- Tim PKPE UGM menyimpulkan kebakaran di Sayegan, Sleman, bukan disebabkan oleh gas alam maupun fenomena terbakar sendiri.
- Peneliti menemukan residu PVC dan zat pelarut pada lokasi kejadian sebagai sumber pemicu kobaran api tersebut.
- Tim UGM tidak menemukan pemantik utama kebakaran dan menyerahkan hasil penelitian tersebut kepada pihak BPBD Sleman.
Meski demikian, tim UGM belum menyimpulkan apa pemantik utama yang menyebabkan sejumlah material di rumah itu terbakar.
Sarju menegaskan tim hanya berfokus pada pembuktian ilmiah terkait sumber api dan tidak melakukan penyelidikan lanjutan terkait penyebab pemantik.
"Pemantik mestinya ada karena kalau tidak dipantik dia nggak akan terbakar. Nah pemantiknya apa? ini akan ditelanjutkan oleh tim yang lain di BPBD," ucapnya.
Sarju menegaskan material yang mengandung resin PVC tidak dapat menyala sendiri seperti dugaan awal mengenai gas piroforik. Menurutnya, material tersebut tetap membutuhkan pemantik untuk terbakar.
"Kalau material yang mengandung resin nyala itu banyak kasusnya ya, berbagai jenis lem, cat, gitu ya pelarut-pelarut itu memungkinkan dia kalau seluruh pelarutnya terbakar menghasilkan residu itu. Tapi tidak bisa self-ignition (terbakar sendiri)," ujarnya.
Sementara itu, Koordinator Tim PKPE FT UGM, Alva Edy Tontowi, mengatakan berdasarkan teori segitiga api, kebakaran hanya dapat terjadi jika terdapat bahan bakar, panas, dan oksigen dalam satu titik.
Namun dari hasil pemeriksaan, medan elektromagnetik di rumah tersebut dinyatakan berada pada level normal.
"Ini sudah di seluruh rumah sudah dicek medan elektromagnetiknya di level normal," kata Alva.
Hasil penelitian itu sekaligus saran dan rekomendasi selanjutnya akan diserahkan kepada BPBD Sleman untuk ditindaklanjuti lebih lanjut.