Suara.com - Perempuan, khususnya perempuan adat, dinilai memiliki peran penting dalam menghadapi krisis iklim. Kedekatan mereka dengan tanah, pangan, air, dan sumber daya alam membuat perempuan menjadi kelompok yang paling memahami perubahan lingkungan yang terjadi di sekitar mereka.
Namun di saat yang sama, perempuan juga menjadi kelompok yang paling rentan terdampak krisis iklim akibat keterbatasan akses terhadap lahan, energi, hingga ruang pengambilan keputusan.
Isu tersebut mengemuka dalam diskusi bertajuk “Mengapa Krisis Iklim adalah Isu Keadilan Gender?” yang menjadi bagian dari rangkaian acara Loka Raksha Fest.
Pengetahuan Ekologis yang Tumbuh dari Kehidupan Sehari-hari
![Aktivis lingkungan melakukan aksi di Jalan Sudirman, Jakarta, Jumat (27/9/2024). [Suara.com/Alfian Winanto]](https://media.suara.com/pictures/original/2024/09/27/75343-aksi-krisis-iklim-demo-lingkungan.jpg)
Ketua Umum Perempuan AMAN, Devi Anggraini, mengatakan perempuan memiliki kemampuan besar dalam mengelola sumber daya yang berada di sekitar mereka. Pengetahuan tersebut diperoleh melalui pengalaman sehari-hari dalam memenuhi kebutuhan keluarga dan komunitas.
“Energi yang paling besar, paling mampu dikontrol, paling mampu dikelola oleh perempuan adalah semua energi yang ada di sekelilingnya,” ujar Devi.
Menurutnya, pengetahuan perempuan adat tidak hanya berkaitan dengan pangan, tetapi juga menyangkut tata kelola sumber daya alam dan pengambilan keputusan dalam komunitas. Karena itu, perempuan memiliki posisi strategis dalam menjaga ketahanan dan kedaulatan pangan masyarakat.
Data dari Food and Agriculture Organization menunjukkan perempuan menghasilkan sekitar 60 hingga 80 persen pangan di sebagian besar negara berkembang dan berkontribusi terhadap setengah produksi pangan dunia.
Meski demikian, perempuan justru menjadi kelompok yang paling rentan menghadapi dampak perubahan iklim karena akses terhadap sumber daya produktif dan pengambilan keputusan masih belum setara.
Ketika Perubahan Energi Mengubah Relasi Kuasa
Dalam masyarakat adat, perempuan selama ini memiliki pengetahuan ekologis yang berbeda dengan laki-laki. Jika laki-laki secara tradisional berburu, perempuan lebih banyak mengumpulkan hasil hutan seperti sayuran, tanaman obat, dan berbagai sumber pangan lainnya.
Pengalaman tersebut membuat perempuan memiliki pemahaman langsung terhadap perubahan kondisi alam dan ketersediaan sumber daya.
Namun, perubahan sistem energi dan ekonomi dinilai perlahan menggeser posisi perempuan. Pergeseran penggunaan kayu bakar menuju energi berbasis pasar seperti gas, misalnya, membuat akses energi semakin bergantung pada uang dan distribusi komersial.
“Perempuan tidak mampu punya kontrol, yang berubah soal kontrol pada energinya, relasi dalam keluarga bahkan dalam kampung,” kata Devi.
Menurutnya, ketika akses energi bergantung pada sumber ekonomi yang lebih banyak dikuasai laki-laki, perempuan berpotensi kehilangan posisi tawar baik dalam keluarga maupun komunitas.