-
Militer Israel mengaktifkan kembali unit Netzah Yehuda setelah skorsing satu bulan akibat menyerang jurnalis.
-
Penyelidikan polisi militer terhadap pelaku pencekikan wartawan CNN di Tepi Barat masih belum transparan.
-
Polisi Israel juga menyelidiki kasus patah tulang pergelangan tangan produser CNN akibat kekerasan petugas.
Suara.com - Unit cadangan militer Israel yang berada di bawah naungan batalyon ultra-Ortodoks Netzah Yehuda telah resmi diaktifkan kembali.
Pengaktifan ini dilakukan hanya berselang satu bulan setelah mereka diskors karena melakukan penyerangan terhadap tim jurnalis CNN.
Keputusan redeploy atau penempatan kembali ini memicu tanda tanya besar mengenai efektivitas sanksi internal militer di wilayah konflik.
![Ilustrasi tentara Israel di Gaza. [Ist]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/05/24/17793-ilustrasi-tentara-israel-di-gaza-ist.jpg)
Pasukan tersebut sebelumnya ditarik dari tugas lapangan untuk mengikuti seminar pendidikan dan pelatihan tambahan sebagai bentuk hukuman.
Radio Angkatan Darat Israel melaporkan bahwa unit ini akan memulai aktivitas operasional secara penuh dalam hitungan hari.
Insiden kekerasan yang memicu skorsing ini terjadi pada tanggal 30 Maret silam di desa Tayasir, Tepi Barat.
Kala itu, para serdadu mengadang dan menahan tim peliput yang sedang mendokumentasikan aksi kekerasan pemukim ilegal.

Tindakan fisik brutal terekam jelas saat seorang prajurit mencekik jurnalis foto CNN, Cyril Theophilos, hingga tersungkur ke tanah.
Aksi tersebut tidak hanya melukai fisik jurnalis, tetapi juga menyebabkan kerusakan serius pada peralatan kamera milik tim media.
Kepala Staf IDF, Letnan Jenderal Eyal Zamir, sempat mengambil tindakan disipliner yang dianggap belum pernah terjadi sebelumnya.
Pihak militer Israel secara terbuka mengakui adanya penyimpangan dalam perilaku personel mereka di lapangan saat insiden berlangsung.
Terkait peristiwa tersebut, IDF menyatakan bahwa kejadian itu merupakan “kegagalan etis dan profesional yang serius.”
Militer menjanjikan pelatihan khusus untuk memperkuat landasan etika para prajurit sebelum mereka diperbolehkan kembali memegang senjata.
Komando Pusat Israel yang mengendalikan operasi di Tepi Barat menjadi pihak yang menentukan waktu kembalinya unit ini ke tugas aktif.
Seorang pejabat militer mengonfirmasi kepada CNN bahwa serangan terhadap Theophilos akan diperiksa oleh polisi militer.
Hingga saat ini, pihak kepolisian belum memberikan informasi mendetail mengenai temuan atau langkah hukuman konkret bagi pelaku.
Prajurit yang secara langsung menyerang fotojurnalis CNN diketahui belum menghadapi penangguhan tambahan atau sanksi disiplin yang jelas.
Situasi ini semakin memperumit citra penegakan hukum militer Israel di tengah pengawasan komunitas internasional terhadap keselamatan pers.
Ketidakjelasan hasil investigasi menimbulkan kekhawatiran akan berulangnya insiden serupa di masa depan tanpa ada konsekuensi jera.
Kasus ini menjadi preseden penting mengenai bagaimana militer menangani pelanggaran hak asasi manusia oleh personelnya sendiri.
Selain kasus di Tepi Barat, unit investigasi internal kepolisian Israel juga sedang mendalami insiden kekerasan lainnya yang berbeda.
Kasus ini melibatkan Abeer Salman, seorang produser senior CNN yang mengalami patah tulang pergelangan tangan akibat ulah petugas.
Insiden tersebut berlangsung pada 17 Maret saat Salman meliput ibadah Ramadan di luar Gerbang Singa, Kota Tua Yerusalem.
Petugas kepolisian melemparkan granat kejut ke arah jemaah Muslim yang dilarang memasuki Masjid Al-Aqsa karena pembatasan masa perang.
Dalam kekacauan tersebut, dua jurnalis sempat ditahan sementara peralatan kerja mereka dirusak oleh aparat keamanan di lokasi.
Rekaman di lokasi menunjukkan bahwa kelompok jurnalis sebenarnya telah mematuhi semua instruksi polisi untuk mundur ke area tertentu.
Namun, seorang petugas berpakaian preman tiba-tiba menarik tangan Salman dan memelintirnya hingga mengakibatkan cedera tulang yang cukup parah.
Persatuan Jurnalis di Israel mengecam pernyataan awal kepolisian yang dianggap “secara faktual tidak benar” mengenai kronologi kejadian tersebut.
Pihak polisi mengklaim jurnalis menolak mematuhi arahan dan tidak menunjukkan identitas pers, yang kemudian memicu kecurigaan di lapangan.
Pernyataan polisi menyebutkan perilaku jurnalis menimbulkan kecurigaan dan kamera yang dibawa “tampak dimaksudkan untuk memprovokasi.”
Hingga berita ini diturunkan, kepolisian Israel tetap enggan menjawab pertanyaan mendetail mengenai instruksi mana yang dilanggar jurnalis.
Mereka juga tidak menjelaskan mengapa kepemilikan kamera profesional dianggap sebagai sebuah tindakan provokasi yang mengancam keamanan.
Pihak berwenang hanya memberikan jawaban singkat mengenai keterbatasan informasi karena proses penyelidikan yang masih berjalan di internal.
Mengenai hal ini, pihak kepolisian menyatakan bahwa “Kami dilarang menangani masalah ini saat ini,” merujuk pada investigasi tersebut.
Belum ada jadwal pasti kapan investigasi terhadap kekerasan fisik yang menimpa Abeer Salman ini akan dinyatakan selesai sepenuhnya.
Kekerasan terhadap jurnalis di wilayah pendudukan Tepi Barat dan Yerusalem Timur telah lama menjadi sorotan organisasi hak asasi manusia internasional.
Batalyon Netzah Yehuda, yang terdiri dari kelompok ultra-Ortodoks, sering kali mendapat kecaman karena laporan perilaku agresif terhadap warga sipil Palestina dan pekerja media.
Insiden yang menimpa tim CNN ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di wilayah tersebut sejak konflik Gaza pecah pada Oktober 2023, di mana pembatasan akses liputan dan kekerasan fisik terhadap pers semakin intensif dilakukan oleh aparat keamanan Israel.