-
Terdakwa teror konser Taylor Swift di Wina mengakui semua tuduhan termasuk keanggotaan jaringan ISIS.
-
Rencana serangan bom tersebut menargetkan puluhan ribu penggemar yang berkumpul di luar stadion.
-
Taylor Swift merasa sangat ketakutan dan bersalah atas pembatalan konser demi keselamatan penggemarnya.
Suara.com - Beran A secara resmi mengakui segala perbuatannya dalam persidangan kasus terorisme di Wiener Neustadt.
Pengakuan ini menjadi titik balik penting dalam pengungkapan rencana serangan maut di konser Taylor Swift.
Dikutip dari CNN, pemuda berusia 21 tahun tersebut mengonfirmasi keterlibatannya dalam jaringan terlarang Islamic State atau ISIS.

Langkah hukum ini diambil setelah dirinya mendekam di balik jeruji besi sejak penangkapan Agustus 2024 silam.
Terdakwa kini menghadapi bayang-bayang hukuman penjara maksimal selama dua dekade akibat ambisi radikalnya tersebut.
Melalui kuasa hukumnya, terdakwa menyatakan permintaan maaf yang mendalam atas rencana jahat yang ia susun.
“Tentu saja, dia sangat menyesali semuanya,” ujar Anna Mair, pengacara pembela terdakwa, di luar ruang sidang.

Mair menekankan bahwa masa penahanan yang panjang telah mengubah cara pandang kliennya terhadap kesalahan masa lalu.
“Hal ini juga dikarenakan masa penahanan yang lama sehingga dia mengatakan itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya,” tambah Mair.
Kekecewaan penggemar Taylor Swift di seluruh dunia menjadi dampak nyata dari aktivitas kriminal yang ia rencanakan.
Fakta persidangan memaparkan bahwa target utama bukanlah area dalam stadion melainkan kerumunan di luar.
Sekitar 30.000 orang yang berkumpul di luar venue menjadi sasaran empuk untuk diledakkan dengan bom rakitan.
Otoritas keamanan menyebut bahwa tersangka berambisi untuk menghabisi nyawa manusia sebanyak mungkin dengan senjata tajam.
Bahan pembuat bom ditemukan di kediamannya hanya satu hari sebelum jadwal konser akbar tersebut dimulai.
Informasi intelijen dari Amerika Serikat memainkan peran krusial dalam keputusan pembatalan mendadak tiga pertunjukan besar tersebut.
Persidangan juga menyingkap fakta bahwa Beran A merupakan bagian dari sel teror yang lebih luas.
Ia disidang bersama Arda K yang diduga terlibat dalam rencana serangan serentak di beberapa negara.
Arab Saudi, Turki, dan Uni Emirat Arab menjadi target operasi mereka selama bulan suci Ramadan 2024.
Meskipun plot di Timur Tengah gagal dilakukan Beran, ia tetap melanjutkan niat jahatnya setibanya di Wina.
Integrasi jaringan ini menunjukkan betapa seriusnya ancaman radikalisme yang menyasar acara hiburan skala internasional.
Pembatalan konser di Wina meninggalkan luka mendalam bagi sang superstar yang dikenal sangat mencintai penggemarnya.
Setelah sempat bungkam demi alasan keamanan, Taylor Swift akhirnya membagikan ketakutan pribadinya melalui platform media sosial Instagram.
“Dibatalkannya pertunjukan kami di Wina sangat menghancurkan hati,” tulis Swift dalam sebuah pernyataan resmi dua minggu kemudian.
Ia merasa terbebani oleh rasa bersalah meskipun pembatalan tersebut adalah langkah untuk menyelamatkan banyak nyawa.
“Alasan pembatalan tersebut memenuhi saya dengan rasa takut yang baru, dan rasa bersalah yang luar biasa karena begitu banyak orang telah berencana untuk datang ke pertunjukan tersebut,” ungkap sang penyanyi.
Kasus ini bermula pada Agustus 2024 ketika polisi Austria menggerebek sebuah rumah yang berisi material peledak dan senjata tajam.
Penangkapan Beran A terjadi tepat saat demam Eras Tour melanda Wina, memaksa penyelenggara membatalkan seluruh jadwal demi keselamatan publik.
Tragedi ini sering dibanding-bandingkan dengan peristiwa ledakan bom di konser Ariana Grande di Manchester tahun 2017 yang menewaskan banyak remaja.
Hingga kini, proses hukum masih terus berjalan untuk menggali keterlibatan tersangka lain dalam jaringan ISIS tersebut.