- Presiden KSPSI Andi Gani memperingatkan bahwa kenaikan harga gas industri berpotensi memicu gelombang PHK besar di Indonesia.
- Sektor industri manufaktur seperti keramik dan sepatu mengalami penurunan produksi akibat mahalnya biaya energi serta menumpuknya stok barang.
- Andi Gani mendesak Menteri ESDM Bahlil Lahadalia segera mencari solusi kebijakan terkait harga gas agar sektor industri tetap bertahan.
Suara.com - Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nena Wea melontarkan peringatan serius terkait tingginya harga gas industri yang dinilai mulai menghantam sektor manufaktur dan berpotensi memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).
Di tengah kekhawatiran tersebut, Andi mengaku kesulitan menyampaikan langsung persoalan itu kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
Bahkan, menurutnya, bertemu Presiden Prabowo Subianto jauh lebih mudah dibandingkan menemui Menteri ESDM.
"Kami sudah mencoba bertemu Menteri ESDM, sampai hari ini kami merasa lebih mudah saya bertemu dengan Presiden Prabowo daripada bertemu Menteri ESDM. Ini lebih susah ketemu Bahlil," kata Andi di Jakarta, Minggu (7/6/2026).
Menurut Andi, persoalan harga gas industri tidak bisa lagi dianggap sebagai isu biasa. Sebab, dampaknya mulai dirasakan langsung oleh industri padat karya yang menjadi penopang jutaan tenaga kerja.
Andi menyebut biaya energi yang terus membengkak membuat banyak perusahaan kesulitan menjaga daya saing dan keberlangsungan produksi.
"Karena gas industri ini akan menyebabkan badai PHK yang luar biasa dalam waktu terdekat. Gas industri sudah tidak bisa tercapai, harganya sudah tidak masuk akal," katanya.
![Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Andi Gani Nena Wea. [Suara.com/Dea]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/27/40172-andi-gani.jpg)
Ia juga mengungkap, dampak kenaikan harga gas sudah mulai terlihat di sejumlah sektor manufaktur, terutama industri keramik dan industri sepatu.
Banyak produk yang tidak terserap pasar sehingga menumpuk di gudang perusahaan. Akibatnya, aktivitas produksi mulai dikurangi.
"Banyak barang produksi dari pabrik-pabrik industri keramik, industri sepatu, menumpuk di gudang," kata Andi.
Penurunan produksi tersebut, lanjut dia, mulai berimbas langsung kepada pekerja. Sejumlah perusahaan disebut mengurangi jam kerja karyawan karena kebutuhan produksi yang terus menurun.
"Dan akhirnya jam kerja para buruh ini menjadi dikurangi karena produksinya sudah tidak ada lagi, karena gasnya sudah tidak masuk akal lagi," tuturnya.
Karena itu, Andi mendesak Menteri ESDM segera turun tangan mencari solusi sebelum persoalan ini berkembang menjadi krisis ketenagakerjaan yang lebih besar.
Menurutnya, industri membutuhkan kepastian pasokan gas dengan harga yang terjangkau agar roda produksi tetap berjalan dan lapangan kerja tidak hilang.
"Saya meminta Menteri ESDM Bahlil Lahadalia agar segera mengambil kebijakan, keputusan tepat untuk segera gas industri ini diambil solusi permasalahannya," tegasnya.