- Jakarta kini melakukan revitalisasi ruang publik dan trotoar untuk meningkatkan kenyamanan warga dalam berinteraksi sosial secara inklusif.
- Integrasi transportasi publik seperti MRT dan Transjakarta menciptakan pengalaman mobilitas baru serta mempermudah aksesibilitas masyarakat di ibu kota.
- Pembangunan fasilitas kota belum merata di seluruh wilayah, sehingga tantangan ketimpangan akses bagi warga pinggiran masih terus berlanjut.
Suara.com - Sabtu sore di Tebet Eco Park bukan lagi pemandangan yang istimewa. Warga Jakarta memadati jalur pejalan kaki yang membelah taman seluas 7,3 hektare itu.
Ibu-ibu mendorong stroller, pasangan muda berfoto di jembatan lengkung ikonik, sementara para lansia menikmati sore dari bangku kayu di tepi kolam. Tidak ada tiket masuk, tidak ada batasan kelas sosial.
Pemandangan serupa kini mudah ditemukan di Lapangan Banteng, Taman Literasi Martha Christina Tiahahu di Blok M, hingga trotoar Sudirman-Thamrin pada akhir pekan. Jakarta yang selama puluhan tahun identik dengan kemacetan, polusi, dan minimnya ruang publik perlahan menunjukkan wajah yang berbeda.
Transformasi itu tidak hanya terlihat dari bangunan baru atau taman yang lebih tertata, tetapi juga dari cara warga berinteraksi dengan kotanya.
Transportasi yang Menjadi Pengalaman
Sejak MRT Jakarta beroperasi penuh, muncul fenomena yang sebelumnya nyaris tidak dikenal di ibu kota: warga menggunakan transportasi publik bukan semata untuk berpindah tempat, melainkan untuk menikmati perjalanan.
Fenomena yang populer disebut city hopping ini membuat orang berpindah dari satu stasiun ke stasiun lain tanpa tujuan khusus, berjalan kaki di sekitar kawasan transit, lalu kembali pulang.
Perubahan tersebut menunjukkan relasi baru antara warga dan ruang kota.
Stasiun MRT kini tidak hanya berfungsi sebagai titik transit. Beberapa stasiun menghadirkan instalasi seni, ruang pamer temporer, hingga area publik yang mendorong aktivitas sosial. Integrasi dengan moda transportasi lain juga membuat pengalaman bepergian menjadi lebih nyaman dibandingkan beberapa tahun lalu.
Perubahan serupa terjadi pada layanan Transjakarta. Armada yang semakin modern, halte terintegrasi, dan sistem pembayaran nirsentuh membuat transportasi publik menjadi pilihan yang lebih menarik bagi masyarakat.
Data Transjakarta menunjukkan jutaan pelanggan telah memanfaatkan layanan menuju berbagai destinasi wisata seperti Monas, Ancol, dan Ragunan sepanjang Januari hingga Mei tahun ini. Sementara layanan bus wisata, mulai dari rute Sejarah Jakarta, Monas Explorer, hingga Pencakar Langit, juga mencatat puluhan ribu pengguna.
"Memang transportasi umum ini sangat penting," kata Rama, warga Tangerang Selatan yang sehari-hari menggunakan KRL, MRT, dan Transjakarta untuk beraktivitas.
Menurutnya, kemajuan juga terlihat dari aspek inklusivitas. Banyak halte dan stasiun kini telah dilengkapi lift, guiding block, serta fasilitas prioritas bagi penyandang disabilitas.
"Banyak yang sudah dilengkapi lift, guiding block, dan area prioritas," ujarnya.

Ruang Publik yang Mempertemukan Semua Orang