- Korlantas Polri menyelidiki kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026 secara transparan melalui metode ilmiah.
- Insiden tragis yang melibatkan taksi mogok dan dua rangkaian kereta tersebut mengakibatkan 16 orang meninggal serta puluhan terluka.
- Penyelidikan dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan untuk meninjau faktor kelalaian manusia serta kondisi sarana prasarana perlintasan kereta api.
Suara.com - Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri memastikan penanganan kasus kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026 berjalan dengan transparan dan objektif.
Direktur Penegakan Hukum Korlantas Polri Brigadir Jenderal Polisi Faizal dalam keterangan di Jakarta, Selasa (5/5/2026), mengatakan bahwa pihaknya menggandeng seluruh pemangku kepentingan terkait dalam penyidikan kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL tersebut.
"Kami juga telah menggandeng seluruh stakeholder terkait untuk bahu-membahu mencari titik terang dari peristiwa kecelakaan ini secara scientific investigation, baik dari sisi manusia (ada atau tidaknya human error), kendaraan, dan sarana-prasarana yang terlibat yang menyebabkan terjadinya kecelakaan tersebut ada atau tidaknya malafungsi yang terjadi," ungkapnya.
Ia mengatakan bahwa kecelakaan lalu lintas merupakan peristiwa yang kerap tidak terduga.
Akan tetapi, sejatinya dapat dicegah dan diminimalisasi melalui kepatuhan dan kesadaran pengguna jalan.
Faizal menuturkan salah satu faktor terjadinya peristiwa kecelakaan kereta di Bekasi Timur itu adalah fasilitas jalan yang dilewati belum sepenuhnya dilengkapi dengan palang pintu dan belum dijaga sepenuhnya oleh petugas kereta api.
Dalam menyikapi peristiwa tersebut, Korlantas Polri tidak berfokus pada penentuan siapa yang salah maupun pihak yang harus bertanggung jawab atas kecelakaan di perlintasan sebidang itu.
![Ilustrasi kecelakaan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur. [Suara.com/Syahda]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/29/41790-kecelakaan-krl-dan-ka-argo-bromo-anggrek-di-stasiun-bekasi-timur.jpg)
Akan tetapi, menurut Faizal, hal yang lebih penting untuk digarisbawahi adalah besarnya dampak yang ditimbulkan, yakni 16 korban jiwa serta puluhan korban luka-luka.
Ia pun memastikan bahwa saat ini penyidikan mendalam tengah dilakukan guna menemukan titik terang.
"Tentunya semua itu dalam proses penyidikan yang mendalam dan saat ini masih berlangsung penyidikannya," ujarnya sebagaimana dilansir Antara.
Adapun kecelakaan kereta yang terjadi pada Senin (27/4) malam itu menewaskan total 16 orang dan puluhan orang lainnya mengalami luka-luka.
Insiden itu dipicu mogoknya taksi Green SM di tengah perlintasan sebidang akibat gangguan sistem kelistrikan. Mobil tersebut kemudian dihantam oleh KRL yang melintas.
Imbas dari kecelakaan pertama, satu rangkaian KRL tujuan Cikarang terhenti darurat di Stasiun Bekasi Timur.
Dalam posisi berhenti tersebut, rangkaian KRL justru ditabrak dari belakang oleh KA Argo Bromo Anggrek.