- Sejak 23 Mei 2026, warga Mriyan, Sleman, mengalami 81 kejadian kebakaran misterius pada benda rumah tangga secara mendadak.
- Peneliti UGM dan UPN Yogyakarta menemukan lonjakan gas hidrogen dan metana bawah permukaan sebagai pemicu dugaan fenomena tersebut.
- Aparat dan BPBD terus melakukan penyelidikan ilmiah serta menyiagakan alat pemadam api untuk memitigasi risiko kebakaran bagi warga.
Suara.com - Warga di Padukuhan Mriyan X, Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Sleman, DIY belakangan hidup dalam kecemasan. Saat siang maupun malam, mereka dihantui kemunculan api yang tiba-tiba membakar benda-benda di dalam rumah.
Tanpa penyebab yang langsung terlihat, kondisi itu memicu kekhawatiran akan keselamatan keluarga dan lingkungan sekitar.
Dalam beberapa bulan terakhir, laporan kebakaran berulang muncul di berbagai titik dengan pola yang dianggap tidak biasa. Kebakaran terjadi puluhan kali dalam rentang 11 hari terakhir.
Titik api pun berpindah-pindah, mulai dari pakaian di dalam kamar, handuk di kamar mandi, hingga perabot rumah tangga yang mendadak terbakar.
Fenomena itu memunculkan beragam spekulasi di tengah masyarakat. Ada yang menduga kebakaran dipicu kelalaian manusia atau ulah pelaku yang sengaja membakar, sementara sebagian lain mengaitkannya dengan fenomena alam hingga isu-isu mistis yang berkembang dari mulut ke mulut.
Kronologi Awal Teror Misterius
Teror kebakaran misterius yang menggegerkan Sleman dimulai pada Sabtu (23/5/2026). Peristiwa itu terus berlanjut dan belum menunjukkan tanda-tanda berhenti.
Hingga akhir Selasa (2/6/2026) tercatat sudah 81 kejadian kebakaran di lebih dari 65 titik berbeda yang tersebar di satu rumah warga.
Berdasarkan kesaksian pemilik rumah, benda yang terbakar mulai dari pakaian, kursi, lemari, tumpukan kertas, hingga bagian bangunan rumah.
Rangkaian kejadian itu berlangsung berulang dalam hitungan hari, bahkan beberapa kebakaran muncul hanya berselang menit di lokasi yang berbeda.
"Stabil, maksudnya tuh 7-9 kali (sehari api muncul)," kata pemilik rumah Mutfiana.
Pola kemunculan api yang tidak biasa membuat pemilik rumah kesulitan mengantisipasi sumber bahaya. Titik kebakaran kerap berpindah-pindah dan muncul tanpa tanda-tanda kebakaran konvensional.
Tak ada korsleting listrik, tak ada penggunaan api terbuka, tak ada pemantik.
Pemilik rumah mengaku tidak melihat adanya pemicu yang jelas sebelum api muncul. Api bahkan tak hanya muncul saat malam tapi pagi dan siang hari.
"Sore ada, siang ada, malam ada (api yang tiba-tiba menyala)," imbuh Fia sapaan akrabnya.
Dalam beberapa kejadian, bahkan berlangsung saat cuaca cerah. Tak ada hujan, tak ada angin.

Titik Kemunculan Api Meluas
Kondisi terkini, teror kebakaran misterius masih berlangsung dan menunjukkan perluasan.
Setelah sebelumnya puluhan kejadian kebakaran terjadi di dalam rumah, api kini dilaporkan muncul di area luar samping rumah utama.
Ayah Fia yang juga tinggal di rumah itu, Agus, mengatakan kebakaran meluas pada Senin (1/6/2026) kemarin. Berbeda dengan kejadian sebelumnya yang banyak membakar kain atau pakaian, kali ini api muncul pada material kayu yang berada di luar rumah.
