28 Tahun Reformasi: Demokrasi Surut, Ekonomi Dihantui Krisis Kepercayaan

Muhammad Yasir

Jum'at, 22 Mei 2026 | 09:25 WIB
28 Tahun Reformasi: Demokrasi Surut, Ekonomi Dihantui Krisis Kepercayaan
Sebuah peragaan berbentuk makam dengan batu nisan yang terbuat dari kardus bertuliskan "R.I.P REFORMASI" dalam aksi massa "#Reformati" di Tugu Makara UI, Universitas Indonesia, Depok, Rabu (20/5/2026). (Suara.com/Cornelius Juan Prawira)
baca 10 detik
  • Diskusi bertajuk Dari Reformasi ke Autokrasi menilai agenda Reformasi 1998 gagal akibat kemunduran demokrasi dan penguatan oligarki.
  • Bhima Yudhistira menyebut kondisi ekonomi saat ini sebagai Orde Baru 2.0 yang rentan terhadap krisis finansial nasional.
  • Egi Primayogha menyatakan enam tuntutan utama Reformasi 1998 tidak tercapai karena adanya pelemahan lembaga dan praktik korupsi elektoral.

Suara.com - Peringatan 28 tahun Reformasi diwarnai kritik tajam dari kalangan aktivis dan ekonom.

Dalam diskusi bertajuk Dari Reformasi ke Autokrasi, mereka menilai berbagai agenda utama Reformasi 1998 belum tercapai, bahkan menunjukkan gejala kemunduran demokrasi akibat menguatnya oligarki, korupsi, dan pelemahan institusi pengawasan negara.

Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menilai reformasi di bidang ekonomi tidak pernah benar-benar terwujud.

Menurutnya, praktik korupsi, kolusi, nepotisme, hingga monopoli sumber daya alam yang menjadi sasaran gerakan reformasi masih terus berlangsung hingga saat ini.

"Satu hal yang paling signifikan adalah reformasi tidak pernah ada. Karena dalam sisi ekonomi; korupsi, kolusi, nepotisme, elite capture, monopoli sumber daya alam, hanya berpindah nama PT-nya," ujar Bhima.

Ia menilai pola penguasaan ekonomi saat ini masih serupa dengan era Orde Baru, hanya dijalankan dengan cara dan skala yang berbeda. Karena itu, Bhima menyebut kondisi sekarang layak disebut sebagai "Orde Baru 2.0".

Apa yang pada Orde Baru dibangun, diulang lagi dalam skala yang jauh lebih brutal, lebih subtle, lebih terlihat, lebih vulgar, dan nggak ada malu-malunya juga. Jadi kalau dibilang ini adalah Orde Baru 2.0 ya tepat.

Aktivis dan ekonom menggelar diskusi bertajuk 'Dari Reformasi ke Autokrasi'. [Suara.com/Dinda]
Aktivis dan ekonom menggelar diskusi bertajuk 'Dari Reformasi ke Autokrasi'. [Suara.com/Dinda]

Bhima juga mengingatkan adanya kemiripan situasi ekonomi saat ini dengan periode menjelang krisis 1997-1998. Ia menyoroti melemahnya kepercayaan publik terhadap kebijakan ekonomi pemerintah dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

"Jangan bayangkan hari ini itu '98, tapi '96 ke '97. Jadi sudah ada peringatan-peringatan bahwa kebijakan-kebijakannya tidak bisa mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Satu hentakan sedikit lagi kita akan menuju pada fase mengulang lagi kejadian Soeharto '97 dan '98," katanya.

baca juga

Selain itu, ia mengkritik sejumlah kebijakan dan lembaga baru yang dinilai mengulang pola kebijakan masa lalu.

"DSDI mengulang kegagalan BPPC Cengkeh," cetusnya.

Senada dengan Bhima, Kepala Divisi Advokasi Indonesia Corruption Watch (ICW) Egi Primayogha menilai enam tuntutan utama Reformasi 1998 saat ini berada dalam kondisi yang memprihatinkan.

Keenam tuntutan tersebut meliputi pengadilan terhadap Soeharto, amandemen UUD 1945, penghapusan Dwifungsi ABRI, otonomi daerah, supremasi hukum, dan pemerintahan yang bersih dari korupsi, kolusi, dan nepotisme.

"Enam-enamnya ini semua bermasalah. Paling tidak kita bisa melihat kegagalan itu dari tuntutan tersebut," tutur Egi.

Massa aksi yang tergabung dalam serikat buruh dan masyarakat sipil melakukan aksi teatrikal di depan Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Senin (28/6/2021). [Suara.com/Angga Budhiyanto]
Massa aksi yang tergabung dalam serikat buruh dan masyarakat sipil melakukan aksi teatrikal di depan Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Senin (28/6/2021). [Suara.com/Angga Budhiyanto]

Secara khusus Egi juga menyoroti kondisi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menurutnya telah kehilangan independensi akibat pelemahan yang berlangsung selama bertahun-tahun.

