Iran menutup akses Selat Hormuz dari Laut Arab bagi kapal musuh dan sekutunya.
Laksamana Muda Shahram Irani memperingatkan adanya senjata rahasia baru untuk menghadapi ancaman asing.
Serangan rudal Iran berhasil melumpuhkan operasional kapal induk Abraham Lincoln selama beberapa waktu.
Suara.com - Angkatan Laut Iran mengambil langkah ekstrem dengan menutup total akses Selat Hormuz dari arah Laut Arab.
Keputusan ini menjadi titik balik krusial dalam peta keamanan maritim global guna memutus logistik pihak musuh.
Dikutip dari Tasnimnews, langkah strategis tersebut diambil sebagai balasan langsung terhadap tekanan internasional yang terus menyudutkan posisi Iran.

Seluruh kapal yang terafiliasi dengan negara lawan kini dilarang keras melintasi jalur perdagangan energi tersibuk dunia ini.
Penutupan ini sekaligus membuktikan bahwa kedaulatan perairan wilayah tersebut kini berada sepenuhnya di bawah kendali Teheran.
Laksamana Muda Shahram Irani menegaskan bahwa militer Iran tidak akan ragu melakukan tindakan fisik jika ada pelanggaran.
"Mereka bergerak sedikit lebih dekat, kami akan mengambil tindakan operasional tanpa penundaan," tegas Komandan Angkatan Laut Iran tersebut.

Kini setiap kapal yang ingin melintas wajib mendapatkan izin resmi dari otoritas Iran sesuai regulasi terbaru.
Kebijakan ketat ini merupakan respons atas upaya blokade ilegal terhadap pelabuhan-pelabuhan utama di wilayah Iran.
Meskipun ditekan, armada domestik Iran dilaporkan tetap berhasil melakukan aktivitas bongkar muat dan mencapai tujuan mereka.
Iran mengklaim telah menyiapkan teknologi tempur mutakhir yang selama ini sangat ditakuti oleh militer negara-negara Barat.
"Republik Islam akan 'segera' menghadapi musuh dengan senjata yang sangat mereka takuti," ujar Irani memberikan peringatan keras.
Dirinya menambahkan bahwa senjata mematikan tersebut saat ini sudah berada di posisi yang sangat dekat dengan lawan.
"Dan itu ada tepat di sebelah mereka (juga), saya harap mereka tidak terkena serangan jantung," ungkap Irani terkait keberadaan senjata itu.
Optimisme musuh untuk menundukkan Iran dalam waktu singkat kini disebutnya hanya menjadi bahan lelucon di akademi militer.