- Presiden Prabowo mencari keberadaan Dony Oskaria saat meresmikan Museum dan Rumah Singgah Marsinah di Nganjuk.
- Presiden memberikan teguran bercanda kepada Dony Oskaria karena tidak hadir dalam acara resmi kabinet tersebut.
- Ketidakhadiran Dony disebabkan oleh kondisi kesehatan menurun akibat beban kerja tinggi dalam ritme pemerintah yang cepat.
Suara.com - Ada momen menarik saat Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, memberikan pidato sambutan dalam acara peresmian Museum dan Rumah Singgah Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur.
Di tengah acara formal tersebut, Presiden Prabowo sempat melakukan "absen" terhadap jajaran menteri dan kepala badan dalam Kabinetnya yang hadir.
Suasana menjadi riuh saat Presiden mendapati salah satu pejabatnya, yakni Kepala Badan Pengaturan BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, tidak terlihat di lokasi acara.
"Kepala Badan Pengaturan BUMN sekaligus COO Danantara saudara Dony Oskaria, oh nggak hadir? Coba catat, nanti menghadap saya. Menghadap nggak dapat bonus," ujar Presiden Prabowo yang disambut tawa para hadirin.
Presiden kemudian berkelakar mengenai dua alasan mengapa seorang pejabat harus menghadap dirinya.
"Jadi menghadap tuh ada dua macem; kalau prestasi menghadap, kalau masalah ngadep juga," selorohnya.
Namun, di balik candaan tersebut, Presiden Prabowo memberikan pembelaan dan apresiasi tinggi terhadap dedikasi jajaran kabinetnya.
![Kepala BP BUMN Dony Oskaria. [Antara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/07/45756-kepala-bp-bumn-dony-oskaria.jpg)
Ia mengungkapkan bahwa ketidakhadiran Dony Oskaria disebabkan oleh kondisi kesehatan yang menurun akibat beban kerja yang sangat tinggi.
"Tapi nggak, pasti dia sibuk mengatur-mengatur, orang kerja keras. Catat itu, saking kerja kerasnya masuk rumah sakit. Berapa minggu di rumah sakit ini, berapa minggu dia masuk rumah sakit," ungkap Presiden dengan nada serius namun bangga.
Lebih lanjut, Prabowo membeberkan bahwa fenomena pejabat kabinet yang jatuh sakit bukan hanya dialami oleh Dony Oskaria.
Ia menyebut bahwa ritme kerja cepat yang ia terapkan membuat banyak jajarannya harus berkorban secara fisik.
"Menteri-menteri saya masuk rumah sakit karena kerjanya keras," pungkasnya.