Larangan Impor Sampah Plastik China Memperburuk Kualitas Udara di Indonesia, Bagaimana Bisa?

Bimo Aria Fundrika

Senin, 08 Juni 2026 | 16:30 WIB
Larangan Impor Sampah Plastik China Memperburuk Kualitas Udara di Indonesia, Bagaimana Bisa?
Potret Pembarakan Sampah di Lahan Pembuangan Terbuka (Pexels/Nurullah Siddique)

Suara.com - Ketika China menutup pintunya bagi impor sampah plastik dunia pada 2018, banyak pihak memandang kebijakan tersebut sebagai langkah besar untuk mengurangi pencemaran lingkungan di dalam negeri. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa dampaknya justru dirasakan oleh negara-negara lain, termasuk Indonesia.

Studi berjudul A Spatiotemporal, Quasi-Experimental Causal Inference Approach to Characterize the Effects of Global Plastic Waste Export and Burning on Air Quality Using Remotely Sensed Data menemukan bahwa pergeseran perdagangan limbah plastik global setelah kebijakan tersebut berkaitan dengan memburuknya kualitas udara di sejumlah negara Asia Tenggara.

Ketika China Menutup Pintu

Sebelum 2018, China menjadi tujuan utama ekspor limbah plastik dari berbagai negara maju, seperti Amerika Serikat, Jepang, Australia, dan Belanda. Kondisi ini berubah setelah pemerintah China menerapkan kebijakan National Sword, yang melarang masuknya sebagian besar limbah plastik dari luar negeri.

Akibatnya, arus perdagangan sampah global bergeser ke negara-negara berkembang yang masih menerima impor limbah, termasuk Indonesia, Malaysia, dan Vietnam.

Menurut peneliti utama studi tersebut, Ellen Considine dari Cooperative Institute for Research in Environmental Sciences (CIRES), University of Colorado Boulder, peningkatan impor limbah plastik ke negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah berpotensi meningkatkan praktik pembakaran sampah secara terbuka.

"Ketika negara-negara berpenghasilan tinggi mengirimkan sampah plastik ke negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, lebih banyak sampah plastik cenderung dibakar," ujar Considine.

Dari Sampah Plastik ke Polusi Udara

Masalahnya tidak berhenti pada penumpukan limbah. Di banyak negara berkembang, sistem pengelolaan sampah masih menghadapi berbagai keterbatasan, mulai dari kapasitas pengumpulan hingga fasilitas pengolahan.

baca juga

Akibatnya, sebagian limbah yang masuk berakhir di tempat pembuangan terbuka dan dibakar untuk mengurangi volume sampah.

Pembakaran plastik menghasilkan partikel halus dan berbagai zat berbahaya yang dapat mencemari udara. Partikel berukuran sangat kecil ini dapat masuk ke paru-paru bahkan menembus aliran darah manusia.

Menurut Considine, paparan polutan tersebut dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, mulai dari penyakit pernapasan hingga kanker.

"Hal ini melepaskan polutan udara yang dapat menyebabkan penyakit pernapasan, kanker, atau bahkan kematian bagi penduduk setempat," katanya.

Bukti dari Data Satelit

Untuk menguji hubungan antara impor limbah plastik dan kualitas udara, para peneliti menganalisis data satelit dari 365 lokasi pembuangan sampah terbuka di berbagai negara.

Mereka mengombinasikan metode statistik dengan data penginderaan jauh guna melihat perubahan kualitas udara sebelum dan sesudah kebijakan National Sword diterapkan.

Hasilnya menunjukkan bahwa aktivitas pembakaran sampah berkaitan dengan peningkatan konsentrasi partikel halus (fine particulate matter) sebesar 3,3 persen di sekitar lokasi pembuangan selama periode 2018–2019.

Temuan ini menunjukkan bahwa dampak perdagangan limbah plastik tidak hanya berhenti pada persoalan sampah, tetapi juga memengaruhi kualitas udara yang dihirup masyarakat.

Tantangan bagi Indonesia

Bagi Indonesia, hasil penelitian ini menjadi relevan karena negara ini termasuk salah satu tujuan impor limbah plastik setelah perubahan kebijakan di China.

Dalam beberapa tahun terakhir, kualitas udara di berbagai kota besar Indonesia juga menjadi sorotan. Data Air Quality Index (AQI) menunjukkan Indonesia masih menghadapi tingkat polusi udara yang cukup tinggi dibandingkan banyak negara lain.

Penelitian tersebut memperlihatkan bahwa persoalan sampah plastik dan polusi udara sebenarnya saling berkaitan. Ketika kapasitas pengelolaan limbah tidak mampu mengimbangi volume sampah yang masuk, pembakaran terbuka sering menjadi jalan pintas yang berdampak langsung pada kesehatan masyarakat.

