Studi CISDI: 9 dari 10 Makanan Kemasan di Indonesia Tinggi Gula, Garam, dan Lemak

Vania Rossa

Rabu, 29 April 2026 | 23:25 WIB
Studi CISDI: 9 dari 10 Makanan Kemasan di Indonesia Tinggi Gula, Garam, dan Lemak
Ilustrasi makanan kemasan. Cara memahami label kandungan gizi di makanan kemasan. [ANTARA/Pexels]
baca 10 detik
  • Studi CISDI dan Universitas Airlangga mengungkap 9 dari 10 produk makanan kemasan di Indonesia mengandung GGL berlebih.
  • Penelitian yang melibatkan 8.077 sampel di delapan kota besar tersebut menyoroti penggunaan pemanis non-gula yang berisiko bagi kesehatan.
  • Para peneliti mendesak pemerintah memperketat ambang batas gizi dan menggunakan sistem label peringatan yang lebih tegas bagi konsumen.

Suara.com - Sebuah studi terbaru dari Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) mengungkap fakta mencemaskan terkait keamanan pangan di Indonesia. Hasil riset menunjukkan bahwa 9 dari 10 produk makanan kemasan mengandung kadar gula, garam, atau lemak (GGL) berlebih.

Penelitian ini dilakukan bersama Center for Health and Nutrition Education, Counseling, and Empowerment (CHeNECE) Universitas Airlangga, dengan menganalisis 8.077 sampel makanan dan minuman kemasan yang diambil dari delapan supermarket dan minimarket di Jakarta, Surabaya, Medan, dan Makassar.

Temuannya tidak hanya menunjukkan tingginya kadar GGL, tetapi juga adanya penggunaan pemanis non-gula yang berpotensi menimbulkan risiko kesehatan jika dikonsumsi dalam jangka panjang.

Dalam diseminasi riset bertajuk “Temuan Studi Nutrient Profile Models: Sembilan dari Sepuluh Pangan Kemasan di Indonesia Tinggi Gula, Natrium, atau Lemak”, Health Economics Research Associate CISDI, Muhammad Zulfiqar Firdaus, menilai persoalan ini sudah melampaui isu preferensi individu.

“Temuan ini menegaskan bahwa masyarakat Indonesia hidup dalam lingkungan pangan yang didominasi produk tinggi gula, garam, dan lemak. Ini bukan lagi sekadar soal edukasi individu, tetapi desain sistem yang perlu diperbaiki,” ujarnya, Selasa (28/4/2026).

Kritik terhadap Kebijakan Nutri-Level

Studi ini juga membandingkan Model Profil Gizi (Nutrient Profile Models/NPM) internasional dengan rancangan kebijakan Nutri-Level yang tengah dikembangkan di Indonesia. Hasilnya menunjukkan perbedaan signifikan.

Mengacu pada standar internasional seperti WHO, SEARO, dan PAHO, sekitar 90–95% produk kemasan di Indonesia tergolong tidak sehat. Namun, dengan ambang batas Nutri-Level yang diusulkan saat ini, hanya 73% produk yang masuk kategori tersebut.

Direktur CHeNECE sekaligus Guru Besar FKM Universitas Airlangga, Trias Mahmudiono, mengingatkan bahwa ambang batas yang terlalu longgar berpotensi menyesatkan konsumen.

baca juga

“Perbedaan ini menunjukkan bahwa ketepatan ambang batas sangat menentukan efektivitas kebijakan. Jika terlalu longgar, banyak produk tidak sehat yang lolos dari identifikasi,” jelasnya.

Selain itu, sistem label Nutri-Level dengan kategori bertingkat (A, B, C, D) dinilai berpotensi membingungkan. Produk dengan kategori C (kuning), misalnya, bisa saja sudah melampaui batas aman GGL, tetapi tetap dianggap “aman” oleh konsumen karena tidak diberi penanda yang tegas.

Dorongan Label Peringatan yang Lebih Tegas

CISDI mendorong pemerintah untuk tidak hanya mengandalkan label kategori, tetapi juga mempertimbangkan penggunaan label peringatan (warning label) yang lebih sederhana dan tegas, seperti sistem biner (lulus/tidak lulus) yang telah diterapkan di negara-negara Amerika Latin seperti Meksiko dan Chili.

Interim Chief of Policy, Advocacy, and Campaign CISDI, Muhammad Fachrial Kautsar, mengapresiasi langkah Kementerian Kesehatan yang telah menerbitkan KMK Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026, namun menekankan pentingnya penguatan berbasis bukti ilmiah.

