- Serikat buruh dan petani di Bolivia menggelar mogok nasional tanpa batas waktu akibat krisis ekonomi terburuk dalam empat dekade.
- Demonstrasi masif memicu blokade transportasi di berbagai kota besar setelah pemerintah mencabut subsidi bahan bakar yang memicu lonjakan harga.
- Sepuluh organisasi nasional menuntut kenaikan upah serta perbaikan kebijakan publik dengan komitmen bersama menggulingkan pemerintahan Presiden Rodrigo Paz.
Suara.com - Bolivia mengalami kelumpuhan nasional setelah dua organisasi terbesar negara itu, serikat buruh Central Obrera Boliviana (COB) dan serikat petani Confederación Sindical Unica de Trabajadores Campesinos de Bolivia (CSUTCB), menggelar mogok umum tanpa batas waktu.
Aksi besar-besaran tersebut dilakukan di tengah krisis ekonomi yang disebut-sebut sebagai yang terburuk dalam empat dekade terakhir.
Puluhan ribu buruh, petani, sopir angkutan, hingga kelompok masyarakat adat turun ke jalan di berbagai kota utama Bolivia.
Gelombang demonstrasi memicu sekitar 70 blokade jalan yang membuat aktivitas transportasi lumpuh di sejumlah wilayah penting seperti La Paz, El Alto, Cochabamba, Oruro, hingga Sucre.
Situasi semakin memanas setelah perwakilan dari sepuluh organisasi nasional menandatangani 'Perjanjian Persatuan dan Loyalitas' yang berisi komitmen bersama untuk menggulingkan pemerintahan Presiden Rodrigo Paz.
Sekretaris Jenderal COB, Mario Argollo menegaskan aksi mogok akan terus berlangsung sampai pemerintah memenuhi tuntutan rakyat.
"Mulai hari ini, pemogokan umum, tak terbatas, dan aktif dideklarasikan, hingga pemerintah memahami tuntutan rakyat," ujar Argollo di hadapan massa aksi di El Alto dikutip dari Al Jazeera.
Demonstrasi yang telah memasuki hari ketiga itu dipicu oleh sejumlah persoalan utama, mulai dari kebijakan pertanian, pendidikan, hingga ketenagakerjaan.
Sebelumnya, COB sudah menyerukan aksi mogok sejak pekan lalu bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional.
Pada Selasa, serikat buruh bergabung dengan pekerja sektor transportasi dan pendidikan dalam aksi turun ke jalan.
Bentrokan dengan aparat keamanan pun pecah di sekitar istana kepresidenan di La Paz setelah polisi menembakkan gas air mata ke arah demonstran.
Sementara di El Alto, para pekerja sektor publik memblokade jalan menggunakan bus, truk, dan mobil.
Salah satu pemicu utama kemarahan publik adalah keputusan pemerintah mencabut subsidi bahan bakar yang selama puluhan tahun menjaga harga bensin tetap stabil sejak 2006.
Setelah subsidi dicabut, harga solar melonjak tajam dari 3,72 boliviano (sekitar Rp9.422) menjadi 9,80 boliviano (sekitar Rp24.823) per liter.
Harga bensin premium juga naik hampir dua kali lipat menjadi 6,96 boliviano (sekitar Rp17.629) per liter.