- PT Pertamina resmi menaikkan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter di wilayah Jabodetabek sejak Selasa, 9 Juni 2026.
- Lonjakan harga BBM tersebut memicu antrean panjang pada pengisian Pertalite di berbagai SPBU wilayah Tangerang Selatan.
- Mahasiswa dan pengemudi ojek online beralih menggunakan Pertalite karena kenaikan harga Pertamax sangat membebani biaya operasional harian mereka.
Suara.com - Kenaikan mendadak harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax membuat banyak pengguna kendaraan roda dua mulai menghitung ulang pengeluaran hariannya.
Sebagian memilih bertahan, sebagian lainnya terpaksa turun kelas ke Pertalite demi menekan biaya operasional.
PT Pertamina (Persero) resmi menaikkan harga Pertamax pada Selasa (9/6/2026) malam. Untuk wilayah Jabodetabek, harga Pertamax melonjak Rp3.900 per liter, dari sebelumnya Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter.
Pantauan Suara.com di SPBU 34.15417 Jalan Siliwangi, Pamulang, Tangerang Selatan, Rabu (10/6/2026), antrean kendaraan terlihat mengular di jalur pengisian Pertalite.
Sementara pengendara yang mengisi Pertamax masih ada, tetapi jumlahnya jauh lebih sedikit dibanding biasanya.
Kenaikan harga yang mulai berlaku sekitar pukul 24.00 WIB itu langsung memicu keresahan, terutama di kalangan mahasiswa dan pengemudi ojek online yang menggantungkan mobilitasnya pada kendaraan bermotor.
Balik ke Pertalite
Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta, Zaidan Fakhir Heryani, mengaku selama ini selalu menggunakan Pertamax untuk sepeda motornya. Kendaraan itu dipakai untuk berangkat kuliah sekaligus mencari tambahan penghasilan sebagai pengemudi ojek online.
Namun, lonjakan harga yang terjadi membuatnya mulai mempertimbangkan pilihan lain.
"(Selalu) pakai Pertamax gue, tapi kalo udah tembus 16 ribu kayanya bakal Pertalite lagi," ujarnya.
Meski harus beralih bahan bakar, Zaidan mengaku tidak punya pilihan selain tetap bekerja sebagai pengemudi ojol.
"Enggak ada pilihan lagi. Kalau dihitung-hitung tetap rugi kalo pake Pertamax. Walaupun pakai Pertalite, servis rutinnya jadi lebih cepat," katanya mengeluh.

Keluhan serupa disampaikan pengemudi ojol asal Ciledug, R Ali Astijanto Joe Ponti. Menurutnya, tarif perjalanan yang diterima pengemudi saat ini tidak sebanding dengan kenaikan biaya operasional akibat mahalnya BBM.
"Kadang kita sendiri kebingungan bagaimana menutupi biaya operasional untuk bahan bakar," ujarnya.
Joe menilai kenaikan harga Pertamax sangat membebani pengemudi ojol yang mengandalkan kendaraan pribadi untuk mencari nafkah.