- Sejumlah warga negara Indonesia diduga terlibat skandal pemalsuan riset pada konferensi ilmiah ahli pneumonia di Kopenhagen, Denmark.
- Pelanggaran integritas ilmiah ini dipicu orientasi publikasi sebagai simbol status sosial serta penyalahgunaan kecerdasan buatan secara tidak etis.
- Praktik kecurangan tersebut berpotensi merusak reputasi akademik Indonesia serta mengikis kepercayaan masyarakat internasional terhadap budaya ilmiah nasional.
Suara.com - Dugaan keterlibatan sejumlah warga negara Indonesia dalam skandal pemalsuan riset di konferensi ilmiah untuk para ahli pneumonia di Kopenhagen, Denmark memunculkan sorotan tajam terhadap budaya akademik dan penggunaan kecerdasan buatan atau AI dalam dunia penelitian.
Peneliti kesehatan global dari Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman menilai kasus tersebut bukan sekadar pelanggaran akademik biasa, melainkan sudah masuk kategori scientific misconduct atau pelanggaran integritas ilmiah berat.
“Saya melihat ini sebagai keprihatinan yang sangat serius dan berat,” kata Dicky dalam keterangannya, Rabu (27/5/2026).
Menurutnya, fenomena riset palsu muncul karena kombinasi beberapa persoalan besar dalam dunia akademik saat ini.
Salah satunya adalah berubahnya orientasi publikasi ilmiah menjadi sekadar simbol status sosial.
“Banyak orang melihat publikasi konferensi internasional atau travel grant ataupun sertifikat speaker itu sebagai simbol status sosial, bukan lagi proses ilmiah,” ujarnya.
Dicky menyebut kondisi tersebut memicu munculnya praktik paper mill, ghost writing, jurnal predator hingga manipulasi sitasi.
Situasi itu diperparah dengan penggunaan AI secara tidak etis untuk menghasilkan manuskrip secara massal.
Meski begitu, ia menegaskan AI pada dasarnya hanyalah alat bantu. Persoalan utamanya terletak pada manusia yang menyalahgunakannya.
“AI sendiri sebetulnya netral. Yang bermasalah manusianya,” katanya.
Ia menjelaskan AI masih bisa digunakan secara etis untuk membantu grammar, coding statistik, brainstorming hingga visualisasi data.
Namun penggunaan AI berubah menjadi fraud ketika dipakai untuk membuat data palsu atau penelitian fiktif.
“AI itu masuk scientific fraud kalau dia dipakai untuk membuat data palsu ataupun penelitian yang tidak pernah dilakukan,” tegasnya.
Dicky juga menyoroti tren di kalangan akademisi muda yang menurutnya mulai bergeser dari semangat ilmiah menjadi pencitraan.
“Yang penting viral, bisa jalan-jalan keluar negeri, jadi orientasi ilmunya berubah jadi pencitraan,” ucapnya.