Dedi Mulyadi Dorong Kajian Akademik Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih

Fabiola Febrinastri, Tantri Amela Iskandar

Minggu, 24 Mei 2026 | 15:30 WIB
Dedi Mulyadi Dorong Kajian Akademik Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (Dok: Pemprov Jabar)

Suara.com - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mendukung penyusunan kajian akademik terhadap Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih Sang Hyang Pake. Penyusunan kajian akademik bisa mengubah cara pandang masyarakat terkait dua benda itu dari mistis menjadi pemahaman sejarah.

Hal tersebut dikemukakan Dedi Mulyadi dalam Diskusi Kecagarbudayaan dengan topik “Prasasti Batu Tulis dan Makuta Binokasih Sanghyang Pake", di Museum Pajajaran Bogor Jl. Batu Tulis Blok Sekolah No.37,  Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat, Kamis (14/5/2026).

"Jadi Batutulis nanti harus ada buku akademiknya, memberikan kajian secara komprehensif, dimulai dari tanggal pembuatan, bahan pembuatan, siapa yang membuat, apa arti tulisannya dan nanti kemudian Mahkota Binokasih Sanghyang Pake juga sama," ucap KDM, sapaan akrab Dedi Mulyadi.

Apalagi, menurut KDM, Kota Bogor merupakan pusat Kerajaan Pakuan Pajajaran, yang terbukti dengan adanya Prasasti Batutulis. Hal tersebut harus dijelaskan secara komprehensif.

Selanjutnya, naskah akademik itu dapat menjadi landasan pembuatan tata ruang, tata bangunan, tata kelola pendidikan, dan tata kelola kesehatan di Jawa Barat. Dengan begitu, ada kesatuan antara sejarah masa lalu dengan masa depan. 

Menurut KDM, Prasasti Batutulis yang berada di wilayah Kota Bogor tidak sekadar peninggalan sejarah. Lebih dari itu, tersimpan fakta besar yang menceritakan kejayaan Kerajaan Sunda di bawah pimpinan Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi.

Titi Surti Nastiti selaku Ahli Epigrafi, dalam sesi diskusi menyampaikan bahwa prasasti tersebut dibuat atas perintah Raja Surawisesa untuk mem­peringati jasa pendahu­lunya yakni Prabu Siliwangi (1482-1521) yang dianggap berjasa memperbaiki penataan di Kota Pakuan Pajajaran sebagai ibukota Kerajaan Sunda.

Namun, setelah melewati abad demi abad, Kerajaan Sunda yang dulu berjaya tak banyak menampakkan sisa-sisa peninggalannya. Beberapa faktor menjadi penyebab, salah satunya pengaruh kerajaan Islam yang begitu kuat di sebagian besar wilayah Pulau Jawa.

Meski demikian, ada satu artefak yang dianggap menggambarkan kemegahan Kerajaan Sunda di masa lampau. Artefak tersebut adalah Mahkota Binokasih yang disimpan secara turun temurun di Keraton Sumedang Larang.

baca juga

Menurut naskah kuno Carita Parahyangan, mahkota tersebut dibuat di Kerajaan Galuh dengan tujuan sebagai simbol kekuasaan serta legitimasi bagi raja-raja Sunda. Namun ketika Kerajaan Sunda runtuh, Mahkota Binokasih diserahkan oleh empat utusan Pajajaran kepada penguasa Sumedang Larang, Prabu Geusan Ulun.

Ahli Arkeometalurgi BRIN Harry Octavianus Sofian yang turut hadir pada sesi diskusi di Museum Pajajaran Bogor menganalisa bahwa Mahkota Binokasih mempunyai hubungan yang tidak terpisahkan dengan budaya masyarakat Sunda yaitu Kosmologi Tritangtu. Itu merupakan konsep kehidupan yang terbagi ke dalam tiga unsur yakni hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan sesama, dan hubungan manusia dengan alam. 

Harry menambahkan, Mahkota Binokasih didesain sedemikian rupa hingga memiliki komponen yang mewakili tiga peranan di Kerajaan Sunda yaitu Rama, Ratu/Prabu, dan Resi. 

Menurut penjelasannya, Rama adalah kelompok pemimpin spiritual atau rohaniawan yang menjaga nilai-nilai adat, agama, dan juga kebijaksaaan. Posisinya ada di bagian atas mahkota, berbentuk stupa dengan ornamen yang didominasi bunga teratai. 

Desain tersebut melambangkan karakteristik kepemimpinan seseorang yang memiliki kebijaksanaan dan memancarkan keindahan sekaligus manfaat bagi orang lain. 

