atas dedikasi, atas sumbangsih 11 tahun untuk Kompas TV," pungkasnya.
Sebelumnya, Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri resmi menyelesaikan proses identifikasi terhadap seluruh jenazah korban kecelakaan kereta api yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur.
Kepala RS Polri Kramat Jati, Brigjen Pol. Prima Heru Yulihartono, mengonfirmasi bahwa sebanyak 10 jenazah yang diterima kini telah berhasil diketahui identitasnya.
Hal itu disampaikan Prima dalam konferensi pers yang digelar di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (28/4/2026).
Prima mengawali pernyataannya dengan menyampaikan rasa belasungkawa kepada keluarga korban.
"Dalam kesempatan ini, perkenankan kami dari Tim DVI Polri menyampaikan duka cita yang mendalam atas meninggalnya korban kecelakaan kereta api jarak jauh Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur, yang jenazahnya telah kami terima di Rumah Sakit Bhayangkara Tk. I Pusdokkes Polri sebanyak 10 kantong jenazah," ujar Prima, Selasa (28/4/2026).
Proses identifikasi ini melibatkan kolaborasi berbagai unsur ahli, mulai dari kedokteran kepolisian hingga tim forensik akademisi.
Prima menjelaskan, bahwa pemeriksaan telah rampung dilakukan pada siang hari ini.
"Sampai dengan sore hari ini, hari Selasa tanggal 28 April 2026 pukul 13.00, Tim DVI Polri yang terdiri dari Biro Dokpol Pusdokkes Polri, Rumah Sakit Bhayangkara Tk. I Pusdokkes Polri, Biddokkes Polda Metro Jaya, Tim Pusident Bareskrim Polri, dan Dokter Forensik FK UI telah menyelesaikan seluruh pemeriksaan terhadap 10 kantong jenazah yang dikirim dari TKP," jelasnya.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa data jumlah korban yang diterima oleh tim DVI telah sesuai dengan laporan yang masuk dari pihak keluarga.
Kepastian identitas para korban diputuskan melalui sidang rekonsiliasi yang dilakukan tak lama setelah pemeriksaan fisik selesai.
"Jumlah korban yang dilaporkan oleh pihak keluarga sampai saat ini sebanyak 10 orang. Pada pukul 14.00 WIB telah dilaksanakan sidang rekonsiliasi untuk menentukan identitas korban dan memutuskan 10 jenazah telah berhasil diidentifikasi," tegasnya.
Berikut identitas 10 jenazah yang teridentifikasi:
- Tutik Anitasari (Perempuan/31)
- Harum Anjasari (Perempuan/27)
- Nur Alimantun Citra Lestari (Perempuan/19)
- Farida Utami (Perempuan/52)
- Vica Acnia Fratiwi (Perempuan/23)
- Ida Nuraida (Perempuan/48)
- Gita Septia Wardany (Perempuan/20)
- Fatmawati Rahmayani (Perempuan/29)
- Arinjani Novita Sari (Perempuan/25)
- Nur Ainia Eka Rahmadhyna (Perempuan/32)