Tragedi Ebola Kongo: Disangka Virus Hoaks Hingga Kehilangan Seluruh Keluarga

Pebriansyah Ariefana

Senin, 25 Mei 2026 | 13:12 WIB
Tragedi Ebola Kongo: Disangka Virus Hoaks Hingga Kehilangan Seluruh Keluarga
Ketidakpercayaan publik dan misinformasi memperparah penyebaran mematikan wabah virus Ebola di Republik Demokratik Kongo. (AFP)
baca 10 detik
  • Wabah Ebola di DRC menyebar cepat ke area perkotaan akibat misinformasi dan penolakan protokol kesehatan.
  • Konflik bersenjata, pengungsian massal, dan pemotongan dana internasional memperlambat respons medis di lapangan.
  • WHO menaikkan status risiko ke tingkat sangat tinggi sementara pengembangan vaksin diperkirakan memakan waktu berbulan-bulan.

Langkah tegas ini diambil karena tradisi menyentuh jenazah dalam prosesi pemakaman lokal terbukti mempercepat replikasi virus secara masif. Jenazah korban Ebola diketahui memiliki tingkat infeksi yang sangat tinggi bagi siapa pun yang bersentuhan.

“Membangun kepercayaan di komunitas yang terdampak sangat penting untuk keberhasilan respons, dan merupakan salah satu prioritas tertinggi kami,” tegas Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Setelah insiden kebakaran tersebut, pihak WHO menegaskan komitmennya untuk menjaga kelangsungan layanan kesehatan primer di wilayah konflik. Hingga kini, visualisasi data menunjukkan situasi yang terus memburuk dengan ratusan korban jiwa.

Tedros Adhanom Ghebreyesus melalui media sosialnya mengonfirmasi eskalasi status bahaya medis ini. Deteksi dini yang terlambat membuat proyeksi kurva epidemiologi diprediksi akan terus mengalami kenaikan.

“Lebih dari 900 kasus suspek telah diidentifikasi sejauh ini, termasuk 101 kasus konfirmasi,” ungkapnya.

WHO sebelumnya menyatakan sedikitnya 177 kematian kini diduga kuat berkaitan dengan ledakan wabah Ebola di DRC. Penularan yang bermula dari area rural kini telah menginvasi pusat kota padat penduduk seperti Bunia dan Goma.

Eskalasi ini membuat WHO menaikkan level risiko menjadi "sangat tinggi" di tingkat nasional DRC dan "tinggi" pada skala regional. Meski demikian, ancaman global dinilai masih berada pada kategori rendah untuk saat ini.

Di sisi lain, respons darurat terhambat oleh kebijakan pemotongan anggaran bantuan internasional yang dilakukan oleh Amerika Serikat sebelumnya. Pengurangan pendanaan dari USAID disebut-sebut melemahkan kesiapan logistik di garda depan.

Meskipun demikian, pejabat Departemen Luar Negeri AS membantah klaim tersebut secara sepihak. Mereka menyatakan perubahan kebijakan pemerintahan tidak memengaruhi efektivitas penanggulangan wabah di Afrika.

baca juga

Direktur Save the Children untuk DRC, Greg Ramm, menyatakan lembaganya bergerak cepat mendistribusikan disinfektan dan klorin ke klinik-klinik lokal. Pendanaan kemanusiaan saat ini jauh menyusut dibanding periode beberapa tahun lalu.

“Kami sedang dalam permainan mengejar ketertinggalan. Sumber daya kesehatan tidak mencukupi,” jelas Ramm. “Ini tentang menerapkan langkah-langkah pencegahan dan pengendalian infeksi dasar ke pusat-pusat kesehatan.”

Ia menekankan pentingnya menjaga stabilitas operasional puskesmas agar warga tidak takut mencari pertolongan medis. Jika sistem kesehatan kolaps, risiko kematian akibat penyakit endemik lain seperti malaria justru akan melonjak jauh lebih tinggi.

“Tujuannya adalah menjaga agar pusat kesehatan tetap berfungsi untuk mendorong orang yang sakit Ebola atau penyakit lain mendapatkan bantuan,” cetusnya. “Hal terakhir yang kita butuhkan saat ini adalah sistem kesehatan yang berhenti beroperasi.”

Guna memutus rantai penularan, para praktisi medis di lapangan terus mengampanyekan pembatasan kontak fisik secara radikal. Edukasi intensif difokuskan pada penghentian budaya bersalaman dan interaksi dengan satwa liar.

“Setiap orang harus mengadopsi sikap preventif untuk memutus rantai infeksi ini,” imbau Dr. Mwarabu Hugue.

Langkah mitigasi ketat juga diambil negara tetangga, Uganda, yang sejauh ini mengonfirmasi lima kasus dengan dua kematian. Presiden Uganda, Yoweri Museveni, langsung menginstruksikan warganya untuk menghindari jabat tangan guna memproteksi wilayahnya.

