- Persatuan Rakyat Indonesia Anti Imperialis akan menggelar aksi massa di depan Gedung DPR/MPR pada Jumat, 1 Mei 2026.
- Koalisi organisasi tersebut menyampaikan 15 tuntutan terkait kesejahteraan buruh, reforma agraria, kebijakan ekonomi, hingga politik luar negeri Indonesia.
- Aksi ini bertujuan memprotes kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan masyarakat serta mendesak perubahan regulasi bagi pekerja dan petani.
Suara.com - Gabungan organisasi yang tergabung dalam Persatuan Rakyat Indonesia Anti Imperialis (Perisai) akan menggelar aksi demo di depan Gedung DPR/MPR RI pada peringatan Hari Buruh Internasional (May Day), Jumat (1/5/2026) besok.
Dalam aksi tersebut, koalisi ini membawa 15 tuntutan utama yang menyasar kebijakan domestik hingga isu internasional.
Pernyataan sikap dan poin tuntutan tersebut disampaikan secara resmi di Sekretariat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jakarta Selatan, pada Kamis (30/4/2026).
Juru Bicara Perisai, Saifullah Wathoni, menyatakan aksi ini merupakan bentuk protes terhadap sistem yang dinilai masih memiskinkan kaum buruh dan rakyat.
"Kami membawa 15 tuntutan, mulai dari isu kesejahteraan buruh, agraria, hingga kebijakan luar negeri pemerintah," ujar Saifullah yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA).
Beberapa tuntutan utama yang diusung antara lain adalah desakan kepada Presiden Prabowo Subianto untuk menaikkan upah buruh, menghapus sistem outsourcing dan kontrak, serta menolak praktik kerja paksa di industri pertambangan.
Perisai juga menyoroti nasib pengemudi ojek online dengan menuntut pengesahan UU Pekerja Platform dan penurunan potongan aplikasi menjadi 10 persen.
Di sektor agraria dan pangan, Perisai menuntut penghentian monopoli tanah, jaminan ketersediaan pupuk bagi petani, serta penurunan harga bahan pangan dan pajak rakyat.
Mereka juga secara spesifik meminta pengembalian lahan masyarakat yang diklaim oleh instansi pertahanan di beberapa wilayah, seperti Rancapinang dan Rumpin.
Selain isu ekonomi, koalisi ini juga menuntut sikap politik luar negeri Indonesia, di antaranya mendesak pemerintah keluar dari kerja sama Major Defense Cooperation Partnership (MDCP) dan membatalkan perjanjian Agreement on Reciprocal Trade (ART).
Aksi May Day ini rencananya akan diikuti oleh berbagai elemen organisasi, di antaranya AGRA, Serikat Pekerja Transportasi (SEPETA), Serikat Buruh Industri Pertambangan dan Energi (SBIPE), Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia (ATKI), serta sejumlah organisasi mahasiswa seperti GMNI, FMN, dan BEM STHI Jentera.
Massa dijadwalkan berkumpul di depan kompleks parlemen untuk menyuarakan aspirasi mereka sepanjang hari esok.