"Untuk merembetnya itu sudah merembet ke sebelah, yang mana untuk medianya bukan kaos, bukan kain, tapi dia kayu. Kayu terbakar," kata Agus ditemui, Selasa (2/6/2026).
Menurut Agus, kemunculan api di luar rumah bukan hanya terjadi sekali. Sebelumnya, warga yang tak jauh dari lokasi turut menemukan kebakaran pada lembaran tripleks yang berada di sisi utara rumah, meski saat itu tidak diketahui pasti dari mana sumber api berasal.
"Sudah 81 kali, waktunya acak tempatnya berbeda-beda," ucap Agus.
Kondisi itulah yang membuat keresahan semakin meluas, karena hingga kini penyebab pasti rentetan kebakaran tersebut masih menjadi misteri.
Apa yang Sudah Ditemukan?
Kepolisian dan peneliti yang turun ke lokasi memulai penyelidikan dengan metode yang lazim digunakan dalam investigasi kebakaran.
Mereka menelusuri titik awal kemunculan api (point of origin), memetakan pola rambatan kebakaran, memeriksa material yang terbakar, serta menguji kemungkinan adanya bahan pemicu yang dapat mempercepat penyalaan api.
Dari pemeriksaan awal yang dilakukan tim Gegana dan peneliti, tidak ditemukan indikasi penggunaan bahan peledak maupun zat berbahaya tertentu yang lazim dikaitkan dengan aksi sabotase.
Analisis juga menunjukkan sebagian besar titik kebakaran memiliki karakteristik serupa, yakni muncul pada benda-benda mudah terbakar seperti pakaian, kasur, kertas, dan perabot rumah tangga, meski lokasi kemunculannya berpindah-pindah.
Hasil penyelidikan awal Tim Gegana Polda DIY kebakaran diduga dipicu oleh gas metana yang berasal dari septic tank.
Sementara Tim Fakultas Teknologi Mineral dan Energi (FTME) UPN "Veteran" Yogyakarta menemukan indikasi kuat keberadaan gas metana bawah permukaan yang diduga menjadi pemicu kebakaran misterius berulang di rumah tersebut.
Kemudian temuan sementara dari tim peneliti UPN dan UGM mengarah pada kemungkinan keterlibatan gas yang terbentuk dari kondisi lingkungan tertentu. Bukan faktor mistis sebagaimana spekulasi yang berkembang di masyarakat.
Dekan FTME UPN Veteran Yogyakarta, Basuki Rahmad, mengatakan timnya sempat menelusuri aliran sungai yang berjarak sekitar 300 meter dari rumah warga tersebut.
Di lokasi itu, tim menemukan singkapan batuan berwarna gelap yang diduga menjadi tempat penyimpanan gas.
"Jadi, indikasi kuat sumber gas ini adalah gas metana dari rawa," kata Basuki.
Setelah sebelumnya menyoroti kemungkinan keterkaitan dengan gas metana, terbaru peneliti dari UGM kemudian menyatakan karakteristik kejadian lebih dekat dengan keberadaan gas hidrogen yang mudah terbakar dan berpotensi terakumulasi dalam kondisi tertentu sebelum tersulut oleh sumber energi yang sangat kecil.
Peneliti lain yang juga Guru Besar Ilmu Vulkanologi Fakultas Teknik UGM, Agung Harijoko, mengatakan tim menggunakan alat detektor gas untuk mengukur berbagai parameter, termasuk kandungan metana (CH4), hidrogen (H2), karbon dioksida (CO2), dan oksigen (O2). Dari seluruh parameter yang dipantau, lonjakan paling signifikan ditemukan pada gas hidrogen.
"Nah, yang di tempat yang terbakar tadi di ruangan tadi itu yang ada spike langsung naik tinggi, itu adalah gas hidrogennya," kata Agung.
Agung menjelaskan gas hidrogen memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan gas lain. Pasalnya dapat menyala pada kondisi tertentu dengan energi pemicu yang sangat rendah.