Sementara itu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC) tengah berpacu dengan waktu dalam memproduksi regimen terapeutik. Pengembangan vaksin baru terus dikebut untuk mengatasi varian virus Ebola yang belum memiliki obat resmi ini.

“Akan memakan waktu beberapa bulan bagi kami untuk menyelesaikan vaksin ini,” urai Direktur Jenderal Africa CDC, Dr. Jean Kaseya. “Siapa pun yang memberi Anda jumlah bulan yang spesifik tidak mengatakan yang sebenarnya. Ini mungkin memakan waktu yang cukup lama.”

Krisis Ebola di wilayah timur DRC berakar dari rapuhnya sistem kesehatan akibat eksploitasi geopolitik dan konflik bersenjata selama puluhan tahun. Situasi semakin kompleks karena wilayah ini menampung sekitar dua juta pengungsi internal yang hidup dalam sanitasi buruk.

Ditambah lagi, varian virus Ebola yang mendominasi gelombang kali ini belum memiliki pengobatan yang disetujui secara klinis. Gabungan faktor kerentanan ekonomi, sosiologis, dan politik inilah yang mentransformasikan wabah medis menjadi sebuah katastrofe kemanusiaan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Catat! Ini 10 Negara yang Berisiko Terkena Wabah Ebola Setelah Lonjakan Kasus di Kongo

Catat! Ini 10 Negara yang Berisiko Terkena Wabah Ebola Setelah Lonjakan Kasus di Kongo

News | Minggu, 24 Mei 2026 | 11:59 WIB

Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19

Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 06:58 WIB

Rumah Sakit Ebola di Kongo Dibakar Keluarga Pasien Terjangkit, Dilarang Bawa Jenazah Keluar RS

Rumah Sakit Ebola di Kongo Dibakar Keluarga Pasien Terjangkit, Dilarang Bawa Jenazah Keluar RS

News | Jum'at, 22 Mei 2026 | 13:03 WIB

Terkini

Etik Suryani Jalani Pemeriksaan Maraton, Tinggalkan Polresta Surakarta Jelang Pagi

Etik Suryani Jalani Pemeriksaan Maraton, Tinggalkan Polresta Surakarta Jelang Pagi

News | Jum'at, 10 Juli 2026 | 08:28 WIB

OTT KPK di Sukoharjo, Bupati Etik Suryani Diduga Peras Perangkat Daerah

OTT KPK di Sukoharjo, Bupati Etik Suryani Diduga Peras Perangkat Daerah

News | Jum'at, 10 Juli 2026 | 08:23 WIB

Kabar Duka, Anggota DPR RI Rachmat Gobel Meninggal Dunia

Kabar Duka, Anggota DPR RI Rachmat Gobel Meninggal Dunia

News | Jum'at, 10 Juli 2026 | 08:06 WIB

Kekayaan Bupati Sukoharjo Etik Suryani yang Terciduk OTT KPK

Kekayaan Bupati Sukoharjo Etik Suryani yang Terciduk OTT KPK

News | Jum'at, 10 Juli 2026 | 08:06 WIB

KPK Pastikan Kembangkan Kasus Suap Impor Bea Cukai, Tunggu Fakta Persidangan

KPK Pastikan Kembangkan Kasus Suap Impor Bea Cukai, Tunggu Fakta Persidangan

News | Jum'at, 10 Juli 2026 | 07:37 WIB

Bupati Sukoharjo Etik Suryani dari Partai Apa? Ini Kronologi Kena OTT KPK

Bupati Sukoharjo Etik Suryani dari Partai Apa? Ini Kronologi Kena OTT KPK

News | Jum'at, 10 Juli 2026 | 07:31 WIB

Ma'ruf Cahyono Terancam Dijerat TPPU, Uang Gratifikasi Dipakai Renovasi Rumah hingga Nikahan  Anak

Ma'ruf Cahyono Terancam Dijerat TPPU, Uang Gratifikasi Dipakai Renovasi Rumah hingga Nikahan Anak

News | Jum'at, 10 Juli 2026 | 07:15 WIB

Penggeledahan ke-13 Kasus Korupsi, Polisi Sita Dokumen hingga Komputer dari Ruko Cipete

Penggeledahan ke-13 Kasus Korupsi, Polisi Sita Dokumen hingga Komputer dari Ruko Cipete

News | Jum'at, 10 Juli 2026 | 06:55 WIB

Rudal AS Hujani Iran Dua Hari Beturut-turut, Proses Damai di Ambang Kehancuran

Rudal AS Hujani Iran Dua Hari Beturut-turut, Proses Damai di Ambang Kehancuran

News | Jum'at, 10 Juli 2026 | 06:00 WIB

BREAKING NEWS: Penyidik Geledah Ruko di Cipete terkait 3 Perkara Korupsi

BREAKING NEWS: Penyidik Geledah Ruko di Cipete terkait 3 Perkara Korupsi

News | Jum'at, 10 Juli 2026 | 00:04 WIB

×