Kondisi ini diperkuat oleh sistem pewarisan matrilineal yang memberikan akses kepemilikan tanah lebih besar kepada perempuan. Ketika perempuan menjadi pencari nafkah utama, posisi mereka dalam pengambilan keputusan rumah tangga juga cenderung menguat.
Data penelitian menunjukkan bahwa kendali perempuan terhadap pendapatan dan investasi meningkat ketika mereka memperoleh penghasilan sendiri dari hasil migrasi. Perubahan ini tidak hanya memengaruhi perempuan yang bekerja di kota, tetapi juga mengubah cara keluarga mengatur pembagian peran dan keputusan di rumah.
Secara keseluruhan, penelitian tersebut menunjukkan bahwa krisis iklim telah memicu negosiasi ulang hubungan gender di dalam rumah tangga. Di Nepal mulai muncul pola pengambilan keputusan yang lebih setara antara suami dan istri, sementara di India dan Bangladesh perempuan semakin terlibat dalam urusan keuangan keluarga meski belum sepenuhnya memiliki kontrol atas aset dan kepemimpinan.
Temuan ini menunjukkan bahwa dampak krisis iklim tidak berhenti pada kerusakan lingkungan atau perpindahan penduduk. Di banyak keluarga, perubahan iklim juga turut membentuk ulang siapa yang bekerja, siapa yang mengelola sumber daya, dan siapa yang memiliki suara dalam menentukan masa depan rumah tangga.
Penulis: Vicka Rumanti