Misteri Jalan 'Tak Penting' di Gunung Ciremai, Warga Cium Aroma Proyek Geothermal Senyap

Bangun Santoso

Minggu, 31 Mei 2026 | 11:43 WIB
Misteri Jalan 'Tak Penting' di Gunung Ciremai, Warga Cium Aroma Proyek Geothermal Senyap
Gunung Ciremai terlihat dari Ladang Penduduk (Twitter/@blankoncoklat)
baca 10 detik
  • Warga lereng Gunung Ciremai menuding proyek panas bumi kini kembali beroperasi secara senyap meski telah mendapat penolakan.
  • Aktivitas mencurigakan meliputi pembangunan jalan akses menuju lokasi pengeboran serta pembelian lahan besar-besaran berdalih pengembangan sektor pariwisata.
  • Masyarakat khawatir proyek strategis nasional berkapasitas 150 megawatt ini akan mengancam ketersediaan air di kawasan Gunung Ciremai.

Suara.com - Warga lereng Gunung Ciremai, El Santana, menuding proyek panas bumi (geothermal) di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) masih terus bergerak secara diam-diam meski mendapat penolakan dari masyarakat setempat sejak bertahun-tahun lalu.

Menurut El, proyek yang kini masuk dalam skema Proyek Strategis Nasional (PSN) tersebut tidak lagi dilakukan secara terbuka seperti saat pertama kali disosialisasikan kepada warga pada 2011-2012.

"Temen-temen tuh suka memplesetkan 'Proyek Senyap Negara'. Jadi kapan barang mau masuk, kapan keluar, nggak tahu kapan," kata El kepada Suara.com di sela acara Festival Gugur Gunung Tandang Gawe di Pamitnya Meeting, Jakarta Selatan, Sabtu (31/5/2026).

Ia mengaku warga mencurigai adanya sejumlah aktivitas yang diduga berkaitan dengan pengembangan proyek panas bumi di kawasan Gunung Ciremai.

Salah satunya pembangunan jalan menuju area yang diduga menjadi lokasi pengeboran.

"Pembangunan jalan yang nggak penting dibangun jalan di sini dan lebar segitu, ini pasti ada sesuatu. Jadi mereka udah melakukan tapi senyap," ujarnya.

Selain pembangunan jalan, El juga menyoroti adanya pembelian lahan dalam jumlah besar yang disebut menggunakan alasan pengembangan pariwisata.

"Ada pembelian tanah yang sangat besar atas nama pariwisata. Hal-hal itu yang kita curigai," katanya.

El menjelaskan, proyek geothermal di Ciremai pertama kali masuk melalui perusahaan Chevron sekitar 2011.

baca juga

Saat itu warga memperoleh sosialisasi mengenai panas bumi, namun menurutnya informasi yang diberikan tidak menjelaskan secara utuh dampak proyek tersebut.

Ia mengaku baru memahami lebih jauh setelah berdiskusi dengan kalangan akademisi.

"Akhirnya kita tahu bahwa geothermal itu emang tambang air. Karena untuk 1 megawatt itu dia membutuhkan 15.000 liter per menit," ucapnya.

Sebagai masyarakat yang tinggal di kawasan pegunungan, El menilai keberadaan sumber air menjadi aspek paling vital bagi kehidupan warga.

"Orang gunung kan tahu sendiri kalau air itu ya berdetak di bibir kita. Nggak cuma orang gunung ya, semua pasti membutuhkan air. Sedangkan gunung sendiri kan lumbung air itu sendiri," katanya.

Menurut El, upaya penolakan yang dilakukan masyarakat berhasil membuat Chevron hengkang pada 2015. Namun, proyek tersebut kembali muncul dan kini masuk dalam daftar PSN dengan kapasitas yang disebut mencapai 150 megawatt.

"Masih direncanakan. Tapi kita berhasil menolak," ujarnya saat menjelaskan perkembangan proyek tersebut.

Meski demikian, ia menilai kepentingan ekonomi yang besar membuat proyek itu terus berupaya dijalankan.

"Ada satu WKP atau satu tambang itu emang kapasitasnya gede, 150 megawatt yang di Ciremai. Berarti kalau untuk ngomongin kapital, untung. Pasti akan dikejar kan?" katanya.

El juga mempertanyakan minimnya ruang dialog antara pemerintah dan masyarakat terdampak.

Menurutnya, warga selama ini tidak pernah benar-benar ditanya mengenai kebutuhan dan harapan mereka terhadap pengelolaan energi di wilayahnya.

"Kan sejauh ini nggak ada pertanyaan, 'Kamu maunya apa sih? Kamu butuhnya apa?' Kan selama ini nggak terjalin komunikasi itu," ujarnya.

Ia berharap pemerintah lebih mengutamakan pemberdayaan masyarakat dan kearifan lokal dalam pengelolaan sumber daya alam di kawasan pegunungan.

"Kearifan lokal, biar dia menjaga ekosistemnya dengan caranya. Itulah energi sesungguhnya kan sebenarnya?" kata El. (Dinda Pramesti K)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kepala LAB 45: Saat Ini Sedang Berlangsung Dwifungsi ABRI yang Halus, Tapi Sulit Dilawan

Kepala LAB 45: Saat Ini Sedang Berlangsung Dwifungsi ABRI yang Halus, Tapi Sulit Dilawan

News | Jum'at, 29 Mei 2026 | 12:05 WIB

Penjajahan Gaya Baru? PSN Papua Berpotensi Singkirkan Warga Lokal

Penjajahan Gaya Baru? PSN Papua Berpotensi Singkirkan Warga Lokal

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 15:47 WIB

Lahan Papua Cuma Dihargai Rp300 Ribu, Yorrys Raweyai: Itu Tidak Manusiawi

Lahan Papua Cuma Dihargai Rp300 Ribu, Yorrys Raweyai: Itu Tidak Manusiawi

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 15:07 WIB

Polemik PSN Papua Tak Bisa Lagi Dipandang Sebelah Mata, DPD Resmi Bentuk Pansus

Polemik PSN Papua Tak Bisa Lagi Dipandang Sebelah Mata, DPD Resmi Bentuk Pansus

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 14:57 WIB

Mama Sinta Berbalik Dukung Food Estate Papua Selatan, Akui Kecewa Pernah Dimanfaatkan

Mama Sinta Berbalik Dukung Food Estate Papua Selatan, Akui Kecewa Pernah Dimanfaatkan

News | Minggu, 24 Mei 2026 | 05:00 WIB

DPR Soroti PSN 1 Juta Hektare, Begini Katanya

DPR Soroti PSN 1 Juta Hektare, Begini Katanya

Bisnis | Jum'at, 22 Mei 2026 | 21:20 WIB

Jurnalis Indonesia Disebut Makin Rentan Intimidasi, AJI Ungkap 4 Isu yang Paling Bahaya

Jurnalis Indonesia Disebut Makin Rentan Intimidasi, AJI Ungkap 4 Isu yang Paling Bahaya

News | Selasa, 19 Mei 2026 | 16:47 WIB

Terkini

Panduan Lengkap Memahami Status Rekening Aktif, Tidak Aktif, dan Dormant BRI

Panduan Lengkap Memahami Status Rekening Aktif, Tidak Aktif, dan Dormant BRI

Bri | Kamis, 16 Juli 2026 | 19:42 WIB

Dari Negeri Rantau ke Pesisir Indramayu, Rosyidah Bangun Usaha Olahan Laut Bersama BRI

Dari Negeri Rantau ke Pesisir Indramayu, Rosyidah Bangun Usaha Olahan Laut Bersama BRI

Jabar | Kamis, 16 Juli 2026 | 19:40 WIB

Pukul, Tendang lalu Menyeret: Sadisnya Oknum Satpam Aniaya Karyawati di Bintan

Pukul, Tendang lalu Menyeret: Sadisnya Oknum Satpam Aniaya Karyawati di Bintan

Batam | Kamis, 16 Juli 2026 | 19:40 WIB

Pulang dari Malaysia, Eks PMI Asal Indramayu Sukses Bangun UMKM Berkat Dukungan BRI

Pulang dari Malaysia, Eks PMI Asal Indramayu Sukses Bangun UMKM Berkat Dukungan BRI

Riau | Kamis, 16 Juli 2026 | 19:39 WIB

6 Sepatu Lari Lokal Warna Biru dengan Teknologi Penunjang Kenyamanan

6 Sepatu Lari Lokal Warna Biru dengan Teknologi Penunjang Kenyamanan

Lifestyle | Kamis, 16 Juli 2026 | 19:35 WIB

Berapa Nilai Transfer Elkan Baggott ke Millwall FC? Tembus Rekor Pribadi!

Berapa Nilai Transfer Elkan Baggott ke Millwall FC? Tembus Rekor Pribadi!

Bola | Kamis, 16 Juli 2026 | 19:30 WIB

Cegah Penyalahgunaan Transaksi, BRI Perketat Klasifikasi Rekening Aktif Hingga Dormant

Cegah Penyalahgunaan Transaksi, BRI Perketat Klasifikasi Rekening Aktif Hingga Dormant

Bri | Kamis, 16 Juli 2026 | 19:29 WIB

Old Money Vibes! 4 Gaya Outfit Preppy Style ala Winter aespa yang Timeless

Old Money Vibes! 4 Gaya Outfit Preppy Style ala Winter aespa yang Timeless

Your Say | Kamis, 16 Juli 2026 | 19:20 WIB

Fleksibel Atur Strategi Toko Ekspor, Penjualan Seller Ini Naik 2,5 Kali Lipat Lewat Ekspor FLEXI

Fleksibel Atur Strategi Toko Ekspor, Penjualan Seller Ini Naik 2,5 Kali Lipat Lewat Ekspor FLEXI

News | Kamis, 16 Juli 2026 | 19:18 WIB

Penganiayaan Brutal Karyawati Hotel di Bintan: Pelaku Pakai Sepatu Boots

Penganiayaan Brutal Karyawati Hotel di Bintan: Pelaku Pakai Sepatu Boots

Batam | Kamis, 16 Juli 2026 | 19:18 WIB

×