Karena itu, para peneliti mendorong negara-negara penerima limbah untuk memperketat pengawasan impor sampah plastik dan memperkuat sistem pengelolaan limbah domestik.

Temuan ini juga menjadi pengingat bahwa perdagangan sampah global bukan sekadar isu lingkungan. Dampaknya dapat meluas hingga kualitas udara, kesehatan masyarakat, dan beban sosial yang harus ditanggung negara-negara penerima limbah. Dengan kata lain, ketika sampah berpindah lintas negara, risiko kesehatannya sering kali ikut berpindah pula.

Penulis: Natasha Suhendra

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Mikroplastik Ada di Makanan, Minuman, hingga Udara: Seberapa Besar Risikonya bagi Kesehatan?

Mikroplastik Ada di Makanan, Minuman, hingga Udara: Seberapa Besar Risikonya bagi Kesehatan?

Health | Senin, 08 Juni 2026 | 14:30 WIB

Tren Bawa Tumbler Makin Populer, Sudahkah Benar-Benar Ramah Lingkungan?

Tren Bawa Tumbler Makin Populer, Sudahkah Benar-Benar Ramah Lingkungan?

Your Say | Senin, 08 Juni 2026 | 12:18 WIB

Transisi Energi Diprediksi Membuka Banyak Lapangan Kerja, Apakah Generasi Muda Siap Mengisinya?

Transisi Energi Diprediksi Membuka Banyak Lapangan Kerja, Apakah Generasi Muda Siap Mengisinya?

Lifestyle | Senin, 08 Juni 2026 | 12:55 WIB

Terkini

Pertamax Berpotensi Tembus Rp20 Ribu! Pemerintah Harus Siapkan Mitigasi  Sebelum Terlambat

Pertamax Berpotensi Tembus Rp20 Ribu! Pemerintah Harus Siapkan Mitigasi Sebelum Terlambat

News | Selasa, 15 September 2026 | 23:46 WIB

1765 Pelari dari 15 Negara Ramaikan Tangkuban Perahu

1765 Pelari dari 15 Negara Ramaikan Tangkuban Perahu

Sport | Selasa, 15 September 2026 | 23:05 WIB

Peringatan Bahaya di Makkah dan Jeddah Usai Rentetan Serangan Rudal

Peringatan Bahaya di Makkah dan Jeddah Usai Rentetan Serangan Rudal

News | Selasa, 15 September 2026 | 22:59 WIB

YLBHI Kecam Pengiriman Anak Demonstran ke Barak Militer: Ini Preseden Berbahaya!

YLBHI Kecam Pengiriman Anak Demonstran ke Barak Militer: Ini Preseden Berbahaya!

News | Selasa, 15 September 2026 | 22:55 WIB

Mau Liburan ke Luar Negeri? BRI dan Golden Rama Kasih Diskon hingga Rp1 Juta!

Mau Liburan ke Luar Negeri? BRI dan Golden Rama Kasih Diskon hingga Rp1 Juta!

Bri | Selasa, 15 September 2026 | 22:45 WIB

Awas! Lima Titik Karhutla di Cianjur Terjadi Hampir Bersamaan

Awas! Lima Titik Karhutla di Cianjur Terjadi Hampir Bersamaan

Jabar | Selasa, 15 September 2026 | 22:35 WIB

Kronologi Lengkap Kasus ATR/BPN, Peran Fahd A Rafiq Diduga Jadi Pengepul Terakhir Uang Haram

Kronologi Lengkap Kasus ATR/BPN, Peran Fahd A Rafiq Diduga Jadi Pengepul Terakhir Uang Haram

News | Selasa, 15 September 2026 | 22:35 WIB

Gibran 'Blusukan' di Tengah Krisis: Ubah Citra Politik, Ambil Celah yang Luput dari Prabowo?

Gibran 'Blusukan' di Tengah Krisis: Ubah Citra Politik, Ambil Celah yang Luput dari Prabowo?

News | Selasa, 15 September 2026 | 22:31 WIB

Gibran Temui Korban Keracunan MBG di Karo, Akademisi Dorong Evaluasi Menyeluruh

Gibran Temui Korban Keracunan MBG di Karo, Akademisi Dorong Evaluasi Menyeluruh

Sumut | Selasa, 15 September 2026 | 22:29 WIB

Sopir Truk KM Virgo Transport 8 Belum Ditemukan, Istri di Tulungagung Setia Menunggu Kabar

Sopir Truk KM Virgo Transport 8 Belum Ditemukan, Istri di Tulungagung Setia Menunggu Kabar

Jatim | Selasa, 15 September 2026 | 22:21 WIB

×