“Keputusan ini adalah langkah awal yang penting untuk meningkatkan transparansi informasi gizi. Namun, implementasinya harus didukung bukti ilmiah agar benar-benar efektif melindungi kesehatan masyarakat,” pungkasnya.

Reporter: Dinda Pramesti K

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Sembilan dari 10 Pangan Kemasan Tinggi GGL, BPOM: Bukti Penting Penyempurnaan Kebijakan Pangan Sehat

Sembilan dari 10 Pangan Kemasan Tinggi GGL, BPOM: Bukti Penting Penyempurnaan Kebijakan Pangan Sehat

News | Selasa, 28 April 2026 | 19:31 WIB

Sembilan dari 10 Pangan Kemasan Tinggi GGL, KPAI: Generasi Emas Terancam Gagal Ginjal Dini

Sembilan dari 10 Pangan Kemasan Tinggi GGL, KPAI: Generasi Emas Terancam Gagal Ginjal Dini

News | Selasa, 28 April 2026 | 18:04 WIB

CISDI Ungkap Mayoritas Pangan Kemasan di Indonesia Tidak Sehat, Ajukan 5 Rekomendasi Kebijakan

CISDI Ungkap Mayoritas Pangan Kemasan di Indonesia Tidak Sehat, Ajukan 5 Rekomendasi Kebijakan

News | Selasa, 28 April 2026 | 16:38 WIB

Terkini

BI Luncurkan Layanan Baru Penukaran Uang Rusak, Warga Sumsel Kini Punya Lebih Banyak Pilihan

BI Luncurkan Layanan Baru Penukaran Uang Rusak, Warga Sumsel Kini Punya Lebih Banyak Pilihan

Sumsel | Rabu, 29 Juli 2026 | 23:40 WIB

Dicap Menteri Problematik, Menhut Raja Juli Dikecam Usai Prioritaskan Hutan untuk TNI

Dicap Menteri Problematik, Menhut Raja Juli Dikecam Usai Prioritaskan Hutan untuk TNI

News | Rabu, 29 Juli 2026 | 23:16 WIB

Tol Akses Patimban Capai 68 Persen, Pemerintah Kebut Konektivitas ke Pelabuhan Strategis Nasional

Tol Akses Patimban Capai 68 Persen, Pemerintah Kebut Konektivitas ke Pelabuhan Strategis Nasional

News | Rabu, 29 Juli 2026 | 23:16 WIB

Metodologi Audit BPKP Dinilai Tak Konsisten, Pakar Desak Evaluasi Total

Metodologi Audit BPKP Dinilai Tak Konsisten, Pakar Desak Evaluasi Total

News | Rabu, 29 Juli 2026 | 23:06 WIB

Ada Jejaring Kolektif, Pakar Ungkap Kekayaan Negara Bocor Puluhan Tahun ke Kantong Pribadi

Ada Jejaring Kolektif, Pakar Ungkap Kekayaan Negara Bocor Puluhan Tahun ke Kantong Pribadi

News | Rabu, 29 Juli 2026 | 22:57 WIB

Truk Hantam Motor Scoopy di Cileungsi, Penjaga Warung Madura Tutup Usia di Tempat?

Truk Hantam Motor Scoopy di Cileungsi, Penjaga Warung Madura Tutup Usia di Tempat?

Bogor | Rabu, 29 Juli 2026 | 22:37 WIB

Perempuan Kini Tak Hanya Menabung, Tapi Juga Mulai Memilih Investasi yang Berdampak

Perempuan Kini Tak Hanya Menabung, Tapi Juga Mulai Memilih Investasi yang Berdampak

Lifestyle | Rabu, 29 Juli 2026 | 22:28 WIB

Stop Jadi Beban Jalanan, Jasa Raharja-Korlantas Polri Perangi Budaya Melawan Arus

Stop Jadi Beban Jalanan, Jasa Raharja-Korlantas Polri Perangi Budaya Melawan Arus

News | Rabu, 29 Juli 2026 | 22:27 WIB

Industri Hiburan Indonesia Naik Kelas, Teknologi Jadi Senjata Baru di Balik Pengalaman Spektakuler

Industri Hiburan Indonesia Naik Kelas, Teknologi Jadi Senjata Baru di Balik Pengalaman Spektakuler

Lifestyle | Rabu, 29 Juli 2026 | 22:23 WIB

Bale by BTN Permudah Masyarakat Miliki Rumah Lewat Kolaborasi dengan Rumah123

Bale by BTN Permudah Masyarakat Miliki Rumah Lewat Kolaborasi dengan Rumah123

Bisnis | Rabu, 29 Juli 2026 | 22:22 WIB

×