- Seorang anggota TNI merusak warung di Jalan Kodam Raya, Jakarta Pusat, pada Minggu (3/5/2026) dini hari.
- Peristiwa bermula saat pelaku menolak membayar biaya administrasi transaksi QRIS untuk pembelian rokok di warung tersebut.
- Pelaku bersama rekan-rekannya melakukan penganiayaan serta merusak fasilitas toko hingga menyebabkan korban mengalami trauma mendalam.
Suara.com - Sebuah warung kelontong di Jalan Kodam Raya, Sumur Batu, Jakarta Pusat, dirusak oleh seorang anggota TNI-AD. Peristiwa ini dipicu penolakan pelaku untuk membayar biaya administrasi saat melakukan pembayaran menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).
Berdasarkan keterangan yang dirangkum oleh Suara.com dari lokasi kejadian, peristiwa ini terjadi pada Minggu (3/5/2026) sekitar pukul 04.00 WIB.
Pelaku saat itu membeli sebungkus rokok di warung yang tidak jauh dari Markas Komando Daerah Militer (Kodam). Pelaku yang tidak memiliki uang tunai ingin melakukan transaksi menggunakan QRIS.
Namun, penjaga memberitahukan bahwa pembayaran menggunakan QRIS dikenakan biaya administrasi sebesar Rp1.000 per transaksi. Biaya admin tersebut dikenakan karena transaksi melalui QRIS mengalami potongan.

Pelaku menolak membayar biaya admin tersebut. Ia sempat marah-marah dan mengaku sebagai anggota TNI kepada penjaga warung. Penjaga warung pun tetap bersikeras menerapkan biaya admin sesuai instruksi pemilik warung.
Saat itu, warung kelontong dijaga oleh Dedi dan istrinya. Pelaku kemudian melayangkan bogem mentah kepada istri Dedi.
Dedi yang tidak terima atas perlakuan pelaku terhadap istrinya langsung mendorong pelaku. Selanjutnya, pelaku menghantam etalase toko menggunakan tabung gas.
Pelaku kemudian pulang ke markasnya dan melaporkan kejadian tersebut kepada rekan-rekannya. Tak berselang lama, pelaku bersama rekan-rekannya mendatangi lokasi dan kembali melakukan perusakan.
Ketua RT 9, Bambang, membenarkan bahwa pelaku merupakan anggota TNI. Hal itu diketahui setelah ia menerima kunjungan dari pihak provos yang menyambangi rumahnya.
“Menurut informasi, iya (anggota TNI). Anggota datang ke rumah saya tuh cuma hanya pengen silaturahmi ke keluarga korban,” kata Bambang, di lokasi, Selasa (5/5/2026).
Hingga saat ini, kata Bambang, pihak korban dan pemilik warung belum dapat bertemu dengan pelaku karena masih mengalami trauma pascakejadian.
Hal tersebut disampaikan Bambang setelah berkomunikasi dengan pemilik warung melalui sambungan telepon.
“Nanti tunggu kabar, saya Pak RT kalau saya sudah pulih. Biar kan juga bisa ibaratnya bisa bicara enak gitu karena kan selama ini kan kondisinya kan belum pulih 100 persen,” ujarnya.
Sementara itu, warung yang dirusak hingga kini masih ditutup rapat. Berdasarkan pantauan di lokasi, beberapa pecahan beling masih ditumpuk akibat pecahan kaca kulkas yang digunakan untuk memajang minuman dingin.