"KPK-nya perlahan tapi pasti sudah dicoba sejak dulu oleh para politisi untuk dilemahkan. Secara simbolik KPK sudah mati, sudah tidak bisa lagi diharapkan seperti sebelumnya," ujarnya.

Egi menilai Indonesia saat ini tidak sedang mengalami konsolidasi demokrasi, melainkan konsolidasi oligarki. Menurutnya, proses politik semakin ditentukan oleh kelompok elite yang memiliki kekuatan ekonomi besar.

"Calon (pemimpin) ditentukan bukan oleh keinginan warga, kehendak warga, tapi oleh para elit-elit yang punya konsentrasi kekayaan yang sangat ekstrem yang dinamakan oligarki. Opsinya selalu oligarkis, dari mulai Pilkada sampai Pilpres," jelasnya.

Ia menyebut fenomena tersebut sebagai state capture, yakni kondisi ketika kebijakan negara dibentuk untuk melayani kepentingan segelintir elite politik dan ekonomi. Situasi itu, menurut Egi, diperparah oleh praktik korupsi elektoral yang terjadi pada Pemilu 2024.

"Pemerintahan sekarang ini sudah cacat secara moral dan etik. Kegagalan reformasi ditandai oleh kegagalan untuk mengadili Soeharto. Gagalnya mengadili Soeharto itu adalah cerminan bahwa kita gagal menunjukkan konstanta keadilan, yang pada akhirnya berimbas pada penguasa-penguasa berikutnya," pungkasnya.

Reporter: Dinda Pramesti K

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ingat Poster Demo Era 98, Haris Rusly Moti Minta Prabowo Lebih Progresif Berantas Korupsi

Ingat Poster Demo Era 98, Haris Rusly Moti Minta Prabowo Lebih Progresif Berantas Korupsi

News | Kamis, 21 Mei 2026 | 18:24 WIB

Nilai Rezim Prabowo-Gibran Mundur, PSAD UII Sebut Amanat Reformasi 1998 Telah Dikhianati

Nilai Rezim Prabowo-Gibran Mundur, PSAD UII Sebut Amanat Reformasi 1998 Telah Dikhianati

News | Kamis, 21 Mei 2026 | 14:44 WIB

Mengapa Rupiah Melemah Bikin Warga Desa Ikut Susah? Menepis Logika 'Orang Desa Tak Pakai Dolar'

Mengapa Rupiah Melemah Bikin Warga Desa Ikut Susah? Menepis Logika 'Orang Desa Tak Pakai Dolar'

News | Selasa, 19 Mei 2026 | 19:31 WIB

Terkini

Review Novel Potrait: Ketika Pernikahan Menjadi Luka Baru

Review Novel Potrait: Ketika Pernikahan Menjadi Luka Baru

Your Say | Selasa, 06 Oktober 2026 | 10:30 WIB

Belajar Tidak Menilai Seseorang dari Ekspresinya Lewat Buku Frog Face

Belajar Tidak Menilai Seseorang dari Ekspresinya Lewat Buku Frog Face

Your Say | Selasa, 06 Oktober 2026 | 10:30 WIB

Update RUU Perampasan Aset, Komisi III Sudah 62 Kali Serap Aspirasi Publik

Update RUU Perampasan Aset, Komisi III Sudah 62 Kali Serap Aspirasi Publik

News | Selasa, 06 Oktober 2026 | 10:26 WIB

Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026, John Herdman: Saudara Saya Meninggal Dunia

Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026, John Herdman: Saudara Saya Meninggal Dunia

Bola | Selasa, 06 Oktober 2026 | 10:24 WIB

Koperasi Desa Merah Putih: Mau Jadi Apa Sebenarnya?

Koperasi Desa Merah Putih: Mau Jadi Apa Sebenarnya?

Your Say | Selasa, 06 Oktober 2026 | 10:22 WIB

Penumpang Melonjak, KAI Percepat Integrasi Stasiun Karet-Sudirman Baru

Penumpang Melonjak, KAI Percepat Integrasi Stasiun Karet-Sudirman Baru

News | Selasa, 06 Oktober 2026 | 10:18 WIB

Elkan Baggott: Timnas Indonesia King ASEAN!

Elkan Baggott: Timnas Indonesia King ASEAN!

Bola | Selasa, 06 Oktober 2026 | 10:16 WIB

Bikin Film Animasi Butuh 300 Juta Jam Komputasi, Lenovo Ungkap Teknologi di Balik DreamWorks

Bikin Film Animasi Butuh 300 Juta Jam Komputasi, Lenovo Ungkap Teknologi di Balik DreamWorks

Tekno | Selasa, 06 Oktober 2026 | 10:15 WIB

5 Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama di Shopee yang Baunya Mirip Parfum Mewah

5 Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama di Shopee yang Baunya Mirip Parfum Mewah

Lifestyle | Selasa, 06 Oktober 2026 | 10:11 WIB

Ranking FIFA Terbaru Timnas Indonesia Usai Juara FIFA ASEAN Cup 2026

Ranking FIFA Terbaru Timnas Indonesia Usai Juara FIFA ASEAN Cup 2026

Bola | Selasa, 06 Oktober 2026 | 10:07 WIB

×