Di bagian tengah mahkota (ratu/prabu) melambangkan kesempurnaan tindakan pemimpin dalam mengambil keputusan dan merumuskan peraturan-peraturan. 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Persib Bandung Raih Bonus Rp1 Miliar Usai Cetak Hattrick Juara Super League

Persib Bandung Raih Bonus Rp1 Miliar Usai Cetak Hattrick Juara Super League

Bola | Minggu, 24 Mei 2026 | 11:27 WIB

Ribuan Warga Menonton Kirab Budaya Napak Tilas Padjadjaran, KDM: Berdampak Positif bagi Ekonomi

Ribuan Warga Menonton Kirab Budaya Napak Tilas Padjadjaran, KDM: Berdampak Positif bagi Ekonomi

News | Senin, 18 Mei 2026 | 12:17 WIB

Dedi Mulyadi Panen Kritik, Gelar Kirab Bak Raja di Tengah Ekonomi Tercekik

Dedi Mulyadi Panen Kritik, Gelar Kirab Bak Raja di Tengah Ekonomi Tercekik

Entertainment | Minggu, 17 Mei 2026 | 18:30 WIB

Tindak Lanjut Usai Kirab Budaya, KDM Bakal Tata Fasilitas Seni dan Budaya di Jabar

Tindak Lanjut Usai Kirab Budaya, KDM Bakal Tata Fasilitas Seni dan Budaya di Jabar

News | Jum'at, 15 Mei 2026 | 15:48 WIB

Menakar Wacana Dedi Mulyadi: Mungkinkah Jawa Barat Hidup Tanpa Pajak Kendaraan?

Menakar Wacana Dedi Mulyadi: Mungkinkah Jawa Barat Hidup Tanpa Pajak Kendaraan?

News | Jum'at, 15 Mei 2026 | 15:33 WIB

Apa Itu Jalan Berbayar? Wacana Dedi Mulyadi Guna Hapus Pajak Kendaraan

Apa Itu Jalan Berbayar? Wacana Dedi Mulyadi Guna Hapus Pajak Kendaraan

Otomotif | Rabu, 13 Mei 2026 | 19:58 WIB

Terkini

Di Balik Penembakan 3 ASN di Muliama: Mengapa Konflik Bersenjata Papua Tak Kunjung Reda?

Di Balik Penembakan 3 ASN di Muliama: Mengapa Konflik Bersenjata Papua Tak Kunjung Reda?

News | Senin, 14 September 2026 | 22:51 WIB

Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor

Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor

News | Senin, 14 September 2026 | 22:08 WIB

KPK Konfirmasi Penindakan Senyap, Pihak Kantor Pertanahan Terjaring OTT

KPK Konfirmasi Penindakan Senyap, Pihak Kantor Pertanahan Terjaring OTT

Bogor | Senin, 14 September 2026 | 22:05 WIB

Jakarta Kian Seksi Bagi Musisi Dunia, Pramono: BTS hingga Kanye West Pilih Konser di Sini

Jakarta Kian Seksi Bagi Musisi Dunia, Pramono: BTS hingga Kanye West Pilih Konser di Sini

News | Senin, 14 September 2026 | 22:00 WIB

Puluhan Siswa MTsN 2 Kisaran Diduga Keracunan Usai Santap MBG

Puluhan Siswa MTsN 2 Kisaran Diduga Keracunan Usai Santap MBG

Sumut | Senin, 14 September 2026 | 21:53 WIB

Toilet Terminal Bubulak Dikeluhkan Sopir dan Pedagang, Jauh hingga Berbayar

Toilet Terminal Bubulak Dikeluhkan Sopir dan Pedagang, Jauh hingga Berbayar

Jabar | Senin, 14 September 2026 | 21:47 WIB

Dugaan Pelecehan di Klub SCBD, Pengacara Korban Curiga Betrand Peto Dalam Pengaruh Zat Tertentu

Dugaan Pelecehan di Klub SCBD, Pengacara Korban Curiga Betrand Peto Dalam Pengaruh Zat Tertentu

News | Senin, 14 September 2026 | 21:38 WIB

Kabut Asap, Penderita ISPA di Pekanbaru Melonjak Capai 400 Orang per Hari

Kabut Asap, Penderita ISPA di Pekanbaru Melonjak Capai 400 Orang per Hari

Riau | Senin, 14 September 2026 | 21:37 WIB

Operasi SAR 8 Korban Hilang di Gunung Anak Krakatau Diperpanjang hingga 17 September

Operasi SAR 8 Korban Hilang di Gunung Anak Krakatau Diperpanjang hingga 17 September

Banten | Senin, 14 September 2026 | 21:37 WIB

Tak Hanya Obat, Aktivitas Kreatif Bisa Bantu Jaga Kesejahteraan Psikologis Pasien Kanker

Tak Hanya Obat, Aktivitas Kreatif Bisa Bantu Jaga Kesejahteraan Psikologis Pasien Kanker

Health | Senin, 14 September 2026 | 21:35 WIB

×