Sebut Kelas Menengah Makin Rentan, Sosiolog UGM: Apabila Tak Diatasi Cepat, Dampaknya Akan Beruntun

Dwi Bowo Raharjo, Hiskia Andika Weadcaksana

Kamis, 21 Mei 2026 | 11:21 WIB
Sebut Kelas Menengah Makin Rentan, Sosiolog UGM: Apabila Tak Diatasi Cepat, Dampaknya Akan Beruntun
Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Arie Sujito. [Suarajogja.id/Hiskia Andika Weadcaksana]
baca 10 detik
  • Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memicu tekanan ekonomi bagi masyarakat kelas menengah dan bawah di Indonesia.
  • Sosiolog UGM Arie Sujito menyatakan penurunan daya beli masyarakat kini berpotensi memicu dampak sosial dan ketidakstabilan politik nasional.
  • Berkurangnya kapasitas fiskal negara menghambat pelayanan publik sehingga pemerintah perlu segera mengambil kebijakan darurat yang tepat sasaran.

Suara.com - Tren pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang dalam beberapa pekan terakhir memicu kekhawatiran publik terhadap kondisi ekonomi domestik.

Di tengah gejolak tersebut, kelompok kelas menengah dinilai menjadi pihak yang paling rentan merasakan dampaknya.

Menurut Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Arie Sujito, kenaikan berbagai biaya kebutuhan hidup membuat masyarakat harus menghitung ulang pengeluaran rumah tangga.

Termasuk menyesuaikan berbagai rencana hidup yang sebelumnya telah disusun.

Kondisi tersebut perlahan memengaruhi pola konsumsi masyarakat, terutama untuk kebutuhan sekunder yang mulai dikurangi demi menjaga kestabilan ekonomi keluarga.

Belum lagi ketika cadangan sumber daya ekonomi yang dimiliki masyarakat mengalami penurunan nilai secara signifikan.

Tekanan ekonomi global saat ini membuat negara menghadapi tantangan besar untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mempertahankan kemampuan subsidi bagi masyarakat.

Dampak dari kondisi global tersebut dalam jangka pendek dinilai paling cepat dirasakan kelompok kelas menengah dan masyarakat bawah.

"Kalau negara tidak memiliki kemampuan mengatasi secara cepat, dampaknya akan beruntun," kata Arie, dikutip Kamis (21/5/2026).

baca juga
Petugas salah satu tempat penukaran mata uang asing menunjukkan uang rupiah dan dollar AS di Jakarta, Selasa (19/5/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
Petugas salah satu tempat penukaran mata uang asing menunjukkan uang rupiah dan dollar AS di Jakarta, Selasa (19/5/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]

Ketika masyarakat mulai kesulitan memenuhi kebutuhan primer, dampaknya tidak lagi terbatas pada persoalan ekonomi rumah tangga semata.

"Kalau sudah masuk ke kebutuhan primer itu akan punya dampak secara sosial," ujarnya.

Arie menilai negara sebenarnya telah menjalankan berbagai program perlindungan sosial untuk menjaga daya tahan masyarakat di tengah tekanan ekonomi. Namun, ia melihat langkah tersebut belum sepenuhnya mampu menjawab krisis yang terjadi di lapangan.

"Terjadi diskoneksi antara upaya-upaya program yang dilakukan itu dengan krisis yang terjadi," tuturnya.

Ia juga menyoroti berkurangnya kapasitas fiskal negara dan daerah yang dinilai turut memperbesar tekanan sosial ekonomi masyarakat.

Menurutnya, penurunan transfer fiskal dari pemerintah pusat membuat banyak daerah mengalami kesulitan pembiayaan pembangunan dan pelayanan publik.

Dampaknya mulai terasa di berbagai sektor, termasuk pendidikan yang harus menghadapi pengurangan anggaran dan berbagai keterbatasan pembiayaan.

Dalam situasi seperti ini, berbagai institusi dituntut mampu bertahan di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat.

Arie menilai kondisi tersebut tidak dapat dianggap sebagai persoalan ringan. Pasalnya memang berkaitan langsung dengan keberlanjutan pelayanan publik bagi masyarakat.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa krisis ekonomi yang tidak segera ditangani berpotensi berkembang menjadi krisis sosial bahkan politik. Menurutnya, tekanan yang dialami kelas menengah dapat memicu dampak berantai terhadap kelompok masyarakat lain, terutama kelas bawah yang memiliki daya tahan ekonomi lebih lemah.

Ia menilai pemerintah perlu menyiapkan langkah strategis dan kebijakan darurat yang mampu meredam dampak krisis secara cepat dan tepat sasaran.

