- Presiden Prabowo menetapkan Perpres Nomor 27 Tahun 2026 yang mengatur potongan maksimal aplikator ojek online sebesar 8 persen.
- Kebijakan yang diumumkan pada Hari Buruh 2026 ini bertujuan meningkatkan pendapatan bersih pengemudi yang selama ini terpotong besar.
- Para pengemudi ojek online di Jakarta menyambut positif kebijakan tersebut guna memperbaiki kesejahteraan mereka secara lebih menyeluruh.
Suara.com - Rencana penurunan potongan aplikasi ojek online (ojol) menjadi 8 persen yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto saat Hari Buruh 2026 menuai respons beragam dari para driver di lapangan.
Di satu sisi, kebijakan ini dianggap sebagai angin segar untuk meningkatkan pendapatan, namun di sisi lain masih menyisakan keraguan terkait implementasi dan dampaknya terhadap tarif bagi penumpang.
Anton, salah satu driver ojol, mengungkapkan bahwa potongan yang berlaku saat ini tidak selalu sesuai dengan ketentuan 20 persen. Dalam praktiknya, ia menilai potongan bisa mendekati 30 persen dari tarif yang dibayarkan pelanggan.
“Sebenernya sekarang bukan 20 persen, tapi lebih dari 20 persen, bisa hampir 30 persen sebenernya,” Anton kepada Suara.com saat di temui di kawasan Jakarta Barat, Sabtu (2/5/2026).
Menurutnya, kondisi ini terlihat dari selisih tarif yang dibayarkan pelanggan dengan pendapatan yang diterima driver.
“Dari customer jarak deket aja bisa Rp18 ribu, tapi nyampe ke kitanya paling cuma Rp9 ribu, Rp10 ribu,” jelasnya.
Situasi tersebut berdampak langsung pada penghasilan harian. Anton menuturkan, untuk mencapai pendapatan Rp200 ribu, ia harus bekerja hingga malam hari dengan setengahnya habis untuk biaya operasional.
“Sekarang dapet Rp200 ribu aja bisa sampai malam, itu abis Rp100 ribu tuh buat operasional, buat bensin, buat makan,” katanya.
Artinya, pendapatan bersih yang bisa dibawa pulang hanya sekitar setengah dari total pemasukan. Meski demikian, Anton menyambut positif wacana penurunan potongan menjadi 8 persen.
“Kalau bener ada jadi 8 persen ya… ya semoga aja sih. Jadi pendapatan kita kan bisa lebih naik juga,” ujar Anton.
Ia juga mengaku tidak terlalu khawatir jika nantinya terjadi kenaikan tarif bagi penumpang. Menurutnya, layanan ojol sudah menjadi kebutuhan.
“Kalau buat customer kan kayak kebutuhan ya, pasti sih tetep digunain,” katanya.
Pandangan serupa disampaikan Alex, driver ojol lainnya yang telah bergabung sejak 2015.
Ia menilai penurunan potongan akan berdampak signifikan terhadap peningkatan pendapatan driver.
“Dari 20% ini menjadi 8% ini kan suatu keuntungan buat driver ya. Karena dari segi pendapatan driver itu bisa lebih, lebih up lagi,” ujarnya.