- TPA Bantar Gebang mengalami krisis kapasitas akibat tumpukan sampah Jakarta yang mencapai 8.000 ton per hari.
- Pemprov DKI Jakarta meluncurkan Gerakan Pemilahan Sampah dari Sumber pada 10 Mei 2026 untuk mengurangi beban TPA.
- Dinas Lingkungan Hidup masih melakukan sosialisasi serta pengumpulan data partisipasi warga guna mengevaluasi keberhasilan program pengelolaan sampah.
Suara.com - Krisis kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang menjadi salah satu pendorong utama lahirnya kebijakan pemilahan sampah di Jakarta.
Satu-satunya TPA milik Ibu Kota itu kini menghadapi tekanan berat, gunung sampahnya telah mencapai ketinggian lebih dari 40 meter dan diperkirakan akan penuh dalam beberapa tahun ke depan.
Jakarta sendiri menghasilkan sekitar 7.000-8.000 ton sampah per hari. Sebagian besar dibuang tanpa dipilah, sehingga menyulitkan proses daur ulang sekaligus memperparah pencemaran sungai dan banjir.
Merespons kondisi itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggulirkan Gerakan Pemilahan Sampah dari Sumber, mengacu pada mandat UU No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah yang mewajibkan pengelolaan sampah mandiri hingga tingkat RT atau RW.
Namun hingga kini, gerakan yang resmi dideklarasikan pada 10 Mei 2026 itu belum menunjukkan angka konkret penurunan volume sampah yang masuk ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Dudi Gardesi, mengakui program yang baru berjalan dua minggu itu masih dalam tahap pengumpulan data.
“Saat ini kami masih dalam tahap konsolidasi pelaksanaan sekaligus pengumpulan data dari berbagai wilayah,” ujar Dudi dalam keterangan tertulis, Kamis (28/5/2026).
Lebih lanjut, Dudi menjelaskan bahwa periode Mei hingga Juni masih difokuskan pada sosialisasi dan penyiapan infrastruktur pendukung sebelum implementasi diperluas.
Di tingkat akar rumput, pendampingan dilakukan melalui kader PKK, Dasawisma, dan Jumantik yang turun langsung ke warga, disertai penerapan metode pengolahan sampah organik seperti komposting, biopori, biokonversi maggot BSF, ecoenzym, dan Teba modern.
Dudi pun menyebut mulai ada sinyal awal yang menggembirakan dari sejumlah wilayah di ibu kota terkait rencana penerapan gerakan pilah sampah.
“Meskipun data pengurangan sampah masih dalam proses monitoring dan evaluasi, kami melihat adanya respons dan partisipasi masyarakat yang cukup positif di sejumlah wilayah,” katanya.
DLH DKI Jakarta memastikan, pemantauan dan evaluasi akan terus dilakukan secara berkala untuk mengukur sejauh mana program ini berhasil menekan timbulan sampah di tingkat hulu, baik dari permukiman, kawasan, maupun sektor usaha.