"Apabila tekanan ekonomi terus menumpuk tanpa solusi yang jelas, kondisi ini dikhawatirkan memengaruhi stabilitas sosial dan kepercayaan masyarakat terhadap negara," tandasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Rupiah Dibuka Menguat Tipis ke Level Rp17.652 per Dolar AS

Rupiah Dibuka Menguat Tipis ke Level Rp17.652 per Dolar AS

Bisnis | Kamis, 21 Mei 2026 | 09:21 WIB

BI Mulai Kehabisan Cadev? Prabowo Wajibkan Eksportir Parkir Dolar di RI Mulai 1 Juni 2026

BI Mulai Kehabisan Cadev? Prabowo Wajibkan Eksportir Parkir Dolar di RI Mulai 1 Juni 2026

Bisnis | Rabu, 20 Mei 2026 | 14:42 WIB

Heboh Pernyataan Prabowo 'Rakyat Desa Tak Pakai Dolar', Strategi Tenangkan Warga atau Gaslighting?

Heboh Pernyataan Prabowo 'Rakyat Desa Tak Pakai Dolar', Strategi Tenangkan Warga atau Gaslighting?

Liks | Rabu, 20 Mei 2026 | 13:26 WIB

Rupiah Lemah, Purbaya Akui 'Terpaksa' Turun Tangan lewat Pasar Obligasi

Rupiah Lemah, Purbaya Akui 'Terpaksa' Turun Tangan lewat Pasar Obligasi

Bisnis | Rabu, 20 Mei 2026 | 12:48 WIB

Prabowo Bacakan Langsung KEM-PPKF RAPBN di DPR, Ketua Komisi XI DPR: Bukan karena Rupiah Melemah

Prabowo Bacakan Langsung KEM-PPKF RAPBN di DPR, Ketua Komisi XI DPR: Bukan karena Rupiah Melemah

News | Rabu, 20 Mei 2026 | 10:23 WIB

Terkini

Kevin Diks Bawa Kabar Sedih dari Jay Idzes Jelang Timnas Indonesia vs Thailand

Kevin Diks Bawa Kabar Sedih dari Jay Idzes Jelang Timnas Indonesia vs Thailand

Bola | Minggu, 04 Oktober 2026 | 23:54 WIB

Prabowo Minta Bakom Buka Telinga Lebar-lebar, Keluhan Rakyat Harus Sampai ke Istana

Prabowo Minta Bakom Buka Telinga Lebar-lebar, Keluhan Rakyat Harus Sampai ke Istana

News | Minggu, 04 Oktober 2026 | 23:30 WIB

Mici Dewi Paramita: Glow Up Bukan Berarti Harus Jadi Orang Lain

Mici Dewi Paramita: Glow Up Bukan Berarti Harus Jadi Orang Lain

Lifestyle | Minggu, 04 Oktober 2026 | 23:13 WIB

WALHI dan Eiger Bicara soal Menjaga Alam, dari Kritik hingga Kolaborasi

WALHI dan Eiger Bicara soal Menjaga Alam, dari Kritik hingga Kolaborasi

Lifestyle | Minggu, 04 Oktober 2026 | 23:00 WIB

Kabut Asap Palembang Makin Pekat, 31 Penerbangan di SMB II Terganggu hingga Kuala Lumpur

Kabut Asap Palembang Makin Pekat, 31 Penerbangan di SMB II Terganggu hingga Kuala Lumpur

Sumsel | Minggu, 04 Oktober 2026 | 22:58 WIB

Rutan Depok Laporkan Dugaan Keterlibatan Petugas ke Polisi, 22 Warga Binaan Turut Diperiksa

Rutan Depok Laporkan Dugaan Keterlibatan Petugas ke Polisi, 22 Warga Binaan Turut Diperiksa

Jabar | Minggu, 04 Oktober 2026 | 22:36 WIB

Geger Video Diduga Pesta Narkoba di Rutan Depok, Barang Terlarang Lolos Masuk Sel

Geger Video Diduga Pesta Narkoba di Rutan Depok, Barang Terlarang Lolos Masuk Sel

Jabar | Minggu, 04 Oktober 2026 | 22:27 WIB

Polisi Masih Selidiki Kematian Siswa SD di Pemalang, Autopsi Telah Dilakukan

Polisi Masih Selidiki Kematian Siswa SD di Pemalang, Autopsi Telah Dilakukan

News | Minggu, 04 Oktober 2026 | 22:10 WIB

Warga OKI Ditemukan Meninggal di Tengah Karhutla, Diduga Terjebak Asap dan Api

Warga OKI Ditemukan Meninggal di Tengah Karhutla, Diduga Terjebak Asap dan Api

Sumsel | Minggu, 04 Oktober 2026 | 22:06 WIB

Palmex Medan 2026 Kembali Digelar, 250 Perusahaan Akan Pamerkan Inovasi dan Teknologi Terkini

Palmex Medan 2026 Kembali Digelar, 250 Perusahaan Akan Pamerkan Inovasi dan Teknologi Terkini

Sumut | Minggu, 04 Oktober 2026 | 21:52 WIB

×