Oleh sebab itu, tim kini mulai mempertimbangkan hidrogen sebagai salah satu kandidat utama penyebab kemunculan api di lokasi tersebut.
"Jadi suspeknya gasnya adalah gas hidrogen, kemungkinan," ujarnya.

Apakah Fenomena Alam Bisa Menjadi Pemicu?
Di tengah berbagai spekulasi yang berkembang, para peneliti menilai fenomena alam tetap menjadi salah satu kemungkinan yang perlu diuji secara ilmiah.
Meski kebakaran spontan tanpa campur tangan manusia tergolong jarang, kondisi tertentu dapat menciptakan lingkungan yang memungkinkan material mudah terbakar tersulut apabila terdapat sumber panas, gas mudah terbakar, dan kadar oksigen yang mendukung.
Temuan lapangan tim UGM menunjukkan adanya peningkatan konsentrasi gas hidrogen di salah satu ruangan yang menjadi lokasi kebakaran berulang.
Koordinator PKPE Fakultas Teknik UGM, Alva Edy Tontowi, menjelaskan salah satu hipotesis yang kini dikaji adalah kemungkinan terjadinya fenomena auto ignition atau spontaneous ignition.
Dalam kondisi tertentu, gas dapat menyala atau menimbulkan api sendiri ketika unsur-unsur yang diperlukan dalam proses pembakaran berada pada komposisi yang tepat.
"Gas yang bisa menyala sendiri. Dalam bahasa ilmiahnya salah satu terminologinya adalah auto ignition atau spontaneous ignition," tutur Alva.
Indikasi lonjakan gas hidrogen sempat ditemukan dalam lokasi saat sebuah baju tiba-tiba terbakar. Namun, para peneliti menegaskan bahwa keberadaan hidrogen belum otomatis menjelaskan seluruh rangkaian kebakaran yang terjadi.
Hingga kini, sumber pembentukan gas tersebut masih menjadi tanda tanya. Apakah berasal dari proses dekomposisi bahan organik, kondisi lingkungan tertentu, atau mekanisme lain yang belum teridentifikasi.
Basuki Rahmad, menyebut kebakaran yang awalnya terpusat di satu rumah kini dilaporkan meluas ke area sekitar.
"Yang unik bakarnya itu enggak di dalam rumah, yang kebakaran itu adalah bahan tripleks di luar rumah," ujar Basuki.
Temuan tersebut, menurut dia, memperkuat dugaan adanya gas metana dari bawah permukaan tanah yang keluar ke lingkungan sekitar. Basuki menjelaskan dugaan sementara mengarah pada gas metana yang berpotensi terakumulasi dalam kondisi tertentu.
"Gas metan itu CH4 ya, kalau CH4 tuh dia memang suka nempel pada molekul H2O. Seperti kelembapan, lembap, daerah yang lembap-lembap gitu, itu senang di situ," ungkapnya.
Sejauh ini dugaan adanya "anomali alam" masih berstatus hipotesis yang memerlukan pembuktian lebih lanjut melalui analisis sampel air, lingkungan, dan data lapangan lainnya.
Kebakaran yang Memicu Berbagai Spekulasi
Rentetan kebakaran yang belum terpecahkan itu dengan cepat memicu perbincangan luas di media sosial. Potongan video amatir, foto lokasi kejadian, hingga kesaksian warga menyebar dari satu platform ke platform lain.
Hal itu lantas memunculkan beragam teori yang kerap berkembang lebih cepat daripada hasil penyelidikan ilmiah.
Di tengah minimnya kepastian mengenai penyebab kebakaran, berbagai penjelasan bermunculan. Mulai dari dugaan fenomena mistis hingga kemungkinan adanya pelaku yang sengaja menyalakan api secara berulang.
Namun di tengah derasnya spekulasi tersebut, pemilik rumah, justru memilih menjauh dari penjelasan supranatural.
Alasannya sederhana. Kedatangan sejumlah pakar dari UGM, UPN "Veteran" Yogyakarta, dan instansi terkait melakukan penelitian langsung di lokasi, membuat Fia mengaku lebih tenang.
Ia melihat adanya upaya ilmiah untuk mengungkap penyebab kebakaran yang telah terjadi puluhan kali di rumahnya.
"Sudah lebih cerah, sudah lebih tenang tapi tetap harus waspada. Karena ini belum berakhir," kata Fia.
Fia menilai kehadiran para peneliti memberikan penjelasan yang lebih rasional terhadap peristiwa yang selama ini menjadi bahan perbincangan masyarakat dan kerap dikaitkan dengan hal-hal di luar nalar.
"Ini ternyata tidak ada kaitannya dengan mistis tapi memang ada (penjelasannya) dan bisa dipelajari secara ilmiah dan menunggu hasil dari prof (di laboratorium) mungkin beberapa hari lagi," ujarnya.
Masih Memburu Jawaban
Di tengah belum terungkapnya penyebab pasti rentetan kebakaran, aparat kepolisian bersama sejumlah instansi, termasuk para pakar terus melakukan penyelidikan di berbagai lokasi terdampak.
Langkah yang dilakukan meliputi pengumpulan keterangan saksi, pemetaan titik kejadian, pendokumentasian pola kemunculan api di sekitar lokasi untuk mencari kemungkinan adanya aktivitas mencurigakan sebelum kebakaran terjadi.
Berbagai pemeriksaan teknis turut dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab yang selama ini umum ditemukan pada kasus kebakaran rumah.
Berdasarkan hasil pengecekan awal yang dilakukan tim peneliti UGM dan PLN tidak ditemukan indikasi bahwa sistem kelistrikan menjadi pemicu munculnya api di lokasi yang diperiksa.
"Untuk pengaruh dari medan elektromagnetik saya kira saya sudah mengamati sekitar-sekitar ini tidak ada sumber yang besar gitu ya, baik itu tower ataupun berupa tegangan tinggi tidak ada," kata Dosen Teknik Elektro UGM, Iswandi.
Sehingga memang dugaan korsleting listrik untuk sementara belum didukung oleh temuan lapangan.
Hal itu diperkuat dengan hasil pengecekan oleh PLN melalui Tim Teknik UP3 Sleman pada Jumat (29/5/2026) lalu.
"Kami cek ke lokasi kejadian dan tidak ditemukan adanya kebocoran instalasi listrik. Tidak ada kerusakan listrik di lokasi yang menjadi penyebab percikan api," kata Manager PLN UP3 Sleman Ririn Harwati.
BPBD Sleman memilih fokus pada upaya mitigasi untuk mencegah kebakaran berkembang menjadi lebih besar. Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Bambang Kuntoro, meminta masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan.
Sebagai langkah antisipasi, BPBD bersama Dinas Pemadam Kebakaran telah menyiagakan peralatan darurat di lokasi terdampak.
"Teman-teman dari Damkar sudah menitipkan ada empat atau lima tabung APAR di sini untuk kedaruratan saat memang terjadi kebakaran yang mendadak tadi yang tidak terdeteksi," kata Bambang.
Selain itu, petugas pemadam kebakaran juga disiagakan secara on call agar dapat segera merespons jika muncul titik api baru.
Upaya mitigasi lain turut melibatkan masyarakat sekitar melalui ronda dan pemantauan lingkungan secara bergiliran. Bambang bilang unsur warga, Linmas, relawan kebencanaan, Redkar, hingga Tim Reaksi Cepat (TRC) ikut terlibat dalam pengawasan selama 24 jam.
Hingga kini, aparat dan tim peneliti masih bekerja mengumpulkan data sebelum dapat menarik kesimpulan yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.