-
Pete Hegseth membela biaya perang Iran senilai 25 miliar dolar di hadapan Kongres Amerika.
-
Menhan AS menyebut kritik dari politisi Demokrat sebagai hambatan terbesar bagi keberhasilan misi.
-
Anggota Kongres mengkritik lonjakan anggaran militer dan dampak ekonomi akibat blokade laut Iran.
Suara.com - Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth secara tegas menampik tuduhan bahwa keterlibatan militer di Iran telah menjadi rawa kegagalan.
Ia menyampaikan pembelaan tersebut di hadapan Komite Angkatan Bersenjata DPR AS saat memaparkan rincian biaya operasi yang sudah mencapai angka 25 miliar dolar.
Dikutip dari Guardian, Hegseth justru melemparkan kritik tajam kepada para politisi di Washington yang mempertanyakan arah kebijakan luar negeri pemerintah saat ini.
![Perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran yang dimulai pada 28 Februari lalu terus memicu korban besar di berbagai negara Timur Tengah. [amnesty.org]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/19/37718-korban-perang-iran.jpg)
Pihak Pentagon kini tengah mengupayakan persetujuan anggaran militer total sebesar 1,5 triliun dolar untuk memperkuat posisi global mereka.
“Lawan terbesar yang kita hadapi saat ini adalah kata-kata ceroboh, lemah, dan menyerah dari Partai Demokrat di Kongres dan beberapa dari Partai Republik,” ujar Hegseth.

Kepala Pejabat Keuangan Pentagon, Jules Hurst III, mengonfirmasi bahwa pengeluaran senilai 25 miliar dolar tersebut bersifat akumulatif dan terus bertambah.
Alokasi dana terbesar digunakan untuk penyediaan amunisi, pemeliharaan peralatan tempur, serta penggantian alutsista yang rusak di medan laga.
Meskipun biaya terus membengkak, Hegseth menilai operasi ini sebagai langkah krusial demi menjamin keamanan nasional warga Amerika Serikat.
Ia membandingkan ketahanan pasukan saat ini dengan sejarah panjang pengerahan militer di Vietnam, Irak, hingga wilayah Afghanistan.
Hegseth tetap bangga dengan misi ini walaupun durasi konflik telah melampaui prediksi awal Donald Trump yang berkisar empat hingga enam minggu.
“Siapa yang Anda dukung di sini? Siapa yang Anda bela?” sergah Hegseth saat menanggapi kritik keras mengenai kompetensi kepemimpinan.
Anggota Kongres John Garamendi menyerang balik dengan menyebut kebijakan pemerintah sebagai bencana politik dan ekonomi di berbagai level.
Garamendi menilai Amerika Serikat kini terjebak dalam rawa peperangan baru di kawasan Timur Tengah akibat kesalahan langkah strategis.
“Presiden telah menjebak dirinya sendiri dan Amerika dalam quagmire perang lain di Timur Tengah,” kata Garamendi di ruang sidang.
Hegseth merespons dengan menyebut kritik tersebut sebagai materi propaganda yang menguntungkan musuh serta bentuk kebencian terhadap figur Trump.