- Tim peneliti UGM menemukan lonjakan gas hidrogen sebagai penyebab kebakaran misterius di rumah warga Padukuhan Mriyan, Sleman, Yogyakarta.
- Peneliti menduga fenomena auto ignition terjadi karena gas hidrogen dapat menyala secara spontan pada konsentrasi tertentu di ruangan.
- Saat ini, tim sedang menelusuri sumber pembentukan gas hidrogen tersebut melalui analisis laboratorium terhadap sampel air dan gas.
Suara.com - Penelitian terhadap fenomena kebakaran misterius yang berulang di rumah warga Padukuhan Mriyan X, Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Sleman, DIY, masih dilakukan.
Terbaru, tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menemukan adanya lonjakan gas hidrogen di ruangan yang menjadi lokasi kemunculan api saat observasi lapangan berlangsung.
Temuan tersebut diperoleh ketika tim melakukan pengambilan sampel di sejumlah titik rumah. Saat proses pengamatan berlangsung, peneliti sempat menyaksikan langsung munculnya api pada sebuah kaos yang tergantung di dalam ruangan.
"Kemudian yang terpantau hidrogennya, H2-nya yang naik terus. Gas hidrogen itu 11, 12, 11, 12 ke atas itu kemudian mulai menyala," kata Koordinator Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM, Alva Edy Tontowi, saat ditemui di lokasi, Senin (1/6/2026).
Menurut Alva, kenaikan konsentrasi gas tersebut terjadi di kamar atau lokasi di mana kain itu terbakar.
"Khusus di ruangan tadi, ruangan yang tengah tadi, di kamar itu yang nampaknya konsentrasinya tinggi," imbuhnya.
Ia menjelaskan salah satu hipotesis yang kini dikaji adalah kemungkinan terjadinya fenomena auto ignition atau spontaneous ignition. Dalam kondisi tertentu, gas dapat menyala sendiri ketika unsur-unsur yang diperlukan dalam proses pembakaran berada pada komposisi yang tepat.
"Gas yang bisa menyala sendiri. Dalam bahasa ilmiahnya salah satu terminologinya adalah auto ignition atau spontaneous ignition," tuturnya.
Fenomena tersebut diduga menjadi salah satu penjelasan mengapa api muncul pada berbagai benda yang mudah terbakar seperti kaos, kertas, plastik, dan material lainnya. Menurut Alva, gas dapat berpindah dan terkonsentrasi di lokasi tertentu hingga memenuhi syarat terjadinya pembakaran.
"Nah, menyalanya memang di media-media. Tadi ada media kaos, kalau yang kejadian sebelumnya kan ada media-media yang lain dari plastik, dari yang lain-lain," ujarnya.
Sementara itu, peneliti lain yang juga Guru Besar Ilmu Vulkanologi Fakultas Teknik UGM, Agung Harijoko, mengatakan tim menggunakan alat detektor gas untuk mengukur berbagai parameter, termasuk kandungan metana (CH4), hidrogen (H2), karbon dioksida (CO2), dan oksigen (O2). Dari seluruh parameter yang dipantau, lonjakan paling signifikan ditemukan pada gas hidrogen.
"Nah, yang di tempat yang terbakar tadi di ruangan tadi itu yang ada spike langsung naik tinggi, itu adalah gas hidrogennya," kata Agung.
Ia menjelaskan gas hidrogen memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan gas lain. Pasalnya dapat menyala pada kondisi tertentu dengan energi pemicu yang sangat rendah.
Oleh sebab itu, tim kini mulai mempertimbangkan hidrogen sebagai salah satu kandidat utama penyebab kemunculan api di lokasi tersebut.
"Jadi suspeknya gasnya adalah gas hidrogen, kemungkinan," ujarnya.
Kendati demikian, sumber pembentukan hidrogen masih menjadi tanda tanya. Tim peneliti saat ini sedang menelusuri kemungkinan bahwa gas tersebut berasal dari proses dekomposisi atau pembusukan material organik di bawah permukaan tanah maupun sumber lain yang belum teridentifikasi.
"Proses pembentukan hidrogen dari proses... dekomposisi, pembusukan dari organik, apakah itu yang menghasilkan hidrogen, itu yang harus kami teliti lagi," tuturnya.
Peneliti lain sekaligus Guru Besar Teknik Kimia Fakultas Teknik UGM, Sarto, menambahkan temuan hidrogen ini menjadi perkembangan penting.
Mengingat hal itu berbeda dengan dugaan awal yang lebih banyak mengarah pada gas metana. Oleh sebab itu, tim akan membandingkan seluruh data yang telah dikumpulkan untuk memastikan sumber gas yang sebenarnya.
"Kalau dugaan kemarin adalah metan yang biasanya muncul dari proses pembusukan, yang ini kok ternyata hidrogen," ujar Sarto.
Saat ini sejumlah sampel gas dan air dari lokasi kejadian telah dikumpulkan untuk dianalisis lebih lanjut di laboratorium. Hasil pengujian tersebut diharapkan dapat menjawab sumber pembentukan gas sekaligus menjelaskan mekanisme yang menyebabkan kebakaran berulang terjadi di rumah